Pelabuhan Kendur, Petani Cirebon Rasakan Gelombang Turun

PetikHasil.id, CIREBON — Penurunan tajam volume muat barang dan peti kemas di Pelabuhan Cirebon dan Pelabuhan Indramayu bukan hanya berpengaruh pada logistik laut semata. Sektor pertanian di kawasan Cirebon–Indramayu pun mulai terasa efeknya dari pasokan pupuk, distribusi hasil panen, hingga akses ekspor yang melambat.

Data dari BPS Jawa Barat menunjukkan bahwa pada September 2025, volume muat barang domestik hanya mencapai 92,74 ribu ton, turun 10,58 % dibanding Agustus dan anjlok 48,44 % dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Di Pelabuhan Indramayu, volume muat domestik turun dari 83,16 ribu ton (Agustus) ke 74,33 ribu ton (September) penurunan bulanan 10,62 % dan tahunan 53,32 %. Sementara itu, Pelabuhan Cirebon mencatat penurunan domestik dari 9,38 ribu ton ke 8,71 ribu ton (September) turun 7,13 % bulanan dan 22,88 % secara tahunan.

Mengapa Sektor Pertanian Terdampak?

Kawasan Cirebon–Indramayu dikenal sebagai wilayah agribisnis penting di Jawa Barat produksi padi, hortikultura dan pupuk sering menggunakan akses pelabuhan untuk distribusi. Contoh di Kabupaten Cirebon, menurut data Sensus Pertanian 2023, usaha pertanian perorangan untuk tanaman pangan menjadi bagian penting dari struktur ekonomi lokal.

Selain itu, publikasi produksi hortikultura buah dan sayur Kabupaten Cirebon tahun 2022 mencatat banyak komoditas yang harus melalui jalur transportasi distribusi yang melewati pelabuhan laut.

Dengan resiko seperti pelabuhan domestik yang melemah, para petani dan pelaku agribisnis di wilayah ini bisa menghadapi gangguan distribusi bahan baku, kesulitan menembus pasar, dan meningkatnya biaya logistik.

Suara dari Lapangan: Petani dan Distributor Keluhkan Tekanan

“Saya petani bawang merah di Losari, Cirebon. Biasanya pupuk dan benih datang lewat pelabuhan laut, sekarang pengirimannya jadi lebih lama dan biaya naik,” ujar Heri (45), petani bawang merah. Dia menyebut bahwa aktivitas pelabuhan yang melambat membuat rantai distribusi di tingkat petani jadi lebih rentan terhadap kenaikan harga dan ketidakpastian pasokan.

Sementara itu, distributor sayur dari daerah Ciledug menjelaskan “Dulu barang bisa diangkut lewat laut atau sungai ke pelabuhan Cirebon, sekarang sebagian logistik bergeser ke jalur darat atau ke pelabuhan lain seperti Pelabuhan Patimban,” katanya. Peralihan ini memicu biaya yang lebih tinggi dan waktu pengiriman yang lebih lama.

Tantangan dan Peluang di Tengah Turunnya Muatan Domestik

Turunnya muatan domestik di pelabuhan mencerminkan dua hal: menurunnya permintaan domestik dan pergeseran jalur logistik ke pelabuhan yang lebih modern. Untuk sektor pertanian di Cirebon, ini menyiratkan kebutuhan mendesak untuk:

  • Memperkuat akses darat atau alternatif pengiriman agar tidak bergantung satu jalur pelabuhan.
  • Meningkatkan nilai tambah produk pertanian sehingga distribusi lewat laut bukan satu-satunya jalan.
  • Mengoptimalkan ekspor agribisnis karena jalur internasional melalui pelabuhan Indramayu justru naik kumulatif 13,58 %.

Ketika pelabuhan di pesisir melambat, efeknya tidak hanya terasa oleh kapal dan kontainer tetapi oleh petani yang menunggu benih, petani yang mengirim hasil panen, dan keluarga yang menggantungkan harapan pada distribusi yang lancar. Kawasan Cirebon–Indramayu punya potensi agribisnis besar, namun di tengah arus logistik yang bergeser, kemandirian rantai pasokan lokal menjadi semakin penting.

Karena hasil bumi tidak menunggu laut, tetapi laut pun tidak boleh membuat hasil bumi tertahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *