Petikhasil.id, BANDUNG – Perubahan iklim kini menjadi ancaman nyata bagi sektor pertanian. Curah hujan yang tidak menentu, suhu ekstrem, hingga kekeringan panjang membuat banyak lahan pertanian di Indonesia mengalami penurunan produktivitas. Namun di tengah situasi itu, hidroponik muncul sebagai salah satu solusi inovatif yang mampu menjaga produksi pangan tetap stabil bahkan dengan penggunaan air jauh lebih efisien.
Metode bercocok tanam tanpa tanah ini terbukti mampu menghemat air hingga 90 persen dibanding pertanian konvensional. Tak heran jika banyak petani dan pelaku urban farming mulai beralih ke sistem hidroponik untuk menghadapi tantangan iklim global.
Hidroponik bekerja dengan cara menyalurkan nutrisi langsung ke akar tanaman melalui air. Karena tidak menggunakan tanah, metode ini mengurangi risiko erosi dan penggunaan pestisida berlebihan. Air yang digunakan juga bisa disirkulasikan kembali, sehingga sangat efisien untuk daerah dengan pasokan air terbatas.
Selain hemat air, hidroponik juga bisa dilakukan di mana saja dari lahan sempit perkotaan, atap rumah, hingga dalam ruangan dengan lampu grow light. Fleksibilitas ini menjadikannya solusi ideal bagi masyarakat urban yang ingin tetap produktif dan ramah lingkungan.
Solusi untuk ketahanan pangan perkotaan
Krisis iklim bukan hanya soal cuaca ekstrem, tapi juga ancaman terhadap ketahanan pangan. Menurut laporan FAO (Food and Agriculture Organization), produksi pangan global berpotensi turun 10–20 persen pada 2050 jika tidak ada inovasi pertanian berkelanjutan.
Di Indonesia, beberapa daerah mulai mengadopsi sistem hidroponik untuk menjaga ketersediaan sayuran segar di wilayah padat penduduk.
Di Lembang, misalnya, ada Nabila Farm yang berfokus juga mengembangkan sistem tersebut.
Dampak ekonomi dan sosial
Selain ramah lingkungan, hidroponik juga memberikan dampak ekonomi positif. Dengan siklus tanam yang cepat (25–30 hari), hasil panen bisa dijual secara rutin ke restoran, pasar modern, atau melalui platform digital.
Kegiatan ini juga mulai melibatkan masyarakat sekitar, terutama ibu rumah tangga dan anak muda yang mencari penghasilan tambahan. Beberapa daerah seperti Bandung, Malang, dan Makassar bahkan mengembangkan desa hidroponik sebagai bagian dari program ekonomi hijau.
Baca lainnya: Modal di Bawah Rp500 Ribu, Begini Cara Memulai Usaha Hidroponik di Rumah | Belajar dari Nabila Farm: Inovasi Pertanian Hidroponik di Tengah Iklim yang Tidak Menentu
Di tengah ancaman krisis iklim global, hidroponik bukan sekadar alternatif, melainkan solusi nyata untuk masa depan pertanian. Efisien dalam penggunaan air, ramah lingkungan, dan mudah diadaptasi di kawasan perkotaan menjadikan metode ini kunci penting dalam menjaga ketahanan pangan Indonesia.
Dengan dukungan teknologi dan semangat generasi muda, pertanian hidroponik bisa menjadi simbol baru: bertani tanpa lahan luas, tapi berdampak besar bagi bumi.






