PetikHasil.id, SUKABUMI — Bagi Alwi Rahmatullah, menanam kurma bukan sekadar bisnis. Ia menyebutnya ibadah yang berbuah inovasi. Kurma, pohon yang disebut dalam kitab suci, baginya adalah simbol ketekunan, ilmu, dan masa depan pangan. Dari keyakinan itu, ia menata langkah dengan kesabaran panjang belajar lintas negara, merintis kebun di lembah Ciletuh, lalu berbagi pengetahuan kepada siapa pun yang ingin ikut menanam.
“Biji kurma yang selama ini kita makan, kita semai sendiri tumbuh. Dari situ ketertarikan muncul. Ternyata kurma bisa tumbuh di Indonesia,” katanya.
Perjalanan itu bukan jalan pintas. Alwi telah lebih dari sepuluh tahun mempelajari seluk-beluk budidaya kurma, dan lima tahun terakhir benar-benar menekuni kebunnya secara serius. Kini, Kebun Kurma Ciletuh yang ia kelola di Desa Mekarsakti, Kecamatan Ciemas, Sukabumi, sudah mencapai luas sekitar tujuh hektare. Enam warga lokal menjadi tenaga tetap, sementara mahasiswa, peneliti, hingga keluarga pelancong datang silih berganti untuk belajar, meski kebun itu belum resmi dibuka untuk umum.
Awal Keyakinan dan Langkah Belajar
Benih keyakinan Alwi muncul saat masih kuliah di Riau. Ia mengikuti kuliah umum bertema “kebun Al-Qur’an” dan mendengar bahwa di Thailand, tanaman kurma yang selama ini identik dengan gurun justru tumbuh subur di iklim tropis. Iklimnya mirip Indonesia, dan dari sanalah muncul logika sederhana yang kelak mengubah jalan hidupnya: kalau bisa tumbuh di Thailand, mengapa tidak di sini?
Alwi lalu bergabung dengan komunitas kecil, membentuk asosiasi, dan akhirnya terbang ke Thailand untuk belajar langsung dari para petani di sana. Dari negeri tetangga itu, ia memahami banyak hal yang tak tertulis di buku: pentingnya memilih bibit unggul, mengatur drainase agar air tak menggenang, menjaga paparan matahari penuh, serta menemukan lokasi yang memiliki kombinasi suhu ideal dingin untuk proses pembungaan dan panas untuk pematangan buah.
“Kurma butuh dingin saat berbunga, di bawah 20 derajat lebih baik. Tapi setelah berbunga, ia justru butuh panas untuk mematangkan buah,” ujarnya. Kondisi seperti itu, kata Alwi, ia temukan di lembah Ciletuh. Daerah ini dekat dengan laut dan dikelilingi bukit, membuat suhunya ekstrem di dua sisi lebih panas di musim kemarau, namun lebih dingin di musim hujan. Angin laut membawa garam yang ikut menyuburkan tanah, sementara hembusan kencang sesekali justru membantu memicu stres tanaman suatu kondisi alami yang membuat kurma lebih produktif. Ditambah lagi, Ciletuh bukan kawasan kelapa sehingga risiko hama kumbang tanduk dan kumbang merah jauh lebih rendah.
Berita Lainya: Satu Pohon Kurma Setara Satu Hektare Sawit, Potensi Ekonomi Baru dari Sukabumi | Kurma Barhi, Varietas Premium dari Basra yang Ditanam di Sukabumi
Menanam Ilmu dan Menyesuaikan Iklim
Varietas yang dipilih Alwi adalah Barhi, jenis kurma unggul untuk konsumsi segar yang berasal dari Basra, Irak. Pilihan ini bukan tanpa alasan. Dalam iklim tropis, proses pengeringan seperti di Timur Tengah tidak bisa maksimal karena kelembapan tinggi. Jenis Barhi justru manis ketika masih muda, sekitar 150 hari setelah penyerbukan, sehingga cocok dipanen segar. Selain itu, varietas ini juga diterima pasar internasional sehingga peluang ekspornya terbuka lebar. Dengan karakter manisnya yang kuat, Barhi menjadi jembatan antara cita rasa lokal dan permintaan global.
Alwi menjelaskan bahwa budidaya kurma tropis di Indonesia masih minim referensi ilmiah. Tidak ada profesor atau buku teks yang bisa dijadikan rujukan langsung. Karena itu, ia harus belajar dari pengalaman, mencoba, gagal, dan memperbaiki. “Banyak pahitnya dibanding manisnya,” ujarnya. “Yang penting bukan hanya menanam, tapi merawat. Itu yang susah.”
Di kebunnya, setiap proses dirancang dengan perhitungan matang. Bibit yang digunakan adalah hasil kultur jaringan dari luar negeri. Lahan digali sedalam satu meter, dicampur dengan kompos dan pupuk kandang hingga dua kuintal per lubang, lalu diberi sekam bakar, dolomit, dan cocopit untuk menjaga kelembapan serta pH tanah di kisaran 6 hingga 7. Media tanam ditinggikan sekitar 50 sentimeter agar akar tidak terendam air saat hujan. Sistem irigasi tetes otomatis juga dipasang di seluruh area, karena menurut Alwi, kunci utama menanam kurma adalah air. “Jangan kebalik,” katanya, “siapkan air dulu, baru menanam.”
Pemupukan dilakukan rutin setiap enam bulan dengan bahan organik seperti kotoran ayam atau kambing. Dolomit diberikan pada musim hujan untuk menetralkan pH tanah. Pemangkasan hanya dilakukan pada pelepah yang kering atau sakit, karena daun hijau yang masih sehat berperan penting memperbesar batang dan menyimpan energi tanaman. Untuk menghindari hama seperti kumbang tanduk dan kumbang merah, setiap batang diberi jaring pelindung dan pengawasan rutin. Penggunaan insektisida diminimalkan karena Alwi ingin kebunnya tetap ramah lingkungan.
Ekonomi Kurma yang Makin Rasional
Meski rumit dan mahal, prospek ekonomi kurma tropis cukup menjanjikan. Saat ini harga kurma segar Barhi di kebun bisa mencapai Rp300 ribu per kilogram. Dalam kondisi optimal, satu pohon berusia tujuh tahun mampu menghasilkan hingga 200 kilogram buah per tahun. Bahkan jika diambil setengahnya saja, nilai ekonominya sudah mencapai sekitar Rp30 juta per pohon. Dengan populasi sekitar 100 pohon per hektare, potensi pendapatan kotor mencapai miliaran rupiah per tahun, tentu dengan catatan biaya investasi yang tinggi untuk irigasi, pupuk, dan tenaga kerja terampil.
Karena itu, Alwi membuka peluang bagi mitra atau investor yang ingin menanam bersama. Ia sadar tidak semua orang bisa memulai dari nol, tapi dengan sistem yang sudah teruji, kemitraan menjadi cara cepat memperluas produksi tanpa kehilangan standar kualitas. “Kita bisa kerja sama. Tanamnya di sini, perawatannya bareng, hasilnya juga bisa dibagi,” ujarnya.
Panen Sepanjang Tahun dan Wisata Edukasi
Salah satu keunikan sistem yang dikembangkan Alwi adalah kalender panen yang saling menyambung antarwilayah. Di Medan, panen biasanya terjadi antara Februari hingga Juli. Di Ciletuh, puncak panen berlangsung sekitar Agustus hingga September, sementara kebun di Lombok menyambung pada awal tahun berikutnya. Dengan pola seperti ini, Indonesia bisa menghasilkan kurma segar hampir sepanjang tahun suatu keunggulan geografis yang tidak dimiliki negara mana pun di dunia.
Walau kebun belum dibuka resmi, antusiasme masyarakat terus meningkat. Setiap akhir pekan, ratusan pengunjung datang untuk melihat langsung pohon kurma tropis, bahkan ada yang dari Malaysia. Alwi kini menjadikan kebunnya sebagai ruang belajar terbuka bagi mahasiswa, peneliti, maupun petani muda yang ingin meneliti kurma. “Silakan riset,” ujarnya, “kami ingin ilmu ini berkembang, bukan hanya di kami, tapi untuk semua.”
Dari Ibadah ke Inovasi
Bagi Alwi, menanam kurma adalah bentuk ketaatan sekaligus kontribusi nyata pada masa depan. Ia yakin, perubahan iklim global kelak akan mengubah peta pangan dunia. Jika Timur Tengah semakin panas dan tidak lagi ramah bagi kurma, maka Indonesia dengan sinar matahari berlimpah dan tanah tropis yang subur bisa menjadi rumah baru bagi tanaman yang selama ribuan tahun menjadi pangan utama di gurun.
“Kalau bukan anak muda yang mulai, siapa lagi? Ini investasi seratus tahun ke depan,” ujarnya pelan.
Di kebun Ciletuh, kalimat itu bukan slogan. Ia hadir dalam kerja nyata enam warga lokal yang menanam dan merawat pohon-pohon Barhi, dalam disiplin irigasi yang rapi, dan dalam semangat berbagi ilmu kepada siapa pun yang datang. Dari lembah yang dulunya hanya dikenal karena wisata geopark, kini muncul harapan baru: kurma tropis sebagai lambang kemandirian pangan, ilmu yang membumi, dan ibadah yang tumbuh menjadi inovasi.***






