Petikhasil.id, BANDUNG — Luas panen padi dan jagung di Jawa Barat terus meningkat. Hal itu tergambar dalam data 2025 jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Ketua Tim Statistik Distribusi BPS Jawa Barat Ninik Anisah menjelaskan, produksi padi dihitung dengan metode yang menintegrasikan dua sistem pengumpulan data yaitu survei kerangka sampel area (KSA) yang menghasilkan luas panen dan survei ubinan yang menghasilkan produktivitas padi.
Berdasarkan Keputusan Menteri ATR/Kepala BPN No,446.1/SK-PG.03.03?V/2024 tentang penetapan luas lahan baku sawah nasional menetapkan bahwa lahan baku sawah (LBS) seluas 916.798 hektare.
Kabupaten Indramayu menjadi daerah dengan LBS terluas yaitu seluas 126.088 hektare. Sedangkan Kota Depok memiliki luas baku sawah paling kecil di Jawa Barat dengan luasan sebesar 40 hektare.
Baca Lainya: Pemerintah Berpotensi Tekan Hasil Panen Padi Tahun Depan | Produksi Padi Indramayu Mencapai 1,63 Juta Ton di 2025
“Luas panen padi Jawa Barat berdasarkan angka tetap tahun 2025 yang didapat dari hasil Survei KSA tahun 2025 mencapai 1,76 juta hektare. Luas panen tahun 2025 mengalami peningkatan sebanyak 0,28 juta hektare atau 18,97% dibandingkan luas panen padi pada tahun 2024 yang sebesar 1,48 juta hektare,” ujar Ninik.
Ia menjelaskan luas panen yang dihasilkan setiap subround mengalami peningkatan pada periode 2025 dibandingkan 2024.
Peningkatan luas panen terbesar terjadi pada Subround 1 yang meningkat sebesar 38,54% atau 0,16 juta hektare dibandingkan Subround 1 Tahun 2024.
Sedangkan pada Subround 2, peningkatan luas panen terjadi sebesar 10,72% atau 0,06 juta hektare dibandingkan periode yang sama di Tahun 2024. Kemudian pada Subround 3, peningkatan yang terjadi sebesar 12,26% atau 0,05 juta hektare dibandingkan Subround 3 Tahun 2024.
Potensi luas panen padi selama bulan Januari – Maret 2026, didapat dari hasil amatan fase tanaman padi hasil Survei KSA pada bulan Desember 2025.
“Diperkirakan potensi luas panen padi Jawa Barat selama bulan Januari – Maret 2026 mencapai 0,42 juta hektare sehingga mengalami peningkatan sebesar 0,07 juta hektare atau 20,89% jika kita bandingkan dengan realisasi luas panen bulan Januari – Maret 2025 sebesar 0,35 juta hektare,” ungkapnya.
Berdasarkan angka tetap 2025, produksi padi di Jawa Barat sebesar 10,23 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) mengalami peningkatan 1,60 juta ton atau 18,54% dibandingkan tahun sebelumnya sebagai dampak dari peningkatan luas panen yang terjadi.
“Produksi padi mengalami peningkatan disetiap periode Subround dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan produksi padi pada Subround 1 sebesar 37,19% atau 0,90 juta ton. Kemudian di Subround 2 sebesar 11,34% atau 0,38 juta ton. Dan terakhir di Subround 3, peningkatan yang terjadi sebesar 11,05% atau 0,31 juta ton,” ujar Ninik.
Sementara itu, potensi produksi padi Jawa Barat selama periode bulan Januari – Maret 2026 diperkirakan mencapai 2,48 juta ton, atau diperkirakan mengalami peningkatan sebesar 0,45 juta ton atau 22,32% dibandingkan tahun 2025 yang mencapai 2,03 juta ton.
“Berdasarkan angka tetap 2025, produksi beras di Jawa Barat sebesar 5,91 juta ton beras dimana mengalami peningkatan 0,92 juta ton atau 18,54% dibandingkan tahun sebelumnya sebagai dampak dari peningkatan lproduksi padi yang terjadi,” lanjut Ninik.
Masih dari penghitungan angka tetap, produksi padi mengalami peningkatan disetiap periode Subround dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan produksi padi pada Subround 1 sebesar 37,19% atau 0,52 juta ton.
Kemudian di Subround 2 sebesar 11,34% atau 0,23 juta ton. Dan terakhir di Subround 3, peningkatan yang terjadi sebesar 11,05% atau 0,18 juta ton.
“Potensi produksi beras Jawa Barat selama periode Januari – Maret 2026 diperkirakan mencapai 1,43 juta ton atau diperkirakan mengalami peningkatan sebesar 0,26 juta ton (22,32 persen) dibandingkan tahun 2025 yang mencapai 1,17 juta ton,” jelasnya.
Berdasarkan hasil survei KSA jagung, perkiraan luas panen jagung pipilan pada 2025 mencapai 108,67 ribu hektare atau mengalami peningkatan sebesar 30,67 ribu hektaree (39,33%) dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 77,99 ribu hektare.
“Puncak panen jagung pipilan pada 2025 terjadi pada bulan Maret, dengan luas panen sebesar 16,32 ribu hektare. Sama halnya dengan puncak panen pada 2024 yang terjadi di bulan Maret, dengan luas panen sebesar 15,31 ribu hektare,” ujar Ninik Anisah.
Adapun, luas panen Januari-Maret 2026 diperkirakan mencapai 42,60 ribu hektaree atau mengalami peningkatan sebesar 2,18 ribu hektare (5,39%) dibandingkan dengan kondisi Januari-Maret 2025.
Luas panen Jagung pada Januari-Maret 2026 adalah angka potensi berdasarkan hasil KSA Jagung bulan Desember 2025 dengan asumsi seluruh standing crop dipanen dalam bentuk pipilan.
Baca Lainya: Pemerintah Berpotensi Tekan Hasil Panen Padi Tahun Depan | Produksi Padi Indramayu Mencapai 1,63 Juta Ton di 2025
“Jika produksi Jagung Pipilan Kering Kadar Air 28 persen (JPK-KA 28%) dikonversikan ke jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen (JPK-KA 14%), produksi JPK-KA 14 persen sepanjang Januari hingga Desember 2025 (angka tetap) mencapai 794,82 ribu ton, atau mengalami kenaikan sebesar 230,52 ribu ton (40,85%) dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 564,29 ribu ton,” rinci Ninik.
Produksi JPK-KA 14 persen tertinggi pada 2025 terjadi di bulan Maret yaitu sebesar 128,03 ribu ton, sama halnya pada 2024 yang terjadi di bulan Maret yaitu sebesar 116,25 ribu ton.
Produksi jagung pipilan kering kadar air 14% pada bulan Januari – Maret 2026 diperkirakan mencapai 330,96 ribu ton, atau mengalami peningkatan sebesar 25,60 ribu ton (8,38%) dibandingkan kondisi Januari – Maret 2025 yang sebesar 305,36 ribu ton.
“Angka produksi jagung Januari–Maret 2026 (JPK-KA 14%) merupakan angka sementara karena menggunakan angka potensi luas panen (Januari-Maret 2026) dan menggunakan rata-rata produktivitas SR I 2024-2025,” pungkas Ninik.






