Petikhasil.id, BANDUNG — Awal tahun 2026 dibuka dengan tantangan bagi pertanian Jawa Barat. Banjir merendam sejumlah areal sawah di wilayah lumbung padi seperti Karawang, Bekasi, dan Indramayu. Namun di tengah kondisi itu, Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat tetap menaruh optimisme bahwa produksi padi tahun ini akan meningkat dibandingkan 2025.
Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat Dadan Hidayat menyampaikan kepada publik bahwa pemerintah telah menyiapkan langkah antisipasi untuk menekan risiko gagal panen akibat banjir. Salah satu langkah utama adalah penanaman ulang pada lahan yang mengalami puso.
Dadan menyampaikan bahwa jika terjadi kerusakan berat akibat banjir, replanting akan segera dilakukan. Ia menjelaskan bahwa pendataan awal kerusakan masih disiapkan dan akan menjadi dasar pengusulan bantuan. Bantuan tersebut akan datang dari pemerintah pusat sesuai usulan pemerintah provinsi yang bersumber dari laporan kabupaten dan kota.
Menurutnya, perhatian khusus dari pemerintah pusat dan provinsi diberikan karena target swasembada pangan harus terus dijaga setiap tahun. Jawa Barat selama ini menjadi salah satu daerah penopang utama produksi padi nasional, sehingga setiap gangguan produksi mendapat perhatian serius.
Replanting jadi kunci menjaga ritme produksi
Panen pertama padi 2026 dijadwalkan berlangsung pada Februari hingga Maret. Panen ini merupakan hasil penanaman yang dilakukan pada periode Oktober hingga Desember 2025. Dadan menyampaikan kepada Petik Hasil bahwa data sementara menunjukkan sinyal positif dari realisasi tanam.
Ia menjelaskan bahwa luas tanam pada periode tersebut telah mencapai 592.176 hektare. Angka ini meningkat sekitar 55.000 hektare atau hampir 10 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan luas tanam ini menjadi dasar optimisme bahwa produksi padi 2026 akan lebih tinggi.
Dadan juga menilai semangat petani relatif terjaga. Salah satu pendorongnya adalah kepastian harga. Petani dinilai lebih berani menanam karena hasil panen dipastikan terserap dengan harga yang sudah ditetapkan pemerintah.
Pemerintah menetapkan harga pembelian pemerintah untuk gabah kering panen tahun 2026 tetap sebesar Rp6.500 per kilogram. Kebijakan ini dijalankan oleh Perum Bulog sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas harga di tingkat petani sekaligus menjadi jaring pengaman ketika panen raya.
Harga gabah dan data statistik memperkuat optimisme
Target penyerapan Bulog untuk tahun 2026 ditetapkan sebesar 4 juta ton setara beras. Dengan skema ini, pemerintah berharap fluktuasi harga di tingkat petani bisa ditekan, sekaligus memastikan stok nasional tetap aman.
Optimisme pemerintah daerah juga diperkuat oleh proyeksi statistik. Badan Pusat Statistik memperkirakan produksi padi Jawa Barat pada 2026 meningkat dibandingkan 2025. Untuk periode Januari hingga Maret 2026, potensi produksi padi Jawa Barat diperkirakan mencapai 2,48 juta ton.
Angka tersebut menunjukkan peningkatan sekitar 0,45 juta ton atau 22,32 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang tercatat sebesar 2,03 juta ton. Proyeksi ini memberikan gambaran bahwa meskipun banjir terjadi di awal tahun, fondasi produksi padi Jawa Barat masih relatif kuat.
Bagi Petikhasil.id, situasi ini menunjukkan wajah pertanian yang bekerja di bawah tekanan alam sekaligus kebijakan. Di satu sisi, banjir menguji kesiapan sistem produksi. Di sisi lain, data tanam, kebijakan harga, dan skema penyerapan menjadi penopang kepercayaan petani.
Produksi padi Jawa Barat 2026 pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh cuaca, tetapi oleh seberapa cepat respons kebijakan berjalan di lapangan. Replanting, kepastian harga, dan penyerapan hasil panen menjadi penentu apakah optimisme ini benar benar bisa terwujud hingga akhir musim tanam. (vRY)






