Dari Empat Kolam ke Enam Puluh Empat KJA: Kisah Perjuangan Pembudidaya Ikan di Waduk Saguling

Petikhasil.id, BANDUNG BARAT – Di permukaan Waduk Saguling yang luas, jaring-jaring apung berjejer rapi seperti mozaik biru di antara perbukitan hijau. Di sanalah kehidupan puluhan pembudidaya ikan bergantung, termasuk Dian Prayoga, generasi kedua yang kini meneruskan usaha keluarganya setelah sang ayah merintisnya sejak puluhan tahun lalu.

“Waktu orang tua mulai dulu itu cuma punya empat kolam kecil,” kenang Dian, ditemui di dermaga kecil tempat perahunya bersandar. “Sekarang alhamdulillah sudah berkembang sampai enam puluh empat keramba. Semua prosesnya pelan-pelan, dari hasil kerja keras bertahun-tahun.”

Awal Mula Budidaya di Waduk Saguling

Waduk Saguling, yang dibangun pada tahun 1985 sebagai bagian dari proyek PLTA Indonesia Power, mengubah wajah wilayah Bandung Barat. Lahan-lahan pertanian yang dulu subur berubah menjadi genangan air luas. Namun, dari perubahan itu lahir peluang baru: budidaya ikan air tawar sistem keramba jaring apung (KJA).

“Awalnya pemerintah kasih pelatihan ke warga yang kehilangan lahan. Orang tua saya ikut waktu itu. Cuma punya satu unit empat kolam kecil,” kata Dian. “Dari situlah mulai belajar budidaya ikan mas dan nila.”

Seiring waktu, usaha itu berkembang. Hasil panen yang stabil membuat banyak warga lain ikut mencoba. Saguling pun menjelma menjadi salah satu sentra pembesaran ikan air tawar terbesar di Jawa Barat, sejajar dengan Waduk Cirata dan Jatiluhur.


Baca lainnya: Menguak Mitos dan Fakta Durian: Benarkah Tidak Boleh Dimakan dengan Kopi dan Susu?


Ikan Mas dan Nila, Komoditas Utama Saguling

Hingga kini, ikan mas dan ikan nila menjadi komoditas unggulan di Waduk Saguling. Kedua jenis ikan ini memiliki pasar yang luas, baik untuk konsumsi rumah tangga, restoran, hingga pemancingan.

“Kalau di Saguling, yang paling banyak itu ikan mas dan nila. Dua-duanya paling laku. Gurame, lele, dan patin juga ada, tapi skalanya kecil,” jelas Dian.

Setiap unit keramba miliknya berukuran sekitar 7×7 meter, dan biasanya terdiri dari tiga jaring (engkel) serta satu lapisan pelindung (color) berukuran 14×14 meter. Lapisan ini berfungsi sebagai jaring cadangan jika lapisan atas bocor.

“Kalau satu jaring biasanya kita isi sekitar satu kuintal bibit. Dari situ bisa menghasilkan satu ton ikan kalau semuanya berjalan baik,” ujarnya.

Ikan mas biasanya siap panen dalam waktu dua hingga tiga bulan, sementara ikan nila memerlukan lima hingga enam bulan. Dalam sebulan, usaha Dian bisa menghasilkan ikan mas hampir setiap dua atau tiga hari sekali dengan volume sekitar satu ton per panen.

Bertahan di Tengah Cuaca yang Tak Menentu

Meski terlihat tenang di permukaan, budidaya di Waduk Saguling menyimpan risiko besar. Salah satunya adalah fenomena upwelling, ketika air dari dasar waduk naik ke permukaan dan membawa gas beracun serta lumpur dingin yang menurunkan kadar oksigen di air.

“Kalau sudah kena upwelling, bisa mati ribuan ikan dalam semalam,” ujar Dian. “Kita enggak bisa berbuat banyak. Mau dikasih aerator juga enggak mempan. Karena upwelling itu fenomena alami.”

Ia menambahkan, perubahan iklim dan cuaca ekstrem semakin mempersulit prediksi kondisi air. “Dulu masih bisa ditebak, kapan musim hujan, kapan kemarau. Sekarang kadang panas lama banget, air surut, tiba-tiba hujan besar berhari-hari. Langsung muncul upwelling.”

Dinas perikanan setempat memang sudah memberi sejumlah saran untuk menghadapi fenomena ini, seperti mengurangi kepadatan tebar ikan menjelang musim penghujan, atau segera memanen ikan yang sudah siap. “Kalau kelihatan tanda-tanda airnya berubah warna, langsung panen aja. Jangan ditahan,” ujar Dian menirukan saran petugas.

Modal Besar, Untung Tipis

Meski terlihat sederhana, membangun satu unit keramba bukan perkara murah. Menurut Dian, untuk membuat enam kotak keramba baru saja bisa menelan biaya hingga Rp50 juta, belum termasuk bibit dan pakan.

“Harga jaring, bambu, drum, dan rakit terus naik. Sekarang harga pakan juga rata-rata sepuluh sampai sebelas ribu per kilo, dan enggak pernah turun,” katanya.

