Petikhasil.id, — Ramadan selalu membawa perubahan di meja makan. Permintaan kurma melonjak, kolak kembali hadir setiap sore, dan timun suri serta kelapa muda mendadak dicari banyak orang. Di balik tradisi buka puasa itu, ada rantai panjang yang bergerak dari kebun, tambak, hingga pasar.
Ramadan bukan hanya momentum spiritual. Ia juga menjadi musim ekonomi bagi banyak pelaku usaha pangan, termasuk petani dan pedagang hasil pertanian. Data perdagangan beberapa tahun terakhir menunjukkan lonjakan permintaan komoditas tertentu menjelang dan selama Ramadan, terutama kurma, gula aren, kelapa, pisang, hingga bahan minuman segar.
Kurma memang identik dengan bulan puasa. Indonesia bukan negara produsen, sehingga kebutuhan kurma dipenuhi melalui impor. Namun komoditas pendampingnya justru banyak berasal dari dalam negeri. Pisang untuk kolak, ubi untuk takjil goreng, santan dari kelapa, hingga gula merah untuk pemanis alami, semuanya bersumber dari petani lokal.
Baca Lainya: Kurma Barhi, Varietas Premium dari Basra yang Ditanam di Sukabumi | Kurma Tumbuh di Tepi Samudra Jawa: Kebun 7 Hektare di Sukabumi Siap Jadi Wisata Edukasi
Di sentra pertanian Jawa Barat dan Jawa Tengah, petani timun suri mengakui bahwa Ramadan menjadi musim panen yang paling ditunggu. Timun suri jarang terlihat di luar bulan puasa, tetapi saat Ramadan tiba, permintaannya melonjak drastis. Buah beraroma khas ini menjadi bahan minuman segar yang dianggap ringan untuk berbuka.
Petani kelapa di pesisir juga merasakan efek yang sama. Permintaan kelapa muda meningkat karena banyak diolah menjadi es kelapa atau campuran minuman takjil. Kenaikan permintaan ini biasanya diikuti pergerakan harga di tingkat petani.
Ramadan dan pola konsumsi yang berubah
Perubahan pola konsumsi selama Ramadan mendorong pergeseran permintaan pangan. Masyarakat cenderung mencari makanan manis untuk berbuka. Gula merah, gula pasir, santan, dan buah buahan segar menjadi bahan utama. Kondisi ini menggerakkan rantai distribusi dari desa ke kota.
Bagi pedagang pasar tradisional, Ramadan adalah masa perputaran uang yang lebih cepat. Namun di sisi hulu, petani sering menghadapi tantangan produksi yang tidak selalu stabil. Cuaca, distribusi, dan fluktuasi harga tetap menjadi faktor penentu.
Beberapa petani menyebut bahwa permintaan tinggi tidak selalu berarti keuntungan besar. Jika produksi berlebih tanpa pengaturan distribusi, harga bisa turun di tingkat petani meski di kota tetap tinggi. Di sinilah peran tata niaga dan penyerapan pasar menjadi penting.
Ramadan juga memunculkan peluang bagi produk olahan berbasis hasil pertanian. Sirup berbahan gula tebu lokal, kurma isi cokelat produksi UMKM, hingga kolak kemasan menjadi variasi baru dalam pasar musiman ini. Nilai tambah tidak hanya terjadi di kebun, tetapi juga di dapur dan industri kecil.
Momentum meningkatkan nilai tambah hasil tani
Bagi Petikhasil.id, Ramadan memperlihatkan bagaimana pangan lokal memiliki ruang besar untuk berkembang. Momentum ini bisa dimanfaatkan untuk memperkuat produk berbasis pertanian dalam negeri. Alih alih hanya bergantung pada komoditas impor, bahan baku lokal bisa didorong menjadi pilihan utama.
Misalnya, gula aren sebagai alternatif pemanis alami. Produknya berasal dari petani nira yang tersebar di berbagai daerah. Saat Ramadan, permintaan gula aren meningkat untuk kebutuhan kolak dan minuman tradisional. Jika dikemas dengan baik dan distribusinya terjaga, nilai ekonominya bisa lebih tinggi.
Begitu pula dengan pisang dan ubi. Dua komoditas ini sering menjadi bahan gorengan dan takjil. Produksi yang melimpah sebenarnya bisa diolah menjadi produk setengah jadi atau beku agar tidak hanya musiman.
Baca Lainya: Kurma Barhi, Varietas Premium dari Basra yang Ditanam di Sukabumi | Kurma Tumbuh di Tepi Samudra Jawa: Kebun 7 Hektare di Sukabumi Siap Jadi Wisata Edukasi
Ramadan menunjukkan bahwa hubungan antara tradisi dan pertanian sangat erat. Apa yang disajikan saat berbuka bukan sekadar menu, melainkan hasil kerja panjang petani, pedagang, hingga pelaku UMKM.
Pada akhirnya, bulan puasa bukan hanya soal menahan lapar. Ia juga menjadi penggerak ekonomi desa. Dari kebun kelapa hingga lapak takjil di pinggir jalan, Ramadan menghadirkan siklus yang menghubungkan nilai spiritual dengan nilai ekonomi.






