Petikhasil.id, JAKARTA — Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan) berharap proyek hilirisasi peternakan ayam senilai Rp20 triliun yang digarap Danantara dapat menjaga stabilitas harga daging ayam dan telur di tingkat konsumen.
Proyek tersebut mencakup pembangunan ekosistem perunggasan terintegrasi dari hulu hingga hilir, mulai dari pembibitan, pakan, kesehatan hewan, pengolahan, logistik, hingga pemasaran. Program ini juga diarahkan untuk mendukung pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sekretaris Jenderal Gopan Sugeng Wahyudi menilai hilirisasi peternakan ayam berpotensi memengaruhi pembentukan harga ayam dan telur di pasar.
“Setidaknya akan berdampak pada harga di pasar karena adanya keterlibatan pemerintah melalui BUMN, sehingga harga yang terbentuk bisa lebih wajar, sesuai acuan, dan tidak memberatkan konsumen,” ujar Sugeng, dikutip Selasa (10/2/2026).
Baca Lainya: Pergerakan Harga Pangan 4 Februari, Beras hingga Telur Turun Daging Sapi Naik | OPINI: Bungkil Kedelai, Peternak Ayam, serta Isu Rente Ekonomi
Menurutnya, hilirisasi ini bertujuan membangun ekosistem industri unggas yang lebih terintegrasi dengan menempatkan peternak rakyat sebagai pelaku utama dalam budidaya ayam broiler.
Selain itu, ketersediaan input produksi seperti pakan dan anak ayam, serta kepastian penyerapan hasil panen, menjadi fokus utama proyek tersebut untuk menciptakan stabilitas industri perunggasan.
Peran Badan Usaha Milik Negara Menjadi Lebih Nyata
Gopan juga menilai proyek bernilai Rp20 triliun ini perlu memastikan peran badan usaha milik negara (BUMN) lebih nyata di industri unggas, terutama bagi peternak kecil yang selama ini harus bersaing dengan pelaku usaha berskala besar. Infrastruktur seperti pabrik pakan dan fasilitas pembibitan dinilai dapat memperkuat posisi peternak rakyat.
“Hadirnya BUMN sebenarnya bukan hal baru, namun perannya perlu ditingkatkan karena selama ini belum sepenuhnya dirasakan, khususnya oleh peternak ayam broiler. Dengan proyek Rp20 triliun ini, infrastruktur diharapkan dapat lebih memadai,” katanya.
Meski demikian, Gopan menilai masih terlalu dini untuk berharap proyek hilirisasi ini dapat langsung mendorong ekspor. Menurut Sugeng, fokus utama sebaiknya diarahkan pada penguatan ekonomi peternak, baik skala kecil maupun besar.
Pada tahap awal, pengembangan hilirisasi peternakan ayam akan dilakukan di enam lokasi, yakni Malang (Jawa Timur), Bone (Sulawesi Selatan), Gorontalo Utara, Paser (Kalimantan Timur), Sumbawa (Nusa Tenggara Barat), dan Lampung Selatan. Selanjutnya, proyek ini akan diperluas hingga mencakup 30 titik secara nasional.
Program Hilirisasi Ayam Membangun Ekosistem
Sebelumnya, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Agung Suganda menyampaikan bahwa program hilirisasi ayam bertujuan membangun ekosistem perunggasan nasional yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Baca Lainya: Pergerakan Harga Pangan 4 Februari, Beras hingga Telur Turun Daging Sapi Naik | OPINI: Bungkil Kedelai, Peternak Ayam, serta Isu Rente Ekonomi
“Hilirisasi ayam terintegrasi ini merupakan inisiatif langsung Menteri Pertanian sebagai langkah strategis negara untuk memastikan swasembada protein berjalan berkelanjutan, merata, dan berpihak pada peternak rakyat,” ujar Agung dalam keterangan tertulis, dikutip Selasa (10/2/2026).
Ekosistem yang dikembangkan meliputi penguatan pembibitan ayam dari hulu, mulai dari Grand Parent Stock (GPS), Parent Stock (PS), hingga Final Stock (FS). Selain itu, proyek ini mencakup pengembangan pakan berbasis bahan baku dalam negeri, peningkatan kesehatan hewan, pembangunan rumah potong hewan unggas (RPHU) dan sistem rantai dingin (cold chain), pengolahan daging dan telur, serta penguatan logistik dan pemasaran.






