Petikhasil.id, SUBANG— Selama ini cengkeh hampir selalu dibicarakan dari satu sisi. Bunganya dipetik, dikeringkan, lalu dijual. Setelah itu kebun seperti menunggu waktu, menanti musim berikutnya. Cara pandang inilah yang sejak lama dirasakan Ruslan, petani sereh wangi di Subang, sebagai potensi yang belum selesai dibaca. Di kebunnya, cengkeh tidak pernah benar benar berhenti bekerja.
Ruslan menyampaikan kepada Petik Hasil bahwa cengkeh adalah tanaman yang nyaris tidak menyisakan bagian sia sia. Menurutnya, bukan hanya bunga yang bernilai. Daun yang gugur, ranting hasil pemangkasan, hingga batang muda yang biasanya dibiarkan, semuanya menyimpan minyak. “Selama ini orang taunya cengkeh itu panennya setahun sekali. Padahal daunnya ada terus,” ujarnya.
Pengalaman Ruslan sebagai petani sereh wangi membuatnya terbiasa melihat tanaman secara utuh. Ia terbiasa menghitung bukan hanya panen utama, tetapi juga sisa proses. Ketika melihat kebun cengkeh di sekitarnya, ia melihat pola yang mirip. Banyak bahan tersedia, tetapi tidak dimanfaatkan. Daun menumpuk di tanah, ranting dibakar, batang dibiarkan lapuk. Bagi Ruslan, itu bukan limbah. Itu bahan baku.
Minyak cengkeh dikenal luas karena kandungan eugenolnya yang tinggi. Zat ini dimanfaatkan dalam industri farmasi, kosmetik, aromaterapi, hingga antiseptik. Namun Ruslan menilai jalur itu sering terasa jauh dari petani kecil. Yang dekat dengan petani adalah kebunnya sendiri. Dan di kebun, daun adalah bagian yang paling mudah dijangkau.
Ruslan mengungkapkan kepada Petik Hasil bahwa daun cengkeh menjadi pintu masuk paling realistis untuk memulai penyulingan. Tidak perlu menunggu musim bunga. Tidak perlu mengorbankan hasil utama. Daun gugur bisa dikumpulkan, dikeringkan, lalu disuling. Dengan cara itu, kebun bisa memberi nilai sepanjang tahun.
Di Subang, ritme kerja ini berjalan pelan tapi konsisten. Daun dikumpulkan setelah cukup kering agar kadar air turun. Jika terlalu basah, hasil minyak tidak optimal. Jika terlalu lama, aroma bisa berubah. Ruslan mengatakan kepada Petik Hasil bahwa tahap pengeringan adalah kunci yang sering diremehkan. Banyak orang ingin cepat menyuling, padahal kualitas minyak ditentukan sejak bahan belum masuk ketel.
Pengalaman menyuling sereh wangi membuat Ruslan peka pada detail detail semacam itu. Ia menyebut prinsip penyulingan cengkeh tidak jauh berbeda. Uap panas membawa minyak keluar dari jaringan tanaman. Air dan minyak dipisahkan. Hasilnya tidak selalu banyak, tetapi aromanya khas. Menurut Ruslan, perbedaan terbesar ada pada karakter bahan. Cengkeh lebih keras, aromanya lebih tajam, dan butuh kesabaran.
Cengkeh bekerja sepanjang tahun lewat daun dan ranting
Di kebun, pekerjaan tidak berhenti saat bunga selesai dipanen. Ranting hasil pemangkasan dan batang muda yang tersisa juga punya potensi. Ruslan menyampaikan kepada Petik Hasil bahwa meski rendemen minyak dari bagian ini lebih kecil, nilainya tetap ada. “Kalau kita kumpulkan bareng bareng, lama lama jadi,” katanya.
Bagi petani kecil, pendekatan seperti ini terasa lebih masuk akal daripada mengejar panen besar yang jarang. Tambahan kecil yang rutin bisa membantu menutup biaya harian. Terlebih ketika harga bunga cengkeh sedang turun, daun dan ranting bisa menjadi penyangga.
