Petani Milenial: Saatnya Anak Muda Melek Pertanian

Petikhasil.id, KAB BANDUNG – Selama ini, bertani sering dipandang sebelah mata oleh sebagian anak muda. Profesi ini dianggap kuno, kotor, dan kurang menjanjikan dibandingkan pekerjaan kantoran. Namun, kisah para petani milenial di Ciwidey membalik stigma tersebut. Dengan keberanian mencoba hal baru dan memanfaatkan teknologi, mereka berhasil membudidayakan melon premium Intanon RZ yang harganya bisa menyaingi, bahkan melampaui, gaji pegawai negeri.

Pertanian Bukan Lagi Pilihan Kelas Dua

Banyak orang tua berharap anaknya bekerja di kantor, menjadi PNS, atau berkarier di perusahaan besar. Namun, realita di lapangan menunjukkan bahwa dunia pertanian justru menyimpan peluang ekonomi yang luar biasa.

“Kadang gaji PNS juga kalah sama petani. Pertanian bisa jadi bisnis yang manis kalau kita tekun,” ujar Kang Fer, salah satu petani Ciwidey

Dengan harga jual melon premium Rp30.000/kg di tingkat petani dan Rp55.000/kg di pasar kota seperti Jogja, profesi petani kini terbukti bisa memberikan penghasilan yang stabil dan tinggi

Apa yang membuat generasi muda tertarik? Jawabannya ada pada pertanian modern. Di Ciwidey, para petani muda tidak lagi hanya mengandalkan cangkul dan pupuk kandang. Mereka menggunakan:

  • Greenhouse modern dengan cooling pad dan blower untuk mengatur suhu
  • Sistem fertigasi otomatis yang bisa mengatur pemberian air dan nutrisi hingga lima kali sehari.
  • Monitoring berbasis smartphone, sehingga kondisi tanaman bisa dipantau dari jarak jauh.
  • Wisata agro, di mana konsumen bisa datang langsung memetik melon, menambah nilai ekonomi sekaligus daya tarik anak muda.

Dengan teknologi ini, bertani terlihat lebih keren, modern, dan sejalan dengan gaya hidup digital generasi milenial.

Spirit Wirausaha Anak Muda

Melon premium di Ciwidey bukan sekadar produk pertanian, tapi juga produk wirausaha. Para petani muda membangun brand, menjual secara langsung ke pasar premium, bahkan memanfaatkan media sosial untuk promosi.

Semangat wirausaha ini membuat pertanian tidak lagi monoton. Ada ruang untuk inovasi, kreativitas, dan branding. Hal ini sejalan dengan jiwa generasi muda yang menyukai tantangan dan ingin mandiri secara finansial.

Tidak sedikit anak muda yang menganggap bertani itu penuh kegagalan. Yosep, petani muda dari Ciwidey, memang mengakui bahwa ia pernah gagal tiga kali sebelum berhasil menanam melon di ketinggian 1.200 mdpl

Namun, bagi Yosep, kegagalan justru menjadi bahan bakar semangat. Sama seperti startup yang sering gagal sebelum sukses, dunia pertanian pun butuh mental baja.

“Jangan takut gagal. Jangan putus asa. Konsisten dan sabar itu kuncinya. Pertanian bisa jadi bisnis yang manis,” katanya

Indonesia butuh regenerasi petani. Data menunjukkan rata-rata usia petani di Indonesia sudah semakin tua. Jika anak muda tidak tertarik, siapa yang akan melanjutkan tongkat estafet pertanian?

Petani milenial di Ciwidey membuktikan bahwa pertanian bisa keren dan menguntungkan. Kisah mereka diharapkan bisa menginspirasi generasi muda lain untuk ikut terjun ke dunia pertanian, bukan sekadar sebagai profesi, tetapi juga sebagai misi besar untuk menjaga masa depan pangan negeri.

Untuk melihat lebih dekat perjuangan petani milenial Ciwidey dalam mengembangkan melon premium, tonton episode Jejak Manis di Ketinggian: Green House Melon Ithanon Ciwidey di kanal YouTube Petik Hasil.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *