Petikhasil.id — Kopi Jawa Barat tidak benar-benar hilang dari kebun. Pohonnya masih berdiri di Garut, Tasikmalaya, Bandung, hingga Ciamis. Namun bagi pelaku usaha di hilir, mendapatkan kopi dalam volume dan kualitas yang stabil kini semakin sulit. Bukan karena kopi lenyap, melainkan karena panen rakyat kian menipis dan tidak lagi konsisten.
Kondisi ini dirasakan langsung oleh Kiki Supriatna, petani muda Budirahayu Farm di Cibodas, Lembang, yang dikenal sebagai penggerak hortikultura sayur modern. Meski bukan petani kopi, Kiki terlibat dalam jejaring agribisnis pangan dan distribusi hasil pertanian. Dari posisinya itu, ia melihat satu kenyataan yang tak bisa dihindari pasokan kopi dari Jawa Barat semakin sulit dipenuhi.
“Di lapangan bukan tidak ada kopinya, tapi volumenya kecil dan tidak rutin. Untuk kebutuhan pasar, akhirnya kami harus cari pasokan sampai Jawa Timur,” ujar Kiki kepada Petik Hasil, Kamis (18/12/2025).
Pernyataan Kiki bukan berdiri sendiri. Dani Muhamad Yasin, penggerak kopi rakyat di Tasikmalaya, juga menyampaikan hal serupa. Ia menyebut stok kopi di kawasan Bunar, Tasikmalaya, yang selama ini dikenal sebagai salah satu sentra kopi rakyat, kini berada pada fase menipis. “Kebunnya masih ada, tapi hasil panennya jauh berkurang dibanding beberapa tahun lalu,” kata Dani.
Baca Lainya: Dari Kolonial ke Kopi Spesialti, Kisah Abadi Kopi Malabar di Lereng Bandung | Kopi Ciremai dari Lereng Gunung ke Pasar Dunia
Dua suara ini datang dari sisi berbeda, satu dari jejaring pasar dan satu dari kebun. Namun keduanya menunjuk pada satu simpul masalah yang sama: produksi kopi rakyat Jawa Barat sedang melemah secara struktural.
Kebun Tidak Hilang, Produksi yang Menyusut
Secara administratif, Jawa Barat masih tercatat sebagai salah satu provinsi penghasil kopi nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa areal kopi rakyat di Jawa Barat masih tersebar luas, terutama kopi robusta dan arabika di wilayah Priangan Timur dan Selatan.
Namun angka luas lahan sering kali menipu jika dibaca tanpa konteks. Di banyak kebun rakyat, tanaman kopi sudah berusia tua. Pohonnya masih hidup, tetapi produktivitasnya menurun tajam. Peremajaan berjalan lambat, sementara biaya perawatan tetap harus ditanggung petani.
Dani menggambarkan kondisi itu dengan sederhana. Panen kopi di Bunar tidak lagi bisa diandalkan untuk memenuhi permintaan rutin. Petani masih memetik, tetapi hasilnya tipis. Dalam kondisi seperti ini, kopi dijual dalam jumlah kecil, sering kali tanpa konsolidasi volume yang memadai.
Bagi pelaku di hilir, seperti yang dialami Kiki dalam jejaring distribusi pangan, situasi ini menjadi tantangan serius. Pasar tidak hanya membutuhkan kopi yang enak, tetapi juga pasokan yang terjaga. Ketika kopi Jawa Barat tidak mampu memenuhi ritme tersebut, pilihan pun bergeser ke wilayah lain.
Jawa Timur dan Kepastian Pasokan
Keputusan mencari pasokan hingga Jawa Timur bukan soal preferensi daerah, melainkan soal kepastian. Wilayah seperti Malang, Jember, Bondowoso, dan Banyuwangi memiliki struktur produksi kopi yang lebih terkonsolidasi. Banyak kebun sudah diremajakan, kelembagaan petani lebih kuat, dan sistem pascapanen lebih siap memenuhi permintaan volume besar.
Kiki menuturkan bahwa mencari kopi di Jawa Barat kini membutuhkan waktu dan biaya lebih tinggi. “Kalau satu-dua karung masih ada, tapi kalau untuk jaga suplai rutin, itu yang sulit,” ujarnya. Dalam bisnis pangan, ketidakpastian suplai bisa berujung pada kehilangan kepercayaan pasar.
Hal ini tidak berarti kopi Jawa Barat kalah kualitas. Justru sebaliknya, banyak kopi Priangan dikenal memiliki karakter rasa yang khas. Namun tanpa dukungan produksi yang stabil, kualitas saja tidak cukup untuk menopang rantai pasok.
Iklim, Regenerasi, dan Usia Kebun
Penurunan produksi kopi rakyat tidak terjadi dalam ruang hampa. Perubahan iklim ikut memperumit situasi. Pola hujan yang tidak menentu membuat fase berbunga kopi terganggu. Hujan berkepanjangan di fase kritis menyebabkan bunga rontok dan buah gagal berkembang.
Masalah regenerasi juga menjadi simpul penting. Banyak kebun kopi masih dikelola petani berusia lanjut. Anak-anak mereka memilih bekerja di sektor lain. Tanpa regenerasi petani dan peremajaan tanaman, produktivitas kopi sulit kembali ke level ideal.
Dalam konteks ini, pernyataan Dani tentang “menipis” menjadi kata kunci. Kopi Jawa Barat tidak habis, tetapi sedang berada di fase rapuh. Jika tidak ada intervensi serius, penurunan ini bisa menjadi permanen.
Antara Data dan Suara Lapangan
Data resmi mungkin masih mencatat Jawa Barat sebagai produsen kopi. Namun suara Kiki dan Dani menunjukkan bahwa angka produksi tidak selalu sejalan dengan realitas distribusi dan kebutuhan pasar. Ada jarak antara kebun dan meja kopi, dan jarak itu kini semakin terasa.
Baca Lainya: Dari Kolonial ke Kopi Spesialti, Kisah Abadi Kopi Malabar di Lereng Bandung | Kopi Ciremai dari Lereng Gunung ke Pasar Dunia
Bagi Petik Hasil, kisah ini bukan sekadar cerita kopi. Ini adalah potret pertanian rakyat yang bertahan di tengah perubahan iklim, pasar yang menuntut kepastian, dan regenerasi yang belum tuntas.
Menjaga Kopi, Menjaga Arah
Ketika pelaku agribisnis Jawa Barat harus melangkah hingga Jawa Timur demi pasokan kopi, itu bukan tanda kegagalan daerah, melainkan sinyal peringatan. Kopi Jawa Barat masih punya masa depan, tetapi masa depan itu tidak akan datang dengan sendirinya.
Ia membutuhkan peremajaan kebun, konsolidasi petani, dan keberanian generasi muda untuk kembali merawatnya. Jika tidak, kopi akan tetap ada di peta, tetapi semakin jarang di pasar.
Di balik setiap cangkir kopi, ada kerja panjang di kebun. Dan hari ini, kebun-kebun kopi Jawa Barat sedang meminta perhatian lebih, sebelum benar-benar kehabisan cerita.