Namun potensi ini tidak otomatis berubah menjadi pendapatan. Ruslan menyadari banyak petani ragu karena penyulingan masih dianggap rumit. Alatnya mahal, ilmunya tidak tersebar, dan pasar minyak atsiri tidak seterlihat pasar bunga kering. Ia menyampaikan kepada Petik Hasil bahwa banyak petani takut mencoba karena tidak tahu harus menjual ke mana.
Menurut Ruslan, perbedaan paling terasa ada pada transparansi pasar. Bunga cengkeh bisa langsung dilihat harganya. Minyak cengkeh membutuhkan jaringan. Tanpa pembeli tetap, petani sulit berani berinvestasi. Ditambah lagi, harga minyak atsiri sangat dipengaruhi permintaan industri yang bisa naik turun.
Ruslan juga menyinggung soal skala. Penyulingan kecil sering dianggap tidak efisien. Hasil sedikit, biaya terasa besar. Di sinilah ia melihat masalah bukan pada tanamannya, melainkan pada cara bekerja. Ketika petani berjalan sendiri sendiri, semua terasa berat.
Penyulingan kecil sebagai jalan keluar petani
Pengalaman Ruslan di sereh wangi membentuk keyakinan bahwa penyulingan tidak harus dilakukan sendirian. Ia menyampaikan kepada Petik Hasil bahwa model kolektif jauh lebih masuk akal. Daun dan ranting dari beberapa kebun bisa dikumpulkan, disuling bersama, lalu dijual dalam volume yang lebih kuat.
Dengan cara ini, biaya alat bisa dibagi. Pasokan lebih stabil. Posisi tawar naik. Ruslan melihat pola ini sudah berjalan di beberapa komoditas atsiri, meski belum banyak diterapkan pada cengkeh. Menurutnya, kuncinya ada pada kepercayaan antarpetani dan kesepakatan berbagi hasil.
Ia juga menekankan pentingnya konsistensi. Pasar minyak atsiri lebih menyukai pasokan rutin daripada volume besar sesekali. Daun cengkeh yang tersedia sepanjang tahun sebenarnya cocok untuk kebutuhan ini. Tetapi tanpa koordinasi, potensi itu terpecah.
Ruslan mengungkapkan kepada Petik Hasil bahwa hilirisasi cengkeh tidak harus dimulai dari pabrik besar. Ia bisa dimulai dari ketel sederhana, dari daun gugur yang selama ini diabaikan. Ketika petani mulai menghitung semua bagian tanaman, nilai kebun ikut berubah.
Baginya, cengkeh adalah contoh bagaimana pertanian sering dipersempit oleh cara pandang. Ketika hanya bunga yang dihitung, kebun terasa pasif sepanjang tahun. Tetapi ketika daun, ranting, dan batang juga dihargai, kebun menjadi ruang kerja yang terus hidup.
Cerita cengkeh dari Subang ini juga berbicara tentang keberlanjutan. Memanfaatkan daun dan ranting berarti mengurangi pembakaran sisa kebun. Penyulingan memberi alasan untuk merawat kebun lebih rapi. Pemangkasan menjadi kegiatan bernilai, bukan beban.
Di ujung obrolan, Ruslan menyampaikan kepada Petik Hasil bahwa yang paling dibutuhkan petani bukan selalu bantuan besar. Yang dibutuhkan adalah pengetahuan yang menyebar dan akses pasar yang lebih adil. Ketika petani tahu apa yang mereka miliki dan ke mana menjualnya, keberanian untuk mencoba akan tumbuh.
Bagi Petikhasil.id, kisah Ruslan memperlihatkan bahwa cengkeh tidak berhenti di bunga. Ia adalah tanaman yang bekerja dalam diam, menyimpan nilai di bagian yang sering dilewatkan. Ketika daun, ranting, dan batang diberi tempat dalam hitungan ekonomi, petani tidak lagi sepenuhnya bergantung pada satu musim.
Cengkeh lalu berubah makna. Bukan hanya komoditas tahunan, tetapi sumber penghidupan yang lebih berlapis. Dari kebun ke ketel, dari sisa kebun ke minyak bernilai. Dan dari perubahan cara pandang itulah, hilirisasi kecil bisa tumbuh menjadi kekuatan petani. (Ptkh)






