Budidaya Jamur Tiram dan Kuping di Daerah Lembab, Ini Strategi Genkinoko Farm Pangalengan Jaga Kualitas

Petikhasil.id, PANGALENGAN – Budidaya jamur dikenal sebagai usaha yang sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, terutama suhu dan kelembaban. Di daerah dengan tingkat kelembaban tinggi seperti Pangalengan, Kabupaten Bandung, tantangan tersebut justru semakin besar. Namun di tangan Genkinoko Farm Pangalengan, budidaya jamur tiram dan jamur kuping tetap bisa berjalan stabil dan berkualitas tinggi.

Usaha yang dirintis oleh Dadan Gunawan ini menjadi contoh bagaimana strategi pengelolaan lingkungan yang tepat mampu menjaga kualitas jamur meski berada di wilayah lembab.

Pangalengan dan Tantangan Kelembaban Tinggi

Pangalengan merupakan daerah dataran tinggi dengan suhu sejuk dan kelembaban udara yang relatif tinggi sepanjang tahun. Kondisi ini sebenarnya cocok untuk pertumbuhan jamur, namun jika tidak dikontrol dengan baik, justru dapat memicu berbagai masalah.

Kelembaban berlebih dapat menyebabkan:

  • Jamur mudah terserang penyakit
  • Kadar air jamur terlalu tinggi
  • Jamur cepat busuk saat dipasarkan
  • Meningkatnya risiko kontaminasi

Masalah-masalah inilah yang sejak awal menjadi perhatian utama Genkinoko Farm.

Fokus pada Jamur Tiram dan Jamur Kuping

Genkinoko Farm Pangalengan saat ini memfokuskan produksi pada tiga jenis jamur utama, yaitu jamur tiram putih, jamur tiram coklat, dan jamur kuping.

Jamur tiram putih dan coklat memiliki siklus panen yang cepat, sekitar 35–40 hari sejak inokulasi. Sementara jamur kuping membutuhkan waktu lebih lama, sekitar dua bulan, namun memiliki daya simpan lebih baik dan lebih toleran terhadap kondisi media tertentu.

Setiap jenis jamur memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga strategi perawatannya pun harus disesuaikan.

Baca lainnya: Serbuk Kayu Jadi Rupiah, Perjalanan Petani Jamur di Pangalengan Mengubah Limbah Jadi Sumber Penghasilan

Pengaturan Kumbung untuk Daerah Lembab

Salah satu kunci keberhasilan budidaya jamur di daerah lembab adalah pengelolaan kumbung. Di Genkinoko Farm, kumbung jamur dirancang agar tetap sejuk, gelap, dan memiliki sirkulasi udara yang cukup.

Beberapa strategi yang diterapkan antara lain:

  • Menjaga kebersihan lantai kumbung dengan taburan kapur
  • Mengatur ventilasi agar udara tetap mengalir
  • Menghindari sinar matahari langsung
  • Menjaga kelembaban ideal tanpa membuat ruangan terlalu basah

Menurut Dadan, jamur membutuhkan lingkungan yang stabil. Perubahan suhu dan kelembaban yang drastis justru menjadi pemicu kegagalan produksi.

Menjaga Kadar Air Jamur Tetap Ideal

Salah satu tantangan terbesar di daerah lembab adalah kadar air jamur yang terlalu tinggi. Jamur dengan kandungan air berlebih cenderung cepat busuk dan kurang diminati pasar.

Genkinoko Farm menjaga kadar air jamur agar tetap rendah dengan:

  • Mengatur waktu dan intensitas penyiraman
  • Memanen jamur pada waktu yang tepat
  • Menyesuaikan kelembaban kumbung sesuai kondisi cuaca

Di wilayah Pangalengan yang lembab, jamur dipanen pada kisaran kadar air 12–13 persen, sehingga teksturnya lebih kering dan tahan lebih lama.

Media Tanam yang Tepat dan Steril

Media tanam juga memegang peranan penting dalam menjaga kualitas jamur. Genkinoko Farm menggunakan media berbahan serbuk gergaji kayu yang dicampur dengan bekatul dan kapur.

Proses sterilisasi dilakukan selama 4–6 jam dengan suhu sekitar 110 derajat, lalu dilanjutkan dengan inokulasi bibit dan inkubasi selama kurang lebih tiga minggu.

Sterilisasi yang baik menjadi kunci utama untuk menekan risiko kontaminasi, terutama di lingkungan lembab yang rentan terhadap jamur liar dan bakteri.

Pengendalian Hama Secara Sederhana tapi Efektif

Kelembaban tinggi juga memicu berkembangnya hama seperti lalat dan nyamuk. Di Genkinoko Farm, pengendalian hama dilakukan dengan cara sederhana namun efektif, antara lain:

  • Memasang perangkap lalat
  • Menaburkan kapur di sekitar kumbung
  • Menjaga kebersihan lingkungan produksi

Langkah ini bertujuan memutus siklus hidup hama agar tidak mengganggu pertumbuhan miselium jamur.

Waktu Panen Menentukan Kualitas

Penentuan waktu panen menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas jamur. Di Genkinoko Farm:

  • Jamur tiram dipanen sekitar tiga hari setelah muncul pinhead
  • Jamur kuping dipanen sekitar tujuh hari setelah pinhead, saat bentuknya lebar dan tepi bergerigi

Panen yang tepat waktu menghasilkan jamur dengan ukuran optimal, tekstur baik, dan daya simpan lebih lama.

Baca lainnya: Panen Meningkat Jadi 8 Ton per Hektare, Petani Cianjur Terima Satyalancana Wira Karya

Produksi Stabil di Tengah Permintaan Tinggi

Dengan strategi tersebut, Genkinoko Farm Pangalengan mampu menjaga produksi tetap stabil meski berada di daerah lembab. Saat ini, rata-rata hasil panen meliputi:

  • Jamur tiram putih: 100–200 kg per hari
  • Jamur tiram coklat: 10–50 kg per hari
  • Jamur kuping: panen serempak hingga 300 kg per periode

Permintaan pasar lokal Pangalengan bahkan masih lebih tinggi dibandingkan kapasitas produksi yang ada.

Strategi yang Bisa Ditiru Petani Jamur Pemula

Pengalaman Genkinoko Farm memberikan pelajaran penting bagi petani jamur, khususnya yang berada di daerah lembab. Beberapa strategi yang bisa diterapkan antara lain:

  • Jaga kebersihan kumbung secara konsisten
  • Jangan berlebihan dalam penyiraman
  • Pastikan sterilisasi media benar-benar optimal
  • Panen jamur tepat waktu sesuai jenisnya

Menjadikan Kelembaban sebagai Keunggulan

Bagi Dadan Gunawan, kondisi alam Pangalengan bukan hambatan, melainkan potensi. Dengan pengelolaan yang tepat, kelembaban justru membantu pertumbuhan jamur menjadi lebih optimal.

Genkinoko Farm Pangalengan membuktikan bahwa budidaya jamur tiram dan kuping di daerah lembab tetap bisa menghasilkan produk berkualitas dan bernilai ekonomi tinggi. Kuncinya ada pada strategi, disiplin, dan konsistensi dalam menjaga lingkungan produksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *