Petikhasil.id, JAKARTA — Harga telur dan daging ayam berpotensi mengalami kenaikan menjelang Ramadan 2026 seiring lonjakan harga jagung pakan di tingkat peternak. Kenaikan biaya bahan baku tersebut dikhawatirkan berdampak langsung pada harga pangan di tingkat konsumen.
Berdasarkan pemantauan awal Februari 2026, Kantor Staf Presiden (KSP) mencatat harga jagung di tingkat peternak mencapai Rp6.935 per kilogram. Angka ini melampaui harga acuan pembelian (HAP) sebesar Rp5.800 per kilogram atau sekitar 19,57 persen lebih tinggi, sehingga masuk kategori tidak aman.
Baca Lainya: Produksi Jagung Pipilan Januari–Maret 2026 Diperkirakan Tembus 4,94 Juta Ton | Pertanian Garut Jadi Lumbung Jagung Tapi Nilai Tambah Nihil
Pelaksana Tugas Deputi II Bidang Perekonomian dan Pangan KSP, Popy Rufaidah, mengatakan lonjakan harga jagung berisiko menekan struktur biaya produksi sektor unggas.
“Jika kondisi ini bertahan, tekanan biaya produksi dapat merembet ke harga telur dan daging ayam. Penguatan pasokan jagung pakan perlu dipercepat,” ujar Popy.
KSP juga mencatat harga telur ayam ras masih berada di atas HAP Rp30.000 per kilogram. Per 6 Februari 2026, harga telur tercatat Rp33.700 per kilogram, meski telah mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya.
“Telur merupakan komoditas konsumsi harian masyarakat. Koreksi harga perlu dipercepat agar tidak mendorong inflasi pangan,” katanya.
Biaya Produksi Unggas Tertekan
Pengamat pertanian dari Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Eliza Mardian, menilai lonjakan harga jagung berdampak langsung pada struktur biaya produksi peternakan unggas. Ia menjelaskan bahwa pakan menyumbang sekitar 60 persen dari total biaya produksi, dengan jagung sebagai komponen utama yang porsinya hampir 50 persen.
“Jagung merupakan komponen vital dengan porsi hampir 50 persen. Kenaikan harga dipicu kebijakan penghentian impor jagung yang menyebabkan keterbatasan stok bagi peternak mandiri dan mengutamakan penggunaan jagung dalam negeri,” kata Eliza, dikutip Senin (16/2/2026).
Menurutnya, peternak kini bergantung pada jagung lokal yang biayanya relatif lebih mahal. Ongkos produksi domestik dinilai lebih tinggi dibandingkan negara produsen utama seperti Amerika Serikat dan Brasil. Bahkan, biaya produksi jagung di Indonesia disebut sekitar 2,5 kali lebih tinggi dibandingkan Amerika Serikat.
Kenaikan harga jagung juga tercermin dari membaiknya Nilai Tukar Petani Pangan (NTPP). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat NTPP mencapai 113,43 pada Januari 2026.
Namun demikian, Core menilai struktur pasar pakan yang cenderung oligopolistik memperparah kondisi. Penyerapan jagung lokal masih didominasi pabrik pakan berskala besar, sehingga peternak mandiri kesulitan memperoleh bahan baku dengan harga terjangkau.
“Peternak mandiri skala kecil harus membeli melalui rantai distribusi panjang dengan harga lebih mahal. Ini tidak efisien,” ujarnya.
Risiko Kenaikan Harga Jelang Ramadan dan Lebaran
Eliza mengingatkan, apabila setiap pelaku usaha di mata rantai distribusi melakukan penyesuaian harga untuk menjaga margin, maka kenaikan biaya berpotensi diteruskan hingga ke konsumen akhir. Risiko tersebut dinilai semakin besar menjelang Ramadan dan Lebaran ketika permintaan pangan meningkat.
Selain itu, peningkatan konsumsi juga diperkirakan terdorong oleh program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Permintaan saat puasa dan Lebaran biasanya lebih tinggi. Dengan tambahan program MBG, potensi kenaikan harga perlu diwaspadai,” katanya.
Baca Lainya: Produksi Jagung Pipilan Januari–Maret 2026 Diperkirakan Tembus 4,94 Juta Ton | Pertanian Garut Jadi Lumbung Jagung Tapi Nilai Tambah Nihil
Sebagai langkah jangka pendek, Core merekomendasikan penguatan operasi pasar dan pemangkasan rantai distribusi, terutama untuk masyarakat menengah bawah dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Solusi cepatnya adalah operasi pasar untuk segmen menengah bawah dan UMKM, dengan menyediakan bahan pangan murah melalui pemotongan rantai distribusi,” tuturnya.
Untuk meredam tekanan inflasi pangan menjelang Ramadan, KSP meminta pemerintah daerah memperketat pengawasan di wilayah dengan harga tinggi serta mengintensifkan pasar murah. Kementerian Perdagangan juga diminta memantau pergerakan harga secara harian guna menjaga stabilitas pasokan dan harga komoditas unggas.






