Petikhasil.id, YOGYAKARTA – Di tengah obrolan tentang buah eksotis dan tren pangan sehat, ada satu buah lokal yang justru terasa seperti cerita lama yang muncul kembali. Namanya kepel, sebagian orang menyebutnya burahol. Buah ini tidak mudah ditemukan di pasar harian. Ia lebih sering hadir sebagai pohon tua di halaman, di sudut kebun koleksi, atau di lingkungan yang menyimpan jejak sejarah.
Kepel punya posisi khusus di Yogyakarta. Pemerintah daerah menetapkan kepel sebagai flora identitas Daerah Istimewa Yogyakarta melalui keputusan gubernur pada 1992. Pada laman resmi budaya Pemda DIY, kepel disebut sebagai tumbuhan identitas yang keberadaannya kini makin jarang ditemui, meski belum masuk daftar flora dilindungi dan belum tercantum dalam IUCN Red List.
Baca Lainya: Fakta Unik Semangka yang Jarang Diketahui Banyak Orang | Picung, Rasa Hutan Sunda yang Perlahan Menghilang
Keunikan kepel tidak hanya pada label identitasnya. Pohon ini berbuah dengan cara yang membuat orang berhenti sejenak. Buahnya sering muncul bergerombol menempel pada batang, bukan hanya di ujung ranting. Dalam catatan lembaga konservasi tanaman, kepel dikenal memiliki buah yang tumbuh di batang, sebuah ciri yang membuatnya tampak seperti pohon yang sedang memamerkan panen langsung dari tubuhnya sendiri.
Mengapa kepel dulu terasa dekat dengan keraton
Kepel punya reputasi yang membuatnya selalu dikaitkan dengan tradisi Jawa. Dalam arsip Slow Food Ark of Taste, kepel disebut digunakan sebagai pengharum mulut di Jawa dan diyakini membantu memperbaiki bau tubuh. Catatan itu juga menyinggung kebiasaan memungut buah matang yang jatuh, karena buah yang masih menempel cenderung pahit atau asam.

Literatur ilmiah juga menyinggung fungsi tradisional tersebut. Sebuah publikasi tentang kepel sebagai deodoran oral menyebut buah kepel secara tradisional digunakan oleh keluarga bangsawan di Jawa, termasuk terkait lingkungan keraton Yogyakarta, untuk membantu mengatasi bau tidak sedap.
Kisah semacam ini yang membuat kepel tidak pernah sekadar buah. Ia menjadi simbol gaya hidup masa lampau, ketika halaman keraton bukan hanya ruang estetika, tetapi juga ruang botani. Ketika orang menyebut kepel, yang diingat bukan cuma rasa, melainkan atmosfer. Ada wangi daun, ada teduh, ada sesuatu yang tenang.
Langka bukan karena tidak bisa tumbuh, tetapi karena tidak lagi ditanam
Banyak buah lokal hilang dari keseharian bukan karena tanah Indonesia tidak cocok, melainkan karena tidak ada regenerasi pohon. Kepel punya tantangan yang khas. Pertumbuhannya tidak secepat tanaman buah populer, dan perbanyakannya melalui biji membutuhkan kesabaran.
Dokumen akademik dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menjelaskan budidaya kepel dapat dilakukan dengan biji, tetapi memerlukan waktu lama karena cangkang bijinya keras. Kondisi ini membuat perkecambahan tidak instan, dan jika tidak ditangani dengan baik, bibit bisa gagal sejak awal.
Baca Lainya: Fakta Unik Semangka yang Jarang Diketahui Banyak Orang | Picung, Rasa Hutan Sunda yang Perlahan Menghilang
Di tingkat lapangan, media pertanian Trubus menulis tentang upaya perbanyakan kepel dengan memecah dormansi biji. Praktiknya melibatkan perendaman air panas singkat lalu perendaman air dingin untuk membantu biji yang kulitnya keras, sebelum disemai pada media campuran tanah, pasir, dan pupuk kandang. Ini detail yang terasa teknis, tetapi sebenarnya menyiratkan satu hal sederhana. Kepel butuh diperlakukan dengan telaten sejak tahap bibit.
Ketika tanaman buah lain bisa dibeli bibitnya lalu cepat berbuah, kepel menuntut hubungan yang lebih panjang. Di era serba cepat, hubungan panjang seperti ini sering kalah oleh tanaman yang lebih segera menghasilkan.
Upaya mempercepat kepel lewat sambung pucuk
Karena perbanyakan biji cenderung lama, riset perbanyakan vegetatif mulai dilirik. Pada repositori Kementerian Pertanian, ada ringkasan penelitian yang menjelaskan kepel umumnya diperbanyak melalui biji, sehingga untuk memperbaiki kualitas dan mempercepat masa produksi diperlukan perbanyakan secara sambung pucuk. Penelitian tersebut dilakukan di rumah kaca Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat.

