Petani Cirebon Pilih Pupuk Organik, Kenapa?

Petikhasil.id, CIREBON- Beberapa petani di Kabupaten Cirebon memilih tetap menggunakan pupuk organik meskipun pemerintah menurunkan harga eceran tertinggi (HET) pupuk bersubsidi. 

Keputusan ini diambil karena mereka menilai pupuk organik lebih mudah diperoleh, murah, dan memberikan dampak positif terhadap kesuburan tanah dalam jangka panjang.

Selama beberapa tahun terakhir, keterbatasan pupuk bersubsidi menjadi masalah klasik di Cirebon. Setiap musim tanam, permintaan petani selalu jauh lebih tinggi dibandingkan kuota yang ditetapkan pemerintah. 

Kondisi ini menyebabkan rebutan dalam distribusi, bahkan sebagian petani harus membeli pupuk nonsubsidi dengan harga hingga dua kali lipat dari harga subsidi.

“Setiap musim tanam kami kesulitan mendapat pupuk subsidi. Jatah yang diterima tidak mencukupi kebutuhan seluruh lahan,” ujar Usman, petani di Kecamatan Plered, Sabtu (2/11/2025). 

Menurutnya, kondisi tersebut membuat biaya produksi meningkat tajam, sementara harga hasil panen tidak selalu menutupi pengeluaran.

Menghadapi situasi itu, sejumlah petani mulai beralih ke pupuk organik. Mereka memanfaatkan bahan alami seperti kotoran ternak, kompos, dan sisa tanaman untuk diolah menjadi pupuk yang lebih ramah lingkungan. 

Bahan baku yang mudah ditemukan di sekitar area pertanian membuat biaya produksi menurun, sekaligus mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.

“Awalnya kami ragu hasilnya akan bagus, tapi setelah mencoba beberapa musim tanam, ternyata tanaman tumbuh lebih sehat dan tanahnya kembali gembur,” kata Usman.

Dia menambahkan, penggunaan pupuk organik membuat struktur tanah yang sebelumnya keras akibat pemakaian pupuk kimia mulai membaik, sehingga penyerapan air dan nutrisi menjadi lebih optimal.

Secara ekonomi, pupuk organik memberikan keuntungan karena biaya pembuatannya relatif rendah. Petani dapat memproduksi sendiri tanpa perlu menunggu distribusi dari kios resmi atau agen pemerintah. 

Hal ini juga membuka peluang usaha baru bagi kelompok tani di beberapa desa yang mulai memproduksi pupuk organik dalam skala lebih besar.

Baca Lainya: Mentan Atasi Persoalan Pupuk Bersubsidi | Produksi Padi Jabar Naik 18,6%

Kelompok tani di wilayah timur Cirebon, misalnya, kini mulai menjual pupuk organik ke daerah tetangga. Langkah ini tidak hanya memperkuat kemandirian petani, tetapi juga mendorong terbentuknya ekonomi sirkular di sektor pertanian desa.

“Kami sekarang bisa menjual ke petani lain, hasilnya lumayan untuk tambahan modal,” ujar salah satu anggota kelompok tani.

Namun, peralihan ke pupuk organik tidak selalu berjalan mulus. Proses pembuatannya memerlukan waktu lebih lama, sementara hasilnya tidak langsung terlihat seperti pupuk kimia. Selain itu, masih ada kendala dalam hal edukasi dan pendampingan teknis bagi petani yang baru mulai beralih.

“Kalau pakai pupuk kimia, hasil cepat terlihat. Tapi pupuk organik butuh kesabaran. Kami harus memahami cara pembuatannya dan dosis yang tepat,” tutur Usman.

Petani berharap pemerintah daerah dan instansi terkait dapat memperkuat dukungan terhadap program pertanian organik. Bentuk dukungan yang diinginkan antara lain pelatihan pembuatan pupuk organik, bantuan alat fermentasi, serta kebijakan insentif bagi petani yang konsisten menerapkan praktik ramah lingkungan.

Meski pemerintah menurunkan HET pupuk bersubsidi, sebagian petani Cirebon memilih tidak lagi bergantung pada program tersebut. 

Mereka menilai, kemandirian dalam mengelola sumber daya lokal menjadi kunci keberlanjutan pertanian ke depan, bukan hanya soal harga pupuk, tetapi juga tentang menjaga kelestarian tanah dan keseimbangan ekosistem pertanian.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *