Petikhasil.id, BANDUNG – Jawa Barat menghadapi kelangkaan pasokan bahan baku kakao di tengah pesatnya pertumbuhan industry olahan cokelat.
Hal tersebut disoroti oleh anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi PKS Komisi II, H. Budiwanto. Ia menekankan pemerintah provinsi jabar harus segera menangani persoalan kelangkaan bahan baku kakao melalui Dinar Perkebunan dan Biro Perekonomian Setda Jabar.
“Jawa Barat ini punya pabrik pengolahan cokelat besar seperti PT Papandayan Cocoa Industries, bagian dari Barry Callebaut Group, yang sudah beroperasi di Bandung dengan kapasitas lebih dari 70 ribu ton per tahun. Tapi mirisnya, bahan bakunya sebagian besar justru bukan dari Jawa Barat,” ujar Budiwanto.
Ia menjelaskan, dari total kebutuhan kakao nasional, sekitar 70 persen masih diimpor dari luar negeri, terutama dari negara-negara Afrika, sementara 30 persen berasal dari dalam negeri, yang didominasi dari Sulawesi dan Sumatera. Adapun kontribusi Jawa Barat terhadap produksi kakao nasional tidak lebih dari 3 persen.
Berita Lainya: Harga Biji Kakao Dunia Anjlok | RI Produsen Kakao Terbesar Ketujuh di Dunia
Menurutnya, kondisi ini menjadi peringatan penting bagi pemerintah daerah. “Kita jangan hanya jadi tempat industri berdiri, tapi tidak punya basis bahan baku. Kalau sektor hulu tidak diperkuat, maka nilai ekonomi terbesar akan lari ke luar daerah, bahkan ke luar negeri,” tegasnya.
Budiwanto menilai, krisis kakao ini justru bisa menjadi peluang besar jika ditangani serius. Ia mendorong agar pemerintah provinsi mendorong revitalisasi kebun kakao rakyat, memberikan pendampingan teknis kepada petani, serta menciptakan akses permodalan dan pasar bagi pelaku usaha muda di sektor perkebunan.
“Anak muda perlu dilibatkan. Kakao ini komoditas yang punya masa depan cerah, bukan hanya dari biji tapi juga dari produk turunannya. Kalau kita dorong hilirisasi, maka nilai tambah bisa dinikmati langsung oleh masyarakat Jawa Barat,” ujarnya.
Selain itu, lanjut Budiwanto, perlu ada sinergi antara dunia industri, akademisi, dan pemerintah daerah untuk memperkuat ekosistem kakao di Jawa Barat. “Kita sudah punya industri besar dan pasar yang luas. Tinggal kemauan politik dan konsistensi program di sektor perkebunan yang harus diperkuat,” pungkasnya.***






