Bangkit dari Kegagalan Dadan Menyulap Limbah Kayu Jadi Baglog Jamur di Pangalengan

Petikhasil.id, KAB. BANDUNG — Udara pagi di Pangalengan terasa basah dan lembut. Di antara barisan rumah jamur berdinding plastik gelap dan tiang bambu, Dadan Gunawan (30) memeriksa kelembapan baglog satu per satu. Di dalam ruang lembap itu, aroma serbuk kayu dan embun bercampur menjadi bau khas budidaya jamur.

“Kalau udara terlalu kering, jamurnya mogok tumbuh. Kalau terlalu lembap, malah busuk,” ujarnya kepada Petik Hasil, Kamis (06/11/25).

Dadan bukan nama baru di dunia jamur Pangalengan. Ia tumbuh dari keluarga petani jamur kecil. Namun jalan menuju mandiri tidak semulus kabut pagi di Sukaluyu. “Saya pernah magang tiga tahun di Jepang, dari 2016 sampai 2019,” katanya. “Di sana saya belajar disiplin dan manajemen usaha. Tapi ternyata tantangan sesungguhnya justru waktu pulang ke kampung sendiri.”

Belajar dari Jepang, Bertahan di Tanah Sendiri

Sepulang magang, Dadan tak langsung menjadi pengusaha. Ia mulai dari bawah berjualan jamur segar dan jamur krispi keliling desa. “Banyak yang nyinyir,” ujarnya sambil tersenyum. “Katanya, masa sudah dari Jepang malah jualan jamur. Tapi saya pikir, usaha itu bukan soal gengsi.”

Tahun 2022 menjadi masa paling berat. Modal sekitar Rp 200 juta lenyap karena gagal panen dan pasar lesu. “Sempat mau balik ke Jepang,” kenangnya. Tapi Dadan memilih bertahan. Ia membangun ulang rumah jamurnya dengan bahan sederhana, mengatur ulang sistem sterilisasi, dan memperbaiki pola panen. “Saya belajar dari nol, lagi.”

Kini di lahan kecil di Desa Sukaluyu, Kecamatan Pangalengan, berdiri lima rumah jamur yang ia kelola bersama delapan pekerja lokal. Jenis yang dibudidayakan meliputi jamur kuping, jamur tiram putih, dan jamur tiram coklat.

Tumbuh dari Limbah Kayu

Dadan memproduksi sendiri baglog campuran serbuk gergaji, dedak, dan kapur dengan memanfaatkan limbah pengrajin kayu sekitar. Setelah difermentasi dan disterilkan, baglog itu menjadi media tumbuh bagi ribuan jamur tiram yang berjajar di rak bambu di dalam kumbung.

Dengan cara ini, biaya produksi turun hampir 30 persen. Setiap baglog dapat menghasilkan rata-rata 0,5 ons jamur dalam satu siklus panen. Dalam masa puncak, omzetnya pernah mencapai Rp 3–4 juta per hari. Hasil panen ia jual ke pasar tradisional Bandung Selatan dan beberapa warga sekitar.

Data Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan (2024) mencatat konsumsi jamur nasional baru 0,18 kg per kapita per tahun jauh di bawah rata-rata Asia (1 kg). Potensi pasarnya masih terbuka lebar. Harga rata-rata jamur tiram putih di tingkat produsen mencapai Rp 12–14 ribu/kg, jamur tiram coklat Rp 18–24 ribu/kg, dan jamur kuping Rp 16–17 ribu/kg.

Memberdayakan Lingkungan Sekitar

Delapan karyawan yang bekerja bersamanya seluruhnya warga desa. “Saya ingin anak muda di sini percaya kalau pertanian juga bisa jadi masa depan,” kata Dadan. Ia sering mengadakan pelatihan kecil bagi warga yang ingin belajar membuat baglog atau memelihara jamur. “Kalau mereka bisa bikin sendiri, saya senang. Ilmu itu harus dibagi.”

Bagi Dadan, rumah jamur bukan sekadar tempat produksi, tapi ruang pemberdayaan. Limbah baglog bekas panen ia berikan gratis kepada petani sayur untuk dijadikan pupuk organik. Sistem tertutup ini menjadikan usahanya contoh kecil dari ekonomi sirkular pedesaan: limbah jadi bahan baku, warga jadi tenaga kerja, hasil kembali ke masyarakat.

Makna dari Kesabaran Jamur

Budidaya jamur di dataran tinggi menuntut ketelitian dan kesabaran. Suhu ideal 22–26 °C, kelembapan 85–90 persen, serta kebersihan ruang wajib dijaga. “Jamur itu sensitif. Kalau suasananya nggak tenang, dia juga susah tumbuh,” ucap Dadan setengah bergurau.

Pernyataan itu terdengar sederhana, tapi di sanalah letak filosofi hidupnya. Gagal panen, rugi besar, kehilangan semangat semuanya pernah dialami. Tapi Dadan belajar dari jamur tumbuh pelan-pelan dalam gelap, lalu mekar di waktu yang tepat.

Baca Lainya: Jamur Tiram vs Jamur Kuping: Mana Lebih Cuan untuk Pemula? | Suung: Jamur Liar Musim Hujan yang Jadi Hiburan Anak Desa, Kini Bernilai Gizi Tinggi

Menurut BPS, lebih dari 70 persen pembudidaya jamur di Indonesia berusia di bawah 40 tahun tanda bahwa regenerasi pertanian mulai berjalan. Namun akses modal dan teknologi masih jadi kendala. “Kalau nggak berani jatuh, nggak akan tahu cara bangkit,” katanya.

Menanam Harapan di Sukaluyu

Sore menurun di kaki Pangalengan. Cahaya jingga menembus plastik rumah jamur, menyoroti deretan tiram putih yang merekah. Dari ruang sempit dengan tiang bambu itu, Dadan menumbuhkan lebih dari sekadar jamur ia menumbuhkan harapan.

“Kalau dulu saya malu jualan jamur, sekarang saya bangga,” katanya menutup obrolan. “Dari jamur, saya bisa kerja di kampung, bareng keluarga, dan bantu orang sekitar.”

Usahanya mungkin sederhana, tapi maknanya luas bahwa kebangkitan pertanian Indonesia bisa dimulai dari tangan-tangan muda yang percaya, bahkan di balik dinding plastik dan rak bambu yang lembap. Jangan takut akan gelap seperti jamur, karena dari kegelapan justru menumbuhkan rezeki. (Vry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *