Antara Surga dan Neraka, Risiko Gagal di Bisnis Ayam, Cerita Ken Farm Cirebon

Petikhasil.id, CIREBON – Bisnis peternakan ayam broiler selama ini dikenal sebagai peluang usaha yang menjanjikan. Dengan kebutuhan daging ayam yang terus meningkat, banyak orang terpikat untuk terjun ke bidang ini. Namun di balik kisah sukses para peternak, terdapat risiko besar yang kerap mengintai dan bisa menghancurkan hasil kerja panjang hanya dalam hitungan menit.

Hal tersebut diakui oleh Satrio Wicaksono, pemilik Ken Farm Cirebon yang kini mengelola peternakan ayam broiler dengan kapasitas mencapai ratusan ribu ekor dalam satu siklus produksi. Ia menggambarkan beternak ayam sebagai usaha yang menegangkan dan penuh ketidakpastian.

“Bisnis ayam itu antara surga dan neraka sangat tipis jaraknya,” ujar Satrio saat ditemui di kawasan peternakannya. “Kita jaga ayam sudah 40 hari, tapi kalau ada masalah listrik dan genset telat 5 menit saja, itu sudah bisa hancur semua.”

Risiko Kecil, Dampak Besar

Dalam industri perunggasan, ayam broiler dikenal sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Mulai dari suhu yang naik sedikit, kebisingan mendadak, hingga gangguan listrik, semua dapat mempengaruhi kesehatan dan keselamatan ayam.

Ken Farm sendiri menggunakan sistem kandang closed house dengan dukungan teknologi seperti TempTron dan Vento, yang berfungsi mengatur suhu, ventilasi, dan sistem pakan-minum secara otomatis. Sistem ini dirancang agar ayam tetap nyaman, terutama di umur awal yang rentan.

Namun, sebesar apa pun teknologi diterapkan, risiko tetap ada. “Kalau telat mengaktifkan genset, ayam bisa mati massal karena kepanasan atau kekurangan oksigen,” jelas Satrio. Ia pernah mengalami situasi ini, yang membuat dirinya kehilangan sebagian besar populasi ayam dalam satu siklus akibat gangguan listrik dan lambatnya peralihan ke genset.

Baca lainnya: Bisnis Olahan Durian, Dari Kue Kering Sampai Es Lumer, Ini Ide Usaha yang Laku Sepanjang Tahun

Banjir dan Harga Pasar: Musuh Selanjutnya

Selain masalah teknis, kondisi alam dan dinamika pasar juga kerap menjadi tantangan berat. Satrio menceritakan, salah satu pengalaman paling kelam dalam perjalanan bisnisnya adalah saat banjir melanda kawasan peternakan. Ribuan ayam mati karena kandang terendam air. Lingkungan yang basah dan lembab membuat penyakit mudah menyebar.

“Kalau kena air, kerendam, itu pasti mati. Kandang basah dan lembab itu penyakit langsung naik,” ujarnya. Tidak hanya itu, peternak juga harus bersiap menghadapi fluktuasi harga ayam hidup di pasaran yang sangat bergantung pada suplai dan permintaan.

Pernah suatu waktu, harga ayam anjlok drastis hingga membuat peternak tidak mampu menjual ayam tepat waktu. “Pernah hampir 67 hari ayam baru habis terjual, padahal standar panen itu 40–45 hari,” katanya.
Situasi itu membuat biaya pakan membengkak, sedangkan ayam yang terlalu besar justru tidak lagi memiliki nilai jual maksimal.

Modal Besar, Perputaran Harus Cepat

Setiap hari, seekor ayam broiler dewasa mengonsumsi sekitar 200 gram pakan, dan ketika berada di puncak pertumbuhan, satu kandang bisa menghabiskan hingga 9 ton pakan per hari. Dengan lima kandang beroperasi, Ken Farm membutuhkan sekitar 45 ton pakan per hari jumlah yang sangat besar dan mahal.

“Kalau dikalkulasi, satu kandang bisa menghabiskan lebih dari Rp 70 juta hanya untuk pakan dalam sehari pada fase puncak,” tutur Satrio. Oleh karena itu, kegagalan panen akibat penyakit, cuaca buruk, atau pasar yang tidak stabil akan langsung berdampak pada kondisi finansial peternak.

“Peternak harus punya cadangan modal minimal untuk dua siklus. Karena ayam itu nggak selamanya bagus,” tambahnya.

Musim Hujan: Masa Paling Menegangkan

Menurut Satrio, musim hujan adalah periode paling rawan dalam peternakan ayam broiler.

“Kelembaban itu nomor satu penyebab ayam tidak nyaman. Sekam jadi basah, dan itu langsung memicu penyakit,” katanya.

Ayam sangat mengandalkan pengaturan suhu tubuh melalui lingkungan. Ketika kelembaban meningkat, stres mudah terjadi, pertumbuhan bobot terhambat, dan konsumsi pakan menurun. Semua itu akan merugikan peternak pada akhirnya.

Peran Manajemen dan Biosekuriti

Untuk menjaga kandang tetap aman, Ken Farm menerapkan prosedur biosekuriti ketat, mulai dari penyemprotan setiap pekerja sebelum masuk kandang hingga penyemprotan antiseptik pada lingkungan sekitar.

“Namanya ayam, penyakit penjagaannya harus ketat. Jangan sampai sekam basah, udara pengap, atau orang luar keluar masuk tanpa disinfeksi,” tegasnya.

Satrio menyebut bahwa dalam bisnis ini, pengawasan harian tidak boleh longgar. Peternak harus benar-benar memahami perilaku ayam, bukan hanya sekadar menunggu hasil panen.

“Beternak ayam itu seni. Harus tahu ayam nyaman atau enggak. Harus sabar,” ujarnya.

Baca lainnya: Mitos dan Fakta Ikan Mas: Antara Keberuntungan, Larangan, dan Kenyataan Ilmiah

Pesan untuk Peternak Pemula

Melihat banyaknya kaum muda yang mulai tertarik masuk ke sektor peternakan, Satrio berpesan agar tidak hanya mengejar keuntungan tanpa memahami risiko.

“Harus mau terjun langsung. Jangan menyerahkan semuanya ke anak kandang,” katanya.

Baginya, keberhasilan tidak hanya soal modal atau teknologi, tetapi juga kedisiplinan, ketelitian, dan mental yang kuat menghadapi situasi tak terduga.

“Jangan pernah menyerah terhadap kegagalan. Akan ada waktunya kita menikmati hasilnya,” ujarnya dengan penuh keyakinan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *