Petikhasil.id, BANDUNG – Siapa sangka, di balik kandang domba yang identik dengan bau dan suara ternak, berdiri sebuah konsep usaha unik yang memadukan peternakan, kuliner, dan edukasi. Tempat itu bernama Aba Farm, sebuah usaha berbasis peternakan domba yang kini dikenal dengan konsep farm to table, langsung dari kandang ke meja makan.
Aba Farm dirintis oleh Erdika Purnama Diresta, sosok yang sejak muda sudah akrab dengan dunia peternakan. Ketertarikannya pada domba bukan datang tiba-tiba. Sejak kuliah pada 2006–2007, ia sudah mulai menjual hewan kurban, dan aktivitas itu tak pernah berhenti hingga sekarang.
“Dari dulu memang di peternakan. Sekolah juga peternakan, kerja ke mana-mana, akhirnya balik lagi fokus ke domba,” ujar Erdika.
Breeding, Penggemukan, hingga Produk Siap Saji
Berbeda dengan peternakan pada umumnya, Aba Farm mengelola bisnis domba secara menyeluruh dari hulu ke hilir. Proses dimulai dari breeding atau perkawinan, penggemukan, hingga pengolahan daging menjadi berbagai produk.
“Di sini ada breeding, penggemukan, sampai potong. Bahkan produknya bukan cuma domba hidup, tapi sudah ada domba guling, aqiqah, frozen meat, sampai sate,” jelasnya.
Konsep ini membuat Aba Farm tidak hanya bergantung pada momen kurban, tetapi tetap berjalan sepanjang tahun dengan pasar yang beragam, mulai dari konsumen harian hingga kebutuhan besar saat Iduladha.
Baca lainnya: Harga Domba Kurban Melonjak, Aba Farm Pilih Bermain di Komoditas Aman
Dari Kandang ke Meja Makan
Awal mula konsep restoran di Aba Farm justru datang secara tidak terencana. Saat itu, ada konsumen yang datang ke kandang dan ingin membeli daging domba yang sudah divakum, lalu meminta agar daging tersebut langsung dibakar di lokasi.
“Awalnya cuma coba-coba. Kita bakar, ternyata enak. Dari situ mulai banyak yang request by order, by booking,” katanya.
Melihat respons positif, Erdika pun memberanikan diri membuka tempat makan di area peternakan. Konsep yang diusung adalah farm to table, di mana domba dipelihara, dirawat, hingga diolah di satu lokasi yang sama.
Menariknya, area makan di Aba Farm tidak langsung terlihat dari luar. Pengunjung harus melewati jalan kecil berliku menuju bagian dalam, membuat tempat ini sering disebut sebagai hidden gem.
“Orang parkir juga belum langsung lihat tempat makannya. Baru masuk ke dalam,” ujarnya.
Soal Bau dan Kandang, Ini Penjelasannya
Salah satu kekhawatiran utama membuka tempat makan di area peternakan adalah soal bau. Namun menurut Erdika, hal tersebut bisa diminimalkan dengan manajemen kandang yang tepat.
“Sumber bau itu dari urine dan kotoran. Jadi pengelolaan kotoran dan pakan itu kunci. Pakan sangat berpengaruh ke pencernaan dan bau,” jelasnya.
Ia menambahkan, bau biasanya hanya tercium pada waktu tertentu, seperti saat pembersihan kandang. Selebihnya, kondisi relatif aman dan tidak mengganggu pengunjung maupun warga sekitar.
Mental, Bukan Sekadar Modal
Dalam perjalanannya, Erdika mengaku tantangan terbesar dalam beternak bukan hanya soal modal atau teknis, melainkan mental. Ia pernah berada di fase sulit, termasuk saat domba kurban yang sudah terjual mati mendadak.
“Pahit itu ketika orang tidak menerima tentang kematian domba. Padahal domba itu bukan punya kita, kita cuma dititipkan,” katanya.
Namun dari situ, ia belajar tentang tanggung jawab, tawakal, dan keikhlasan. Menurutnya, selama mental dijaga, masalah seberat apa pun bisa dilalui.
“Kalau mental bagus, pikiran bisa menyesuaikan. Kompetitor juga bukan musuh, tapi rekan bisnis,” ujarnya.
Baca lainnya: Jamur Tiram Putih, Coklat, dan Kuping: Ini Perbedaan Perawatan dan Panennya di Genkinoko Farm Pangalengan
Peternakan dan Masa Depan Bangsa
Bagi Erdika, Aba Farm bukan sekadar bisnis. Ia percaya peternakan memiliki peran strategis dalam pertumbuhan sebuah negara.
“Satu negara tidak akan bertumbuh dengan pesat kalau peternakan dikesampingkan. Lihat Australia dan Belanda, peternakan dan pertaniannya diperhatikan serius,” tegasnya.
Melalui Aba Farm, ia ingin menunjukkan bahwa peternakan bisa dikelola secara modern, berkelanjutan, dan relevan dengan era digital, tanpa meninggalkan nilai-nilai tanggung jawab dan keberkahan.