Untuk menekan biaya, pembudidaya seperti Dian kerap menggunakan pakan alternatif dari limbah makanan seperti sisa roti, mie, sosis, atau keju BS (barang sisa). “Kita campur sama pakan pabrikan. Lumayan bisa ngurangin biaya pakan. Tapi ya, hasilnya juga enggak selalu stabil,” ujarnya.

Dengan kondisi itu, margin keuntungan pun makin tipis. “Kalau dulu satu jaring bisa hasilin dua ton, sekarang paling satu ton. Itu pun kalau cuaca bagus dan enggak ada ikan mati,” katanya.

Lapangan Kerja untuk Warga Sekitar

Meskipun penuh risiko, usaha budidaya ini memberi manfaat ekonomi besar bagi warga sekitar Waduk Saguling. Dalam operasional sehari-hari, Dian mempekerjakan sekitar 15 orang warga setempat sebagai penjaga keramba, pengangkut pakan, dan sopir pengiriman ikan.

“Kita bagi kerjaannya tiga tim untuk enam puluh empat keramba itu. Jadi tiap tim pegang sekitar dua puluh jaring. Semuanya warga sini,” jelasnya.

Setiap panen, hasil ikan dikirim langsung ke berbagai daerah seperti Ciwiday, Pangalengan, Majalaya, hingga Rajagaluh. Sebagian besar ikan mas dijual ke pemancingan, sementara ikan nila lebih banyak dikirim ke pasar tradisional dan pasar induk.

Proses panen dilakukan malam hari untuk menjaga kesegaran ikan. “Biasanya mulai habis Maghrib sampai sebelum Subuh. Karena udara dingin, ikan enggak stres di jalan,” kata Dian.


Baca lainnya: Ini Daerah Penghasil Durian Terbaik di Indonesia Beserta Ciri Khas Rasanya


Masalah Tak Terduga: Tikus di Tengah Waduk

Selain cuaca dan harga pakan, pembudidaya juga dihadapkan dengan masalah yang tak disangka: serangan tikus.

“Lucunya, di tengah waduk malah banyak tikus. Mereka sembunyi di bawah saung, ngambil bangkai ikan, terus ngelobangin jaring,” kata Dian sambil tertawa getir.

Berbagai cara sudah dicoba, termasuk memberi racun, tapi hasilnya nihil. “Racun enggak mempan, karena mereka langsung minum air. Akhirnya kita rajin ngecek dan tambal jaring aja,” ujarnya.

Masalah kecil ini bisa berdampak besar karena jaring bocor dapat menyebabkan ikan lepas dan merugikan jutaan rupiah dalam semalam.

Ancaman Regulasi dan Masa Depan yang Belum Pasti

Di tengah perjuangan bertahan dari cuaca dan hama, muncul tantangan lain: wacana pemerintah untuk menghapus keramba jaring apung (Zero KJA) di sejumlah waduk besar karena dianggap mencemari lingkungan.

“Kalau sampai benar-benar dihapus, habislah kami,” kata Dian dengan nada serius. “Di Saguling ini ribuan orang hidup dari budidaya ikan. Bukan cuma pembudidaya, tapi juga pengangkut, penjual, sampai pemasok pakan.”

Ia menilai, masalah lingkungan seharusnya diselesaikan dengan penertiban, bukan pelarangan total. “Kalau ada yang kolamnya enggak aktif atau malah ditinggal, ya itu yang ditertibkan. Tapi jangan semua dipukul rata,” tegasnya.

Dian juga mengakui bahwa kualitas air di waduk memang menurun dibanding dulu, namun menurutnya hal itu bukan semata-mata karena aktivitas budidaya. “Limbah dari industri dan pemukiman juga masuk ke waduk. Jadi harus dilihat menyeluruh. Jangan kami yang selalu disalahin,” katanya.

Harapan untuk Penataan yang Adil

Meski tantangan datang dari berbagai sisi, Dian tetap berpegang pada optimisme. Ia berharap ada data pembudidaya yang valid agar pemerintah bisa membuat kebijakan yang lebih tepat sasaran.

“Kalau semua terdata dengan jelas, pemerintah juga bisa tahu mana pembudidaya aktif, mana yang cuma punya jaring tapi enggak digunakan,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah tidak menutup mata terhadap kontribusi pembudidaya dalam menjaga ketahanan pangan daerah. “Saguling ini nyuplai lima sampai sepuluh ton ikan per hari untuk Bandung Barat. Kalau dihentikan, dampaknya bukan cuma ke kami, tapi juga ke pasar dan konsumen,” jelasnya.

Di akhir pembicaraan, Dian menatap hamparan air waduk yang memantulkan sinar matahari sore. “Dari empat kolam kecil, sekarang bisa sampai enam puluh empat. Ini bukan cuma usaha, tapi perjuangan hidup. Saya cuma berharap anak-anak nanti masih bisa lihat keramba ini tetap berdiri,” ucapnya lirih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *