Akses Keuangan Formal Jadi Strategi OJK Cirebon Dorong UMKM Kopi Naik Kelas

Petikhasil.id, CIREBON – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cirebon menegaskan komitmennya mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya sektor kopi, naik kelas melalui penguatan literasi keuangan dan perluasan akses pembiayaan formal. 

Langkah tersebut dinilai krusial untuk menciptakan UMKM yang berdaya saing, berkelanjutan, serta mampu menjadi penggerak ekonomi daerah.

Kepala OJK Cirebon, Agus Muntholib, mengatakan OJK tidak hanya berperan sebagai regulator, tetapi juga hadir langsung mendampingi pelaku UMKM agar mampu memahami dan memanfaatkan produk serta layanan jasa keuangan secara optimal. Menurutnya, masih banyak UMKM yang memiliki potensi usaha besar, namun terhambat keterbatasan pemahaman keuangan dan akses terhadap lembaga keuangan formal.

“UMKM tidak bisa dibiarkan berjalan sendiri. OJK hadir untuk mendampingi, memastikan literasi keuangan meningkat, inklusi keuangan terbuka, serta pelaku UMKM terlindungi dari praktik keuangan ilegal,” ujar Agus, dikutip Jumat (23/01/2026).

Ia menekankan, literasi keuangan menjadi fondasi utama agar UMKM dapat mengelola usaha secara sehat, mulai dari pencatatan keuangan, pengelolaan arus kas, hingga kesiapan mengakses pembiayaan. Tanpa pemahaman tersebut, UMKM rentan terjebak pada pembiayaan informal yang berisiko tinggi dan tidak berkelanjutan.

Agus menyebut, OJK secara aktif mendorong lembaga jasa keuangan (LJK) untuk menyediakan produk dan layanan yang sesuai dengan karakteristik UMKM. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menjembatani kebutuhan pelaku usaha dengan sistem keuangan formal, sekaligus memperkuat ekosistem keuangan yang inklusif dan berintegritas.

Baca Lainya: Kadin Dorong Posisi Indonesia Sebagai Sentra Perdagangan Kopi Global | Prduktivitas Kopi Robusta Tumbuh Pesat di Kuningan

“UMKM harus memiliki keberanian untuk masuk ke sistem keuangan formal. Di sisi lain, lembaga keuangan juga harus adaptif, menyediakan skema pembiayaan yang realistis dan sesuai dengan kondisi UMKM,” katanya.

Menurut Agus, sektor kopi menjadi salah satu subsektor UMKM yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan, tidak hanya untuk pasar lokal tetapi juga regional hingga nasional. Namun, potensi tersebut akan sulit berkembang apabila pelaku usaha tidak memiliki akses permodalan yang memadai dan pemahaman keuangan yang baik.

OJK, lanjutnya, mendorong sinergi lintas lembaga agar UMKM kopi tidak hanya produktif, tetapi juga memiliki tata kelola usaha yang kuat. Pendampingan yang berkelanjutan dinilai penting agar UMKM mampu meningkatkan skala usaha, memperluas pasar, dan meningkatkan nilai tambah produk.

Selain aspek pembiayaan, OJK juga menekankan pentingnya perlindungan konsumen bagi pelaku UMKM. Agus mengingatkan agar pelaku usaha lebih waspada terhadap penawaran pembiayaan ilegal yang marak menyasar UMKM dengan iming-iming proses cepat tanpa persyaratan jelas.

“Perlindungan konsumen menjadi bagian tak terpisahkan. UMKM harus teredukasi agar tidak terjebak pada praktik keuangan yang merugikan,” ujarnya.

Baca Lainya: Kadin Dorong Posisi Indonesia Sebagai Sentra Perdagangan Kopi Global | Prduktivitas Kopi Robusta Tumbuh Pesat di Kuningan

Ke depan, OJK Cirebon berharap penguatan literasi dan inklusi keuangan dapat mendorong UMKM naik kelas secara nyata, bukan hanya dari sisi jumlah, tetapi juga kualitas usaha. Dengan dukungan akses keuangan yang tepat, UMKM diharapkan mampu menjadi tulang punggung ekonomi daerah yang tangguh dan berkelanjutan.

“Target akhirnya adalah UMKM yang mandiri, bankable, dan mampu bersaing. Itulah UMKM naik kelas yang sesungguhnya,” pungkas Agus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *