Garam Dari Batuan Purba Hingga Menjadi Rasa Dasar yang Membentuk Peradaban

Petikhasil.id, — Garam sering dipahami sebagai bumbu paling sederhana di dapur. Ia tidak berwarna mencolok, tidak beraroma kuat, dan jarang dipuji. Namun di balik kesederhanaannya, garam menyimpan sejarah panjang yang menghubungkan geologi bumi, kebutuhan biologis manusia, dan lahirnya peradaban.

Dalam kajian geologi, garam dikenal sebagai halite, mineral natrium klorida yang terbentuk dari penguapan laut purba. Badan Survei Geologi Amerika Serikat atau USGS menjelaskan bahwa endapan garam terbentuk ketika cekungan laut tertutup mengalami penguapan jutaan tahun lalu, meninggalkan lapisan kristal garam yang kemudian tertimbun sedimen. Artinya, setiap butir garam yang dikonsumsi manusia hari ini adalah sisa dari samudra yang telah menghilang.

Pandangan ini menempatkan garam bukan sebagai produk manusia, melainkan warisan bumi. Manusia hanya menemukan dan memanfaatkannya. Dalam banyak peradaban awal, garam ditemukan bukan pertama kali di pantai, tetapi di daratan. Manusia mengikuti jejak hewan menuju mata air asin dan tanah yang terasa pahit asin di lidah. Dari pengamatan itu, pengetahuan berkembang.

Baca Lainya: Tambak Garam di Sumatra Terdampak Bencana, KKP Butuhkan Dana Rp25 Miliar untuk Revitalisasi | Pemerintah Kabupaten Cirebon Dorong Para Petambak Hasilkan Garam Bermutu Tinggi

Ahli antropologi makanan menyebut bahwa kebutuhan akan garam muncul seiring perubahan pola makan manusia. Ketika manusia mulai mengolah dan memasak makanan, kadar natrium alami dalam bahan pangan menurun. Garam kemudian menjadi pelengkap penting untuk menjaga keseimbangan elektrolit tubuh. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO hingga kini menyebut natrium sebagai unsur esensial bagi fungsi saraf dan otot manusia, meski konsumsinya perlu dikendalikan.

Sejarawan Romawi mencatat bahwa garam memiliki nilai ekonomi dan simbolik yang tinggi. Dalam catatan sejarah, prajurit Romawi menerima bagian tunjangan yang berkaitan dengan garam, yang kemudian melahirkan istilah salary. Garam bukan sekadar bumbu, melainkan alat tukar dan sumber kekuasaan. Jalan perdagangan dibangun untuk mengangkutnya, dan kota tumbuh di sekitar sumber garam.

Ketika laut mengering dan batuan menjadi pangan manusia

Ilmu geologi dan arkeologi sepakat bahwa ada dua sumber utama garam dalam sejarah manusia. Yang pertama adalah garam batu dari endapan halite. Di wilayah yang jauh dari laut, manusia menambang garam dari perut bumi. Tambang garam kuno di Eropa dan Asia menjadi bukti bahwa manusia rela menggali dalam demi mendapatkan mineral ini.

Yang kedua adalah garam laut. Jurnal ilmu kelautan mencatat bahwa air laut mengandung berbagai mineral terlarut, dengan natrium klorida sebagai komponen utama. Ketika manusia memahami bahwa air laut bisa diuapkan, mereka menciptakan ladang garam. Tambak dangkal dibangun, air dialirkan, lalu matahari dan angin dibiarkan bekerja.

Peneliti sejarah pangan menyebut metode ini sebagai salah satu teknologi pangan tertua yang bertahan hingga hari ini. Prosesnya nyaris tidak berubah. Matahari masih menjadi mesin utama. Angin masih menjadi pengering. Waktu masih menjadi penentu. Dalam konteks ini, garam adalah hasil kolaborasi alam dan manusia.

Ahli sejarah Prancis Fernand Braudel pernah menulis bahwa garam adalah komoditas strategis yang menentukan logistik pangan Eropa praindustri. Tanpa garam, daging dan ikan tidak bisa diawetkan. Tanpa pengawetan, kota tidak bisa tumbuh. Dengan kata lain, garam adalah fondasi tak terlihat dari urbanisasi awal.

Namun yang menarik, meski peran ekonominya berubah, sifat dasar garam tidak pernah berubah. Dari zaman purba hingga era modern, rasa asin tetap sama. Tidak ada inovasi rasa asin. Yang berubah adalah cara manusia memproduksi, mendistribusikan, dan mengonsumsinya.

Dalam kajian ilmu pangan, rasa asin disebut sebagai salah satu rasa dasar yang dikenali manusia. Penelitian di bidang fisiologi menunjukkan bahwa reseptor rasa asin terhubung langsung dengan kebutuhan tubuh akan natrium. Ketika manusia merasakan asin, tubuh sedang menerima sinyal biologis yang sangat tua. Ini menjelaskan mengapa garam begitu mendasar dan sulit digantikan.

Dari simbol kekuasaan menjadi bahan yang harus dibatasi

Di era modern, garam kehilangan statusnya sebagai barang langka. Revolusi industri dan teknologi membuat produksi garam melimpah dan murah. Ironisnya, kemudahan ini membawa tantangan baru. WHO dan banyak jurnal kesehatan masyarakat mengingatkan bahwa konsumsi garam berlebihan berkaitan dengan risiko hipertensi dan penyakit kardiovaskular.

Baca Lainya: Tambak Garam di Sumatra Terdampak Bencana, KKP Butuhkan Dana Rp25 Miliar untuk Revitalisasi | Pemerintah Kabupaten Cirebon Dorong Para Petambak Hasilkan Garam Bermutu Tinggi

Namun pergeseran ini tidak menghapus makna historisnya. Garam tetaplah mineral yang sama. Ia hanya berpindah konteks. Dari simbol kekuasaan menjadi bahan yang harus dikelola dengan bijak.

Di Indonesia, dua wajah garam masih hidup berdampingan. Garam laut diproduksi di pesisir dengan metode tradisional yang sangat bergantung pada cuaca. Sementara garam industri diproses secara modern untuk memenuhi kebutuhan pangan dan nonpangan. Keduanya berasal dari sumber yang sama, laut purba yang pernah menggenangi bumi.

Membicarakan garam berarti membicarakan hubungan panjang manusia dengan alam. Garam mengajarkan bahwa sesuatu yang tampak kecil bisa memiliki dampak besar. Ia membentuk pola makan, jalur perdagangan, bahkan bahasa.

Bagi Petikhasil.id, garam bukan sekadar pelengkap rasa. Ia adalah batuan yang berubah menjadi budaya. Dari endapan laut jutaan tahun lalu hingga meja makan hari ini, garam membuktikan bahwa sejarah manusia sering tersembunyi di hal hal yang paling sederhana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *