Petikhasil.id, GARUT- Kabupaten Garut menempati posisi penting dalam peta pangan Jawa Barat. Dengan kontribusi mencapai 51,75% terhadap total produksi jagung provinsi, wilayah ini ditetapkan sebagai salah satu sentra jagung utama di Jawa Barat.
Namun, di balik angka yang impresif itu, terdapat persoalan klasik: nilai tambah dari komoditas strategis ini belum tinggal di Garut.
Data Dinas Pertanian dan Bappeda Kabupaten Garut tahun 2024 menunjukkan, sebagian besar sentra jagung berada di wilayah tengah hingga utara seperti Limbangan, Karangpawitan, Banyuresmi, Caringin, Leles, dan Kadungora.
Kondisi agroklimat yang cocok serta daya simpan tinggi menjadikan jagung sebagai salah satu komoditas paling stabil di kabupaten tersebut.
Produktivitas jagung di Garut juga tergolong tinggi. Berdasarkan data Opendata Jabar 2025, rata-rata produktivitas mencapai 8,17 ton per hektare. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang masih berkisar di 5,5 ton per hektare.
Namun, capaian tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan petani.
Ketergantungan pada Pengepul
Masalah utama terletak pada rantai tata niaga. Petani di Garut pada umumnya menjual hasil panennya kepada pengepul. Hubungan mereka bukan semata urusan jual beli, melainkan terikat dalam sistem permodalan.
Berita Lainya: Bapanas Sebut Bulog Telah Serap Jagung 16.000Ton dalam Sebulan | Proyeksi Produksi Jagung Pipilan Kering hingga November 2025 Naik 8,47%
Sebagian besar petani memperoleh modal tanam dari pengepul di awal musim, dan sebagai imbalannya, mereka wajib menjual hasil panen dengan harga yang telah ditentukan—sering kali di bawah harga pasar.
“Petani kita masih bergantung pada pengepul karena tidak memiliki akses langsung ke industri atau lembaga keuangan yang mau menalangi biaya tanam,” kata Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin.
Akibat sistem itu, posisi tawar petani menjadi lemah. Harga jagung di tingkat petani sering kali hanya cukup untuk menutupi biaya produksi, tanpa ruang keuntungan yang memadai. Pengepul kemudian menjual jagung ke industri besar di luar daerah dengan margin yang jauh lebih tinggi.
Nilai Tambah ke Luar Garut
Hingga kini, tidak ada satu pun pabrik besar pengolahan jagung atau pakan ternak yang berdiri di Garut. Seluruh hasil panen dikirim ke luar daerah, antara lain ke PT Harim, PT Ojin di Brebes, PT Mustika di Tegal, dan PT Charoen Pokphand Indonesia di Banten.
Kondisi ini menjadikan Garut hanya berperan sebagai penyedia bahan baku mentah. Sementara, lapangan kerja bernilai tambah seperti pengeringan, penggilingan, dan formulasi pakan ternak justru diciptakan di luar wilayah.
“Secara ekonomi, Garut kehilangan multiplier effect dari sektor jagung. Jika satu pabrik pakan dibangun di Garut, nilai ekonomi jagung bisa meningkat dua sampai tiga kali lipat dari posisi sekarang,” ujarnya.
Meski stabil dari sisi produksi, budidaya jagung di Garut masih menghadapi sejumlah kendala teknis. Lahan tanam sebagian besar berupa lahan kering yang sangat bergantung pada curah hujan.
Lebih dari 80% varietas yang ditanam adalah jenis hibrida, yang menuntut biaya benih tinggi dan pasokan dari pasar bebas.
Selain itu, sebagian besar petani belum memiliki alat pengering yang memadai. Kadar air jagung pascapanen sering kali melebihi standar industri yang mensyaratkan sekitar 14%. Akibatnya, hasil panen kerap dihargai lebih rendah oleh pengepul.
“Di musim hujan, kadar air bisa naik sampai 18%. Tanpa pengering mekanis, petani terpaksa menjual cepat karena takut busuk,” ujar salah satu petani di Karangpawitan.
Tren produktivitas menunjukkan fluktuasi yang cukup signifikan. Tahun 2016, produksi jagung Garut tercatat mencapai 768.744 ton dengan luas lahan 86.025 hektare.
Namun pada 2019, angka itu turun tajam menjadi 519.446 ton akibat penyusutan lahan dan perubahan iklim. Baru pada 2022, produksi kembali menanjak ke level 603.018 ton.
Potensi Investasi Pabrik Pengolahan
Melihat struktur ekonomi yang masih berat di hulu, Pemerintah Kabupaten Garut kini tengah mendorong hadirnya investor industri pengolahan jagung di wilayahnya. Pabrik pengeringan dan pakan ternak dinilai menjadi solusi paling realistis untuk menjaga stabilitas harga di tingkat petani.
Pemerintah daerah mengklaim telah menyiapkan sejumlah lokasi potensial di kawasan Limbangan dan Kadungora yang memiliki akses logistik memadai.
“Kami membuka peluang investasi untuk pabrik pengolahan jagung. Dengan begitu, petani tidak lagi menjual bahan mentah dan bisa menikmati nilai tambahnya,” ujar Syakur.
Menurutnya, jika langkah tersebut terwujud, Garut berpotensi bertransformasi dari sekadar sentra produksi menjadi pusat agribisnis jagung terpadu di Jawa Barat. Namun hingga kini, realisasi investasi masih menunggu kepastian kebijakan dan kesiapan infrastruktur.
“Selama belum ada industri pengolahan di tingkat lokal, Garut tetap akan menjadi lumbung jagung tanpa industri, di mana petani menanam dan memanen, tetapi keuntungan sesungguhnya masih mengalir keluar daerah,” katanya.***