Riset semacam ini penting untuk masa depan kepel. Ketika bibit bisa dipercepat dan kualitas tanaman bisa lebih seragam, peluang kepel masuk ke pekarangan warga menjadi lebih besar. Artinya, kepel bisa kembali menjadi pohon yang akrab, bukan hanya pohon koleksi.
Status konservasi yang terasa menggantung
Ada fakta menarik yang sering luput. Kepel banyak disebut langka, tetapi status perlindungannya tidak selalu jelas di mata publik. Artikel ilmiah di Agroteknika menyebut kepel sebagai flora identitas DIY yang sulit ditemui. Tulisan itu juga mencatat bahwa berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup P.106 tahun 2018, kepel belum masuk golongan tumbuhan yang harus dilindungi, dan belum masuk daftar IUCN Red List. Namun ada rujukan yang menggolongkannya sebagai conservation dependent, artinya keberlanjutannya bergantung pada campur tangan manusia.
Di sini letak kerentanannya. Tanaman yang tidak populer di pasar dan tidak punya perlindungan formal bisa hilang pelan pelan. Bukan karena ditebang massal, tetapi karena tidak pernah ditanam ulang. Ketika satu pohon tua tumbang, ia membawa pergi satu generasi cerita.
Kepel sebagai buah yang bisa kembali relevan
Kalau kepel hanya disimpan sebagai simbol keraton, ia akan terus menjadi eksklusif dan langka. Tetapi kepel sebenarnya punya peluang untuk kembali relevan, terutama lewat dua jalur.
Jalur pertama adalah jalur budaya dan wisata. Kepel bisa hadir sebagai bagian dari narasi identitas Yogyakarta yang lebih luas. Ia bukan sekadar dekorasi, tetapi titik cerita tentang bagaimana masyarakat Jawa merawat tanaman yang punya fungsi, aroma, dan nilai simbolik. Laman budaya Pemda DIY menekankan kepel sebagai identitas flora yang kini jarang, dan narasi semacam ini bisa menjadi penggerak program penanaman kembali di ruang publik dan sekolah.
Jalur kedua adalah jalur pangan khas yang terlindungi. Kepel sudah tercatat di Slow Food Ark of Taste, sebuah katalog pangan yang dinilai layak diselamatkan karena memiliki nilai budaya dan terancam hilang. Ini bukan jaminan pasar, tetapi sinyal bahwa kepel memiliki daya tarik global sebagai buah langka yang punya cerita kuat.

Keduanya bertemu pada satu kebutuhan yang sama. Kepel harus ditanam. Harus ada bibit, harus ada orang yang mau menunggu, dan harus ada tempat yang memberi ruang bagi pohon untuk tumbuh besar.
Menanam kepel berarti menanam waktu
Di banyak desa, orang sering bilang pohon buah adalah warisan. Kepel mungkin adalah contoh paling jelas dari warisan yang butuh kesadaran kolektif. Ia tidak akan ramai tanpa kerja sunyi. Tetapi ketika ia kembali tumbuh di halaman rumah, kepel membawa sesuatu yang lebih dari panen. Ia membawa memori, identitas, dan rasa yang tidak bisa digantikan oleh buah impor apa pun.
Menyelamatkan kepel tidak harus dimulai dari proyek besar. Ia bisa dimulai dari satu bibit yang disemai dengan sabar. Dari satu halaman yang rela teduh. Dari satu keputusan untuk menanam buah yang mungkin tidak langsung memberi hasil, tapi memberi makna. (vry)






