Dari Harvest Moon ke Sawah Nyata, Ketika Petani Virtual Tumbuh Jadi Dewasa

Petikhasil.id, BANDUNG — Dulu, di awal tahun 2000-an, ada satu suara khas dari rental PlayStation yang hampir semua anak kenal “It’s a beautiful day for farming!” Itu suara pembuka Harvest Moon: Back to Nature game legendaris yang jadi candu anak-anak 90-an dan awal 2000-an.

Game itu sederhana: kamu mewarisi kebun kakek, menanam lobak, memberi makan ayam, menjual susu sapi, dan… mungkin jatuh cinta dengan gadis desa di Mineral Town.

Waktu itu, kita tak sadar sedang belajar pertanian cuma merasa seru saja memanen turnip tiap pagi. Tapi kini, dua dekade kemudian, anak-anak rental itu sudah dewasa. Sebagian jadi karyawan, pengusaha, pekerja kreatif, tapi sedikit sekali yang betul-betul kembali ke kebun seperti karakter utamanya si petani muda tanpa nama itu.

Berita Lainya: Dari Layar ke Lahan, Roblox Grow a Garden Tumbuhkan Benih Cinta Bertani | Petani Milenial: Saatnya Anak Muda Melek Pertanian

Harvest Moon Mengajarkan Lebih dari Sekadar Bertani

Bagi generasi yang tumbuh di depan layar tabung 14 inci, Harvest Moon adalah versi romantis dari kehidupan yang sederhana. Bangun pagi, menyiram tanaman, memelihara ternak, tidur tepat waktu, dan perlahan membangun hidup yang tenang di desa.

Tanpa sadar, game itu menanamkan nilai-nilai yang jarang kita temui di kota kesabaran, ritme alami kehidupan, dan makna kerja keras yang nyata. Setiap panen kecil jadi simbol perjuangan. Setiap musim yang berganti memberi rasa bahwa waktu berjalan, dan kita harus menanam untuk bisa memanen.

Sekarang, ketika dunia nyata terasa semakin cepat dan bising, banyak dari kita yang rindu ritme sederhana itu. Bukan cuma nostalgia digital, tapi kerinduan terhadap ketenangan yang tumbuh dari tanah.

Dulu Virtual, Sekarang Nyata

Beberapa mantan “petani virtual” kini benar-benar menanam bukan di konsol, tapi di dunia nyata. Ada yang menanam hidroponik di teras, ada yang buka kebun organik kecil, ada pula yang sekadar menanam cabai di pot karena bosan dengan harga pasar yang naik-turun.

“Saya dulu main Harvest Moon tiap hari sepulang sekolah. Sekarang malah punya kebun melon di Ciwidey,” kata seorang petani muda kepada Petik Hasil. Baginya, game masa kecil itu bukan cuma nostalgia tapi inspirasi awal untuk jatuh cinta pada dunia pertanian.

Dan memang, ketika generasi milenial sekarang bicara tentang healing, barangkali jawabannya bukan kafe baru atau pantai Bali, tapi menanam sesuatu dan melihatnya tumbuh pelan-pelan.

Regenerasi Petani, Dari Piksel ke Padi

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa jumlah petani di Indonesia terus menurun. Pada 2013, petani berusia di bawah 35 tahun masih sekitar 15% dari total petani, tapi kini tinggal sekitar 8% saja (2023). Artinya, generasi yang dulu tumbuh dengan Harvest Moon lebih banyak yang memilih karier lain dibanding melanjutkan sawah keluarga.

Padahal, justru sekarang saatnya pertanian punya masa depan baru. Teknologi membuatnya lebih mudah, pasar digital memperluas jangkauan, dan kebutuhan pangan berkelanjutan terus meningkat. Pertanian bukan lagi pekerjaan tradisional tapi industri yang penuh peluang.

Jika dulu kita senang memelihara sapi di game demi bisa beli milker dan memperluas kandang, kini alat-alat itu nyata ada di dunia modern drone penyemprot, sensor tanah, dan sistem irigasi otomatis. Bedanya, kali ini hasil panennya bisa memberi makan orang sungguhan.

Petani Adalah Pekerjaan yang Tak Pernah Ketinggalan Zaman

Mungkin kita tak sadar, tapi Harvest Moon mengajarkan satu hal penting bahwa bahagia bisa tumbuh dari tanah yang kita rawat sendiri. Bukan soal nostalgia semata, tapi tentang makna hidup yang sederhana memberi makan bumi, dan membiarkan bumi memberi makan kita kembali.

Generasi yang dulu duduk di lantai rental PS sambil rebutan stik, kini sudah jadi orang dewasa. Dan mungkin, sudah saatnya “petani digital” itu kembali ke akar bukan untuk main game lagi, tapi untuk benar-benar menanam.

Karena di dunia nyata, Harvest Moon masih berlangsung.
Bedanya, kali ini tanpa tombol save game.*** (Vry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *