Hidroponik Bandung yang Membangunkan Mimpi di Lahan Tiga Meter

Petikhasil.id, BANDUNG — Di sebuah gang sempit di kawasan Antapani, Bandung, berdiri rak-rak pipa putih yang disulap menjadi kebun mini. Bayam hijau melingkar rapat, pakcoy berdiri tegak seperti barisan murid SD upacara, sementara selada hijau tampak lebih segar dari versi yang dijual di swalayan. Tak ada tanah, tak ada lumpur, tak ada cangkul. Yang ada hanya suara gemericik air nutrisi yang mengalir seperti sungai kecil yang sangat teratur.

Inilah wajah baru pertanian kota gaya bertani yang muncul dari sempitnya lahan, padatnya rumah, dan kebutuhan masyarakat yang ingin makan lebih sehat tanpa harus punya sawah.

Kiki, 28 tahun, petani hidroponik yang memulai semuanya dari balkon kos seluas dua langkah, tertawa saat mengenang masa awal mencoba hidroponik. “Dulu saya kira hidroponik itu cuma untuk orang kaya yang halamannya luas. Ternyata saya salah. Yang saya butuhkan waktu itu cuma pipa bekas, ember cat, dan rasa iseng yang agak kebablasan,” ujarnya sambil memeriksa pH larutan nutrisi.

Kebun kecil Kiki kini menghasilkan 40–60 kilogram sayuran per minggu, sebagian besar selada butterhead yang jadi primadona restoran burger di Bandung. “Orang pikir hidroponik itu ribet. Padahal kalau sistemnya sudah berjalan, tanaman itu tumbuh seperti anak-anak yang jarang minta jajan. Cukup kasih makan, cukup kasih cahaya.”

Berita Lainya: Hemat Air hingga 90 Persen, Hidroponik Jadi Solusi Pertanian di Tengah Krisis Iklim | Modal di Bawah Rp500 Ribu, Begini Cara Memulai Usaha Hidroponik di Rumah

Fenomena ini bukan sekadar tren. Data BPS 2024 mencatat produksi sayuran daun di wilayah Bandung Raya naik 7,1 persen, sebagian besar didorong oleh rumah tangga urban yang mulai membangun instalasi hidroponik kecil. Pemerintah Kota Bandung bahkan mencatat lebih dari 1.500 kelompok urban farming aktif dari atap sekolah, halaman masjid, hingga balkon rumah kontrakan.

Hidroponik di kota tumbuh bukan semata karena gaya hidup, tetapi karena kebutuhan. Harga selada hidroponik di pasar modern bisa mencapai Rp 30.000–40.000 per kilogram. Sementara biaya produksinya, jika dikelola efisien, hanya berkisar Rp 8.000–12.000. Margin seperti ini membuat banyak anak muda mulai serius.

Namun hal yang paling menarik sebenarnya bukan angka keuntungan, tetapi kisah manusia di baliknya. Seperti Asep (42), mantan sopir ojek offline yang kehilangan pendapatan setelah pandemi. Ia belajar hidroponik dari video YouTube, gagal berkali-kali, hingga akhirnya berhasil menjual sayuran pertama ke warung bakso dekat rumah. “Hari itu, saya merasa lebih bangga daripada waktu pertama kali punya motor kredit,” katanya sambil tertawa.

Karena hidroponik, Asep kini memiliki 1.200 lubang tanam, bekerja sama dengan tetangga untuk distribusi sayuran ke pasar Cihaurgeulis. “Yang penting sayuran panen setiap hari. Pasar itu senang kalau kita konsisten,” ujarnya, kepada Petik Hasil.

Di Kota, Air Menggantikan Tanah

Hidroponik adalah seni membuat tanaman tetap bahagia tanpa tanah. Air nutrisi mengalir, akar menggantung, cahaya terukur, dan tanaman tumbuh tanpa harus melawan gulma.

Di Bandung, sistem paling populer adalah NFT (Nutrient Film Technique) yang menggunakan pipa kecil miring sehingga air bergerak tipis. Tingkat keberhasilannya tinggi, cocok untuk pemula, dan bisa dipasang di dinding rumah yang bahkan tidak muat jemuran.

Berita Lainya: Hemat Air hingga 90 Persen, Hidroponik Jadi Solusi Pertanian di Tengah Krisis Iklim | Modal di Bawah Rp500 Ribu, Begini Cara Memulai Usaha Hidroponik di Rumah

Lembang lain cerita. Petani di sana mengembangkan hidroponik skala menengah dengan greenhouse tertutup, memanfaatkan suhu yang lebih dingin. Mereka memasok supermarket besar di Bandung dan Jakarta. Menurut data Kementan, lebih dari 32 persen selada romaine yang dijual di ritel modern Jawa Barat kini berasal dari hidroponik dataran tinggi Lembang dan Parongpong.

Sementara itu di Bogor dan Sukabumi, kebun hidroponik berkembang karena pertumbuhan komunitas pecinta tanaman. Banyak pekerja kantoran yang memulai dari hobi lalu berubah menjadi usaha kecil. Beberapa bahkan membuka kelas akhir pekan untuk warga. “Kalau tanaman tumbuh, itu rasanya kayak lihat anak naik kelas,” ujar Dina, petani hidroponik di Sukabumi.

Humor Kecil dari Dunia Tanpa Tanah

Bertani hidroponik memang modern, tapi tetap saja penuh kejutan. Kiki bercerita sambil tertawa, “Selada saya pernah hilang satu baris. Saya pikir nutrisi kurang, ternyata tetangga saya ambil buat foto-foto Instagram. Katanya biar aesthetic.”

Di Lembang, seorang petani mengaku pernah dimarahi pelanggan karena seladanya terlalu bersih. “Katanya enggak natural karena enggak ada tanahnya,” ujarnya sambil menggeleng.

Humor-humor kecil ini menunjukkan satu hal: hidroponik membuat sayuran mendadak menjadi dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat kota. Ada rasa bangga ketika orang bisa memanen sayur dari halaman sendiri. Ada rasa ingin tahu yang membuat anak-anak sekolah antusias mempelajari bagaimana akar bisa tumbuh di air.

Pada akhirnya, hidroponik bukan hanya soal menanam di lahan sempit. Ia adalah bentuk baru hubungan manusia dengan pangan lebih sadar, lebih dekat, dan lebih personal. Di kota sebesar Bandung, hidroponik memberikan ruang bagi masyarakat untuk menjadi produsen, bukan hanya konsumen. Ruang kecil yang tumbuh menjadi gerakan besar. (Vry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *