Petikhasil.id, CIREBON- Tekanan kenaikan harga beras di tingkat produsen mulai terasa di wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan (Ciayumajakuning) pada awal 2026. Data Survei Harga Produsen Beras di penggilingan yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat menunjukkan adanya tekanan harga yang konsisten, baik secara bulanan maupun tahunan, terutama pada beras kualitas premium dan medium.
Pada Januari 2026, rata-rata harga beras di penggilingan Jawa Barat tercatat sebesar Rp13.199 per kilogram. Angka ini mengalami kenaikan 0,87% dibandingkan November 2025.
Plt Kepala BPS Jawa Barat, Darwis Sitorus, menjelaskan kenaikan harga pada saat ini didorong oleh peningkatan harga beras kualitas premium dan medium di tingkat produsen.
“Kenaikan harga beras pada Desember 2025 terjadi secara merata, dengan kontribusi terbesar berasal dari beras kualitas premium yang mengalami peningkatan cukup signifikan,” ujar Darwis, dikutip Jumat (9/1/2026).
Beras premium, dengan persentase patah maksimal 15,00%, mencatat kenaikan harga sebesar 1,38% secara bulanan. Harga beras jenis ini naik dari Rp13.284 per kilogram pada November 2025 menjadi Rp13.467 per kilogram pada Desember 2025. Sementara itu, beras medium dengan persentase patah antara 15,01–25,00% juga mengalami kenaikan, meski lebih terbatas, yakni sebesar 0,39% dari Rp12.886 menjadi Rp12.937 per kilogram.
Darwis menilai, tren kenaikan harga di tingkat produsen ini menjadi sinyal awal adanya tekanan biaya yang berpotensi memengaruhi rantai distribusi hingga ke konsumen.
“Wilayah Ciayumajakuning sebagai sentra produksi beras turut merasakan dinamika harga ini. Perubahan harga di penggilingan berpotensi berdampak ke harga di tingkat grosir dan eceran jika berlangsung dalam periode yang panjang,” katanya.
Berita Lainya: Setahun Pemerintahan Prabowo, Indonesia Cetak Rekor Cadangan Beras dan Capai Swasembada Pangan | Infrastruktur Pertanian dan Manajemen Hama Pengaruhi Harga Beras
Tidak hanya secara bulanan, secara tahunan harga beras di tingkat produsen juga menunjukkan tren meningkat. Rata-rata harga beras pada Januari 2026 tercatat naik 1,61% dibandingkan Desember 2024 yang berada di level Rp12.989 per kilogram. Kenaikan tahunan ini kembali dipicu oleh beras kualitas premium yang mengalami lonjakan harga sebesar 2,56%, disusul beras medium yang naik 2,15%.
Menurut Darwis, kenaikan harga tahunan ini mengindikasikan bahwa level harga beras di tingkat produsen pada akhir 2025 masih lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi ini mencerminkan adanya tekanan struktural pada sektor perberasan, mulai dari biaya produksi, distribusi, hingga faktor cuaca yang memengaruhi pasokan gabah.
Di wilayah Ciayumajakuning, kenaikan harga beras produsen menjadi perhatian karena kawasan ini berperan penting dalam menjaga pasokan beras regional. Darwis menegaskan, pemantauan harga produsen menjadi krusial sebagai dasar perumusan kebijakan pengendalian inflasi pangan.
“Data harga produsen memberikan gambaran awal tentang pergerakan harga beras ke depan. Ini penting untuk menjaga stabilitas pasokan dan daya beli masyarakat,” ujarnya.






