Petikhasil.id, CILILIN — Tak semua keputusan hidup disambut tepuk tangan. Bagi Ikhsan Ambiya, memilih bertani cabai di Cililin, Kabupaten Bandung Barat, justru dimulai dari keraguan orang-orang terdekat. Keluarga sempat mempertanyakan pilihannya. Istri pun tak langsung yakin. Di tengah bayangan pekerjaan kantoran yang dianggap lebih “aman”, Ikhsan memilih jalan yang berdebu, panas, dan penuh ketidakpastian lahan cabai rakyat.
“Waktu itu yang paling berat bukan di lahannya, tapi di rumah,” kata Ikhsan kepada Petik Hasil. Bertani cabai dipandang berisiko, harga naik-turun, hama datang tanpa aba-aba, dan modal bisa habis dalam satu musim. Kekhawatiran itu masuk akal. Cabai dikenal sebagai komoditas sensitif, yang kerap jadi penentu inflasi dan bahan perbincangan nasional saat harganya melonjak atau anjlok.
Berita Lainya: Harga Cabai dan Telur Naik, Inflasi Kota Cirebon Kian Mendidih | Tips Menanam Cabai Agar Tak Gagal Panen
Namun Ikhsan tetap melangkah. Bukan karena nekat, melainkan karena ia melihat sesuatu yang sering luput dari pandangan: cabai adalah tanaman cepat panen, permintaannya nyaris tak pernah putus, dan jika dikelola dengan disiplin, ia bisa menjadi penopang ekonomi keluarga.
Lahan, Kesabaran, dan Keputusan yang Dipertaruhkan
Cililin bukan nama asing dalam peta pertanian Bandung Barat. Wilayah ini memiliki tanah yang cukup subur dan iklim yang mendukung hortikultura. Tetapi kesuburan tanah tak otomatis menjamin keberhasilan. Ikhsan memulai dari skala kecil, belajar dari kegagalan musim demi musim. Pernah merugi karena hujan berkepanjangan, pernah panen bagus tapi harga jatuh, dan pernah pula harus mengatur ulang strategi tanam karena serangan penyakit.
Di fase-fase itu, tekanan keluarga kembali muncul. “Kalau gagal, apa rencananya?” adalah pertanyaan yang kerap datang. Ikhsan memilih menjawabnya bukan dengan debat, melainkan dengan ketekunan. Ia memperbaiki manajemen tanam, mengatur jadwal tanam agar tak bersamaan dengan puncak panen wilayah lain, dan mulai lebih serius mencatat biaya serta hasil.
Di titik inilah pertanian berubah dari sekadar kerja fisik menjadi kerja berpikir. Bertani cabai tidak lagi hanya soal menanam dan memanen, tetapi membaca pasar, cuaca, dan ritme suplai.
Cabai Rakyat dan Realitas Angka
Secara nasional, cabai adalah komoditas strategis. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa cabai merah dan cabai rawit termasuk komoditas hortikultura dengan kontribusi besar terhadap fluktuasi harga pangan. Jawa Barat sendiri merupakan salah satu sentra produksi cabai nasional, dengan produksi yang tersebar di Garut, Tasikmalaya, Ciamis, hingga Bandung Barat.
Namun angka produksi sering kali menutupi cerita di baliknya. Di tingkat petani, keuntungan tidak ditentukan oleh produksi semata, melainkan oleh timing panen dan efisiensi biaya. Ikhsan menyadari hal itu sejak awal. Ia tidak mengejar panen terbesar, melainkan panen yang tepat waktu.
Dalam beberapa musim terakhir, hasilnya mulai terasa. Ketika harga cabai berada di level baik dan panen berjalan sesuai rencana, pendapatan dari satu musim tanam mampu menyaingi bahkan melampaui penghasilan kerja kantoran yang dulu dianggap lebih pasti. “Bukan setiap musim selalu tinggi, tapi kalau dihitung setahun, hasilnya jauh lebih masuk akal,” ujarnya.
Dari Keraguan Istri hingga Keyakinan Bersama
Perubahan paling nyata justru terjadi di rumah. Istri Ikhsan yang semula ragu, perlahan melihat bahwa pertanian bukan pilihan asal-asalan. Ketika hasil panen bisa menutup biaya rumah tangga, pendidikan anak, dan masih menyisakan tabungan, kepercayaan itu tumbuh.
“Sekarang yang paling cerewet justru istri soal jadwal tanam,” Ikhsan tertawa. Dari yang semula khawatir, kini ikut terlibat dalam perencanaan. Pertanian tak lagi dipandang sebagai pekerjaan kelas dua, melainkan sebagai usaha keluarga.
Cerita ini bukan tentang romantisasi tani, melainkan tentang perubahan sudut pandang. Bertani cabai memang penuh risiko, tetapi risiko itu bisa dikelola. Dan ketika dikelola dengan baik, hasilnya nyata.
Menjadi Petani, Menjadi Penghubung
Di luar lahannya sendiri, Ikhsan aktif di komunitas petani cabai. Ia kerap berbagi pengalaman, dari teknik tanam hingga membaca pasar. Baginya, bertani tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Ketika panen bersamaan tanpa koordinasi, harga bisa jatuh. Ketika informasi terlambat, kerugian tak terhindarkan.
Peran komunitas menjadi penting, bukan hanya untuk berbagi ilmu, tetapi juga untuk menjaga mental petani. “Yang sering bikin petani tumbang itu bukan gagal panen, tapi putus asa,” katanya.
Cabai, Harga, dan Martabat Pilihan Hidup
Di tengah stigma bahwa bertani adalah pilihan terakhir, kisah Ikhsan menawarkan narasi lain. Bahwa bertani cabai bisa menjadi pilihan sadar, rasional, dan bermartabat. Bukan tanpa tantangan, tetapi juga bukan tanpa harapan.
Berita Lainya: Harga Cabai dan Telur Naik, Inflasi Kota Cirebon Kian Mendidih | Tips Menanam Cabai Agar Tak Gagal Panen
Pertanian tidak menjanjikan gaji bulanan tetap. Tetapi ia memberi ruang bagi kerja keras untuk benar-benar dihargai. Dalam satu musim, hasilnya bisa nol. Di musim lain, ia bisa mengubah nasib.
Bagi Ikhsan, hasil yang paling membanggakan bukan angka di akhir panen, melainkan pengakuan diam-diam dari orang-orang yang dulu meragukan. Bahwa pilihan yang sempat ditentang itu ternyata bukan jalan buntu.
Di lahan cabai Cililin, keputusan hidup itu tumbuh bersama tanaman yang merah menyala. Pedas, menantang, tapi memberi rasa yang jujur. Seperti hidup yang dipilih dengan sadar, lalu dijalani dengan sepenuh hati. (Vry)






