Budidaya Ikan di Tengah Waduk Murah Modal, Tinggi Risiko?

Petikhasil.id, BANDUNG BARAT – Di balik gemericik air tenang Waduk Saguling, terdapat perjuangan keras para pembudidaya ikan yang menggantungkan hidup dari keramba jaring apung (KJA). Dari luar, profesi ini terlihat sederhana dan menjanjikan. Namun di baliknya, terdapat risiko besar yang bisa membuat hasil panen berlimpah berubah jadi kerugian dalam semalam.

Salah satu pembudidaya, Dian (40), menceritakan bahwa budidaya ikan di tengah waduk memang bisa dimulai dengan modal relatif kecil. Namun, semakin lama dijalani, tantangan dan risiko yang dihadapi juga semakin besar.

“Awal-awal dulu gampang, cuma perlu bikin jaring, beli bibit, sama kasih pakan. Sekarang mah banyak yang harus diperhatiin, dari kualitas air sampai cuaca,” ujarnya.

Murah di Awal, Mahal di Tengah Jalan

Dian mengungkapkan, untuk memulai satu unit KJA ukuran 7×7 meter, modal awal yang dibutuhkan sekitar Rp40–50 juta. Modal itu digunakan untuk membeli kerangka rakit, jaring, drum pelampung, serta bibit ikan mas atau nila.

“Kalau dibanding usaha di darat, ini masih lebih ringan. Tapi yang bikin mahal itu di tengah jalan pakan, perawatan, sama risiko kematian ikan,” katanya.

Menurutnya, biaya pakan menjadi beban terbesar dalam budidaya ikan. Dalam satu siklus panen tiga bulan, satu unit KJA bisa menghabiskan hingga dua ton pakan senilai lebih dari Rp20 juta.

“Kalau harga ikan turun atau ikan mati, ya rugi besar. Karena modalnya sudah terlanjur keluar,” tambahnya.

Ketika Cuaca Jadi Musuh Utama

Cuaca ekstrem menjadi salah satu tantangan paling menakutkan bagi para pembudidaya. Dalam kondisi normal, ikan bisa tumbuh sehat dan panen lancar. Namun ketika hujan deras turun berhari-hari atau suhu air tiba-tiba berubah, risiko kematian massal menghantui.

“Kalau suhu air turun drastis, ikan stres. Nafsu makannya hilang, kadang langsung mati mendadak. Belum lagi kalau terjadi upwelling, air dasar yang kotor naik ke atas, bisa habis semua,” ungkap Dian.

Ia mengaku sudah dua kali mengalami kejadian ikan mati massal. “Rugi sampai puluhan juta. Dan itu nggak bisa diselamatin, cuma bisa ikhlas,” katanya lirih.


Baca lainnya: Menguak Mitos dan Fakta Durian: Benarkah Tidak Boleh Dimakan dengan Kopi dan Susu?


Harga Ikan yang Tidak Stabil

Selain faktor alam, pembudidaya juga harus berhadapan dengan fluktuasi harga pasar. Di musim tertentu, harga ikan bisa anjlok karena pasokan melimpah dari berbagai daerah.

“Kadang panen bareng-bareng, semua jualan ikan mas. Harganya langsung jatuh dari Rp35 ribu ke Rp25 ribu per kilo. Sementara biaya pakan tetap sama,” jelas Dian.

Untuk menyiasatinya, sebagian pembudidaya mencoba menyimpan ikan lebih lama agar dijual saat harga naik. Tapi itu pun penuh risiko. “Kalau kelamaan di kolam, ikan bisa stres, sakit, atau malah mati,” tambahnya.

Minim Bantuan dan Pendampingan

Meski budidaya ikan di waduk telah berlangsung puluhan tahun, para pelaku mengaku minim pendampingan teknis dari pemerintah. Banyak pembudidaya yang masih mengandalkan pengalaman pribadi atau saling belajar antar sesama petani ikan.

“Belum pernah ada pelatihan rutin. Kadang ada petugas datang, tapi cuma sebentar. Padahal kami butuh arahan soal cara ngatur pakan, cara atasi penyakit ikan, atau cara deteksi kualitas air,” kata Dian.

Padahal, menurutnya, pengetahuan dasar semacam itu sangat penting untuk mencegah kerugian besar. “Kalau air udah keruh atau oksigen kurang, bisa gagal panen semua,” ujarnya.

Risiko Lingkungan yang Tak Bisa Diabaikan

Selain tantangan teknis, pembudidaya juga menghadapi tekanan sosial karena dituding menjadi penyebab pencemaran waduk. Sisa pakan dan kotoran ikan disebut-sebut mempercepat proses pendangkalan dan menurunkan kualitas air.

“Ya kita nggak munafik, memang ada sisa pakan. Tapi kalau dibilang penyebab utama, itu nggak adil. Waduk ini juga nerima limbah dari atas sana, dari rumah tangga dan pabrik,” jelas Dian.

Namun, sebagian pembudidaya kini mulai berbenah. Mereka mengurangi jumlah ikan per jaring dan menggunakan pakan lebih efisien. “Kita juga belajar dari kesalahan. Kalau air rusak, kita juga yang rugi,” tegasnya.

Kolaborasi dan Inovasi

Meski dihadapkan pada banyak risiko, pembudidaya di Saguling tidak menyerah. Mereka mulai membentuk kelompok tani perikanan untuk saling membantu, baik dari sisi modal maupun pemasaran. “Kalau sendirian susah, jadi sekarang kami bareng-bareng. Ada yang bantu beli pakan, ada yang bantu jual ke pengepul,” kata Dian.

Beberapa kelompok juga mencoba menggunakan teknologi sederhana seperti blower oksigen, pakan terapung hemat limbah, dan sensor kualitas air murah. “Masih manual sih, tapi lumayan membantu. Paling nggak kita tahu kapan air mulai nggak bagus, jadi bisa antisipasi,” jelasnya.

Potensi Besar Jika Dikelola dengan Benar

Menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan, produksi ikan air tawar dari waduk di Jawa Barat termasuk Saguling, Cirata, dan Jatiluhur bisa mencapai ratusan ribu ton per tahun. Artinya, sektor ini memiliki potensi ekonomi besar jika dikelola dengan sistem yang lebih modern dan ramah lingkungan.

“Kalau pemerintah mau bantu pembudidaya pakai teknologi, bantu modal, dan bikin aturan yang jelas, ini bisa jadi sektor andalan. Karena permintaan ikan segar terus meningkat,” ujar Dian optimis.

Ia menambahkan, banyak generasi muda yang sebenarnya tertarik untuk ikut budidaya ikan, tapi terkendala akses modal dan izin. “Kalau ada kepastian, saya yakin banyak anak muda mau turun ke air juga,” katanya.


Baca lainnya: Ini Daerah Penghasil Durian Terbaik di Indonesia Beserta Ciri Khas Rasanya


Kisah Keteguhan di Tengah Gelombang

Bagi Dian dan ribuan pembudidaya lain, waduk bukan sekadar tempat mencari uang tapi juga tempat mereka membangun harapan. “Setiap pagi saya datang ke keramba, kasih makan ikan, lihat air, lihat langit. Kadang tenang, kadang deg-degan. Tapi di situlah hidup kami,” tuturnya.

Mereka sadar, budidaya ikan di tengah waduk bukan usaha instan. Di balik modal kecil dan hasil yang menggiurkan, ada resiko tinggi, kerja keras, dan ketidakpastian yang selalu mengintai.

Namun, seperti air yang terus mengalir, semangat mereka juga tidak pernah padam. “Selama masih ada air di waduk ini, kami akan terus berusaha. Karena ini satu-satunya yang kami bisa,” kata Dian dengan senyum kecil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *