Cekungan Bandung Warisan Danau Purba yang Membentuk Tanah Subur Pertanian

Petikhasil.id, BANDUNG — Hamparan sawah, kebun sayur, dan lahan hortikultura di Bandung Raya tidak lahir begitu saja. Di bawah tanah yang hari ini ditanami padi, kentang, sayur daun, hingga stroberi, tersimpan sejarah geologi yang sangat panjang. Ribuan tahun lalu, wilayah yang kini dikenal sebagai Cekungan Bandung pernah menjadi sebuah danau raksasa.

Para ahli geologi menyebutnya Danau Purba Bandung. Danau ini terbentuk akibat aktivitas vulkanik dan pergerakan sesar yang menutup aliran Sungai Citarum purba. Air tertahan, lalu menggenangi wilayah yang sangat luas. Ketika danau itu perlahan mengering, ia meninggalkan endapan sedimen yang kini menjadi fondasi kesuburan tanah Bandung dan sekitarnya.

Penelitian geologi yang dipublikasikan oleh Badan Geologi Kementerian ESDM menjelaskan bahwa endapan danau purba di Cekungan Bandung didominasi material halus seperti lempung dan lanau, bercampur abu vulkanik. Kombinasi inilah yang membuat tanah mampu menahan air dan unsur hara dengan baik, sebuah karakter yang sangat disukai tanaman pertanian.

Baca Lainya: Situ Aksan yang Hilang, Ketika Bandung Kehilangan Nafas Ekonomi Airnya | Sesar Lembang & Petani Bandung Barat yang Hidup di Atas Tanah Bergerak

Jejak danau purba ini tidak selalu terlihat kasat mata. Namun petani merasakannya lewat tanah yang gembur, mudah diolah, dan relatif subur. Dari Bandung Selatan hingga sebagian wilayah barat dan timur, karakter tanahnya serupa. Tanah terasa berat saat basah, tetapi kaya bahan organik ketika dikelola dengan benar.

Dalam jurnal geologi regional yang diterbitkan oleh peneliti Institut Teknologi Bandung, disebutkan bahwa cekungan ini berfungsi seperti mangkuk raksasa yang mengumpulkan sedimen dari aktivitas gunung api di sekitarnya, termasuk Gunung Tangkuban Parahu dan kompleks gunung api purba di wilayah selatan. Material vulkanik yang berulang kali jatuh ke danau kemudian mengendap dan membentuk lapisan tanah yang subur.

Kesuburan ini tidak datang instan. Ia adalah hasil dari proses ribuan tahun. Air danau membawa material halus, abu vulkanik menyumbang mineral, lalu waktu mengendapkannya lapis demi lapis. Ketika air surut, daratan baru terbuka dan siap dihuni manusia.

Catatan arkeologi menunjukkan bahwa kawasan Bandung Raya telah dihuni sejak lama. Salah satu bukti terkenal adalah temuan fosil manusia purba di kawasan Cekungan Bandung yang sering dikaitkan dengan legenda Sangkuriang. Meski kisahnya bersifat mitologis, kajian ilmiah mengakui bahwa perubahan bentang alam Bandung memang dipicu peristiwa geologi besar yang nyata.

Dari dasar danau menjadi lumbung pertanian

Ketika danau purba mengering, wilayah yang tersisa menjadi dataran luas dengan tanah aluvial yang kaya. Dalam ilmu tanah, tanah aluvial dikenal subur karena mengandung mineral hasil pengendapan air. Tidak heran jika sejak lama wilayah Bandung menjadi pusat pertanian.

Penelitian agronomi menyebut tanah hasil endapan danau cenderung memiliki kapasitas tukar kation yang baik, artinya mampu menyimpan dan melepaskan unsur hara secara seimbang. Inilah alasan mengapa padi, sayuran dataran tinggi, dan tanaman hortikultura bisa tumbuh baik di wilayah Bandung Raya.

Petani tradisional mungkin tidak menyebutnya sedimen atau lanau, tetapi mereka tahu satu hal. Tanah di Bandung itu hidup. Ia responsif terhadap pupuk organik, menyimpan air cukup lama, dan jarang retak parah di musim kemarau jika dikelola dengan baik.

Namun kesuburan ini juga membawa tantangan. Tanah cekungan yang halus cenderung mudah tergenang. Karena itu, sistem pengairan menjadi kunci. Sejak masa kolonial, Bandung dikenal dengan jaringan irigasi yang rumit untuk mengatur air di dataran bekas danau.

Ahli hidrologi mencatat bahwa karakter cekungan membuat Bandung rentan banjir jika aliran air tidak diatur. Air yang masuk ke cekungan sulit keluar dengan cepat. Ini adalah warisan langsung dari bentuk geologinya.

Kesuburan yang menuntut kehati hatian

Di satu sisi, Danau Purba Bandung memberi anugerah berupa tanah subur. Di sisi lain, ia menuntut pengelolaan yang bijak. Tanah yang kaya bahan halus mudah rusak jika dieksploitasi berlebihan. Penelitian ilmu tanah memperingatkan bahwa tanpa bahan organik, tanah aluvial bisa memadat dan kehilangan struktur.

Dalam beberapa dekade terakhir, alih fungsi lahan di Bandung Raya meningkat tajam. Sawah berubah menjadi permukiman, kebun menjadi kawasan industri. Padahal lapisan tanah subur hasil endapan danau purba ini tidak bisa diperbarui dalam waktu singkat.

Para peneliti lingkungan dari universitas di Jawa Barat menekankan pentingnya menjaga lahan pertanian di cekungan ini. Bukan hanya untuk ketahanan pangan lokal, tetapi juga untuk menjaga keseimbangan hidrologi. Tanah pertanian membantu menyerap air hujan dan mengurangi limpasan.

Bagi Petikhasil.id, kisah Cekungan Bandung adalah pengingat bahwa pertanian tidak berdiri sendiri. Ia terkait langsung dengan sejarah bumi. Kesuburan tanah bukan hasil pupuk semata, tetapi warisan proses geologi yang sangat panjang.

Baca Lainya: Situ Aksan yang Hilang, Ketika Bandung Kehilangan Nafas Ekonomi Airnya | Sesar Lembang & Petani Bandung Barat yang Hidup di Atas Tanah Bergerak

Ketika petani menanam padi atau sayur di Bandung, mereka sebenarnya sedang bekerja di atas dasar danau purba. Setiap musim tanam adalah kelanjutan dari cerita ribuan tahun lalu, ketika air, abu vulkanik, dan waktu bersekutu membentuk tanah.

Cekungan Bandung mengajarkan bahwa alam pernah bekerja sangat keras untuk menyediakan lahan subur. Tugas manusia hari ini adalah memastikan warisan itu tidak habis sebelum generasi berikutnya sempat merasakannya. (vry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *