Petikhasil.id, SUKABUMI — Di balik rindangnya pohon kurma tropis di Celetuh, tersimpan teknologi yang membuatnya mampu bertahan di iklim lembap Indonesia. Kuncinya ada pada bibit kultur jaringan, sistem drip irrigation, dan pemupukan organik berbasis fermentasi lokal.
Menurut Alwi Rahmatullah, seluruh bibit kurma di kebunnya berasal dari tissue culture impor Inggris dan Iran. “Bibit kultur jaringan memastikan tanaman seragam, cepat berbuah, dan lebih tahan jamur,” jelasnya.
Lubang tanam dibuat sedalam satu meter, dicampur kompos, sekam bakar, dolomit, dan cocopit untuk menjaga kelembapan. Setiap tanaman disiram menggunakan sistem tetes otomatis agar air terserap langsung ke akar tanpa pemborosan.
Berita Lainya: Kurma Tumbuh di Tepi Samudra Jawa: Kebun 7 Hektare di Sukabumi Siap Jadi Wisata Edukasi | Kurma Barhi, Varietas Premium dari Basra yang Ditanam di Sukabumi
Teknologi irigasi ini juga menjadi solusi cerdas bagi petani yang menghadapi perubahan pola hujan ekstrem. Kementerian Pertanian RI mencatat, sejak 2022 lebih dari 3.200 hektare lahan hortikultura di Jawa Barat telah mengadopsi sistem irigasi tetes untuk efisiensi air hingga 40%.
Namun, tantangan tak kecil. Kurma rentan terhadap hama kumbang tanduk dan kumbang merah. Alwi mengatasinya dengan perangkap alami dan jaring pelindung batang. “Kalau terlalu banyak insektisida, buahnya bisa rusak. Jadi kami lebih pilih metode alami,” ujarnya, kepada Petik Hasil.
Dengan perawatan intensif dan perhitungan ilmiah, kurma Barhi di Celetuh kini bisa panen dalam waktu 150 hari lebih cepat 50 hari dibanding varietas kering Timur Tengah.
Hasilnya setara dengan tanaman bernilai tinggi lain. Satu hektare kebun bisa menghasilkan potensi pendapatan hingga Rp3 miliar per tahun, menyaingi produktivitas sawit.
“Pertanian masa depan bukan hanya yang bisa dimakan, tapi yang bisa memberi nilai tambah tinggi,” kata Alwi.






