Petikhasil.id, SOREANG — Dari kandang sederhana di kawasan pertanian Motekar, 600 ekor ayam petelur menjadi babak baru perjalanan Enjang Suhendar. Ia bukan peternak besar. Ia adalah petani yang memutuskan menambah sayap usaha demi masa depan keluarga.
Enjang Suhendar menyampaikan kepada Petik Hasil bahwa beternak ayam sebenarnya tidak serumit yang dibayangkan banyak orang. Menurutnya, rutinitas harian cukup jelas. Sebelum masuk kandang, ia membersihkan diri. Setelah itu memberi pakan, lalu mengambil telur. Dua kali dalam seminggu ia membersihkan kotoran.
Baca Lainya: Fluktuasi Harga Telur Ayam Ras di Cirebon Capai 12,11% | Harga Telur Ayam di Cirebon Capai Rp30.500 per Kilogram
Ia mengakui bagian paling berat justru pada urusan kebersihan kandang. Tidak semua orang tahan membersihkan kotoran ayam. Namun bagi Enjang, itu hanya soal kebiasaan. Ia mengatakan kepada Petik Hasil bahwa jika sudah terbiasa, tidak ada rasa jijik dan tidak ada bau yang mengganggu.
Peternakan ayam ini bukan benar benar hal baru bagi Enjang. Saat masih bujangan, ia pernah memelihara ayam dalam skala kecil untuk kebutuhan rumah tangga. Namun kala itu belum menjadi usaha ekonomi. Kini, dengan 600 ekor ayam petelur, ia mulai melihat potensi yang lebih serius.
Menurut Enjang, keputusan masuk ke usaha ayam juga dipengaruhi kondisi ekonomi. Ia melihat telur sebagai komoditas yang selalu dikonsumsi. Ia menyampaikan kepada Petik Hasil bahwa hampir tidak ada orang yang tidak makan telur. Selama pangan itu terserap, ia merasa risiko rugi relatif kecil.
Harga pakan naik tapi telur ikut terdongkrak
Enjang tidak menutup mata terhadap tantangan. Harga pakan bisa naik sewaktu waktu. Namun ia melihat harga telur belakangan cukup baik. Ia menyebut adanya program pemerintah yang mendorong permintaan telur ikut mengangkat harga di kandang.
Saat ini harga telur di tingkat peternak sudah mendekati Rp28.000 hingga Rp29.000 per kilogram. Menurutnya, kondisi ini memberi ruang napas bagi peternak kecil.
Ia juga memiliki strategi cadangan. Jika harga pakan terlalu tinggi dan harga telur turun, ia mempertimbangkan meracik pakan sendiri sebagai alternatif. Baginya, fleksibilitas adalah kunci bertahan.
Produksi naik perlahan dan optimisme tumbuh
Ayam ayamnya saat ini baru berusia sekitar 20 minggu lebih. Produksi masih dalam tahap belajar bertelur. Ia mencatat peningkatan harian yang membuatnya optimis. Dari 56 butir naik menjadi 68 butir. Ia memperkirakan bisa tembus 70 butir dalam waktu dekat.
Enjang menyampaikan kepada Petik Hasil bahwa kesehatan ayam menjadi penentu utama. Ia memeriksa ayam setiap hari. Ayam yang sakit langsung dipisahkan dan diobati karena penyakit mudah menular.
Tanda ayam sehat baginya sederhana. Bulu terlihat bening dan tidak kusam. Jengger merah segar. Nafsu makan stabil. Air minum tidak pernah kosong. Jika pakan dan minum terjaga, produksi ikut stabil.
Baca Lainya: Fluktuasi Harga Telur Ayam Ras di Cirebon Capai 12,11% | Harga Telur Ayam di Cirebon Capai Rp30.500 per Kilogram
Ia menegaskan bahwa sebelum membeli bibit ayam, kandang harus disiapkan matang. Kini kandang sudah lebih praktis dibanding dulu yang menggunakan bambu. Material lebih kuat dan tahan lama.
Di akhir wawancara, Enjang menyampaikan pesan terbuka kepada generasi muda. Ia mengatakan kepada Petik Hasil bahwa jangan takut beternak. Ilmu bisa dipelajari. Guru banyak. Ia siap berbagi pengalaman kepada siapa pun yang ingin belajar.
Baginya, peternak bukan pekerjaan rendahan. Peternak adalah profesi yang menjanjikan selama ditekuni dengan disiplin. (Vry)






