Petikhasil.id, – Daging domba kerap mendapat stigma negatif di masyarakat. Dua anggapan yang paling sering muncul adalah daging domba berbau prengus dan teksturnya keras saat dimasak. Namun benarkah demikian? Atau selama ini kesalahan justru terjadi pada cara pemilihan dan pengolahannya?
Sejumlah praktisi kuliner dan peternak menyebut, anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Bau dan tekstur daging domba sangat dipengaruhi oleh usia ternak, teknik pemotongan, hingga metode memasaknya.
Faktor Penyebab Bau “Prengus”
Aroma khas yang sering disebut sebagai “bau prengus” sebenarnya berasal dari senyawa alami pada lemak domba, terutama pada domba jantan dewasa. Hormon tertentu yang berkembang seiring pertambahan usia membuat aroma menjadi lebih kuat.
Namun, daging domba muda umumnya memiliki aroma yang jauh lebih ringan dan tidak menyengat. Karena itu, pemilihan jenis dan usia ternak menjadi faktor penting.
Beberapa hal yang memengaruhi aroma daging domba antara lain:
- Usia ternak saat dipotong
- Jenis kelamin (jantan dewasa cenderung lebih kuat aromanya)
- Kualitas pakan
- Proses penyembelihan dan penanganan pascapotong
Penanganan yang kurang higienis juga bisa memperkuat aroma tidak sedap. Sebaliknya, proses penyembelihan yang baik dan pengeluaran darah yang sempurna dapat mengurangi bau secara signifikan.
Baca lainnya: Mitos atau Fakta: Menaruh Bawang Merah di Kamar Bisa Menangkal Penyakit?
Tekstur Keras? Bisa Jadi Salah Masak
Selain bau, daging domba juga sering dianggap keras. Padahal, tekstur daging sangat bergantung pada bagian tubuh yang digunakan dan teknik memasaknya.
Bagian paha atau bahu, misalnya, memiliki serat otot lebih padat karena sering digunakan untuk bergerak. Jika dimasak tanpa teknik yang tepat, teksturnya bisa terasa alot.
Namun, ada beberapa cara yang dapat membuat daging domba tetap empuk:
- Memilih daging domba muda
- Menggunakan teknik marinasi dengan bumbu alami
- Memasak dengan metode slow cooking atau pressure cooker
- Mengistirahatkan daging sebelum dipotong setelah dimasak
Teknik seperti memanggang cepat dengan suhu tinggi juga cocok untuk potongan tertentu seperti rack atau loin, yang memang memiliki tekstur lebih lembut.
Peran Bumbu dan Rempah
Kuliner Nusantara sebenarnya sudah lama mengenal cara mengolah daging domba agar nikmat dan tidak berbau tajam. Penggunaan rempah seperti jahe, ketumbar, jintan, serai, dan daun jeruk terbukti efektif menyeimbangkan aroma alami daging.
Selain itu, perasan jeruk nipis atau cuka sebelum dimasak juga sering digunakan untuk membantu menetralisir aroma.
Menariknya, di berbagai negara Timur Tengah dan Asia Selatan, daging domba justru menjadi bahan utama hidangan premium dan tidak dianggap bermasalah dari segi aroma maupun tekstur.
Stigma yang Perlu Diluruskan
Anggapan bahwa semua daging domba bau dan keras sebenarnya lebih merupakan pengalaman subjektif akibat pengolahan yang kurang tepat. Dengan pemilihan bahan yang baik dan teknik memasak yang sesuai, daging domba dapat memiliki cita rasa gurih khas yang justru menjadi daya tarik tersendiri.
Bahkan, banyak pecinta kuliner menilai rasa domba lebih kaya dan kompleks dibanding daging sapi.
Baca lainnya: OPINI: Bungkil Kedelai, Peternak Ayam, serta Isu Rente Ekonomi
Edukasi Konsumen Jadi Kunci
Peningkatan literasi masyarakat mengenai cara memilih dan mengolah daging domba dinilai penting untuk menghapus stigma yang sudah lama melekat. Peternakan modern pun kini semakin memperhatikan kualitas pakan dan sistem pemeliharaan untuk menghasilkan daging dengan aroma lebih ringan dan tekstur optimal.
Dengan informasi yang tepat, daging domba tidak lagi dipandang sebelah mata, melainkan sebagai salah satu sumber protein berkualitas yang layak dikonsumsi secara bijak.






