Petikhasil.id, BANDUNG — Di tengah tren anak-anak yang lebih akrab dengan layar gawai daripada tanah dan lumpur, muncul satu game yang justru menanamkan nilai kebalikan Grow a Garden di platform Roblox.
Game ini sederhana, tapi punya daya tarik unik. Pemain diajak menanam, menyiram, memanen, dan menjual hasil kebun mereka untuk membeli bibit baru dan memperluas lahan. Tanpa disadari, Grow a Garden memperkenalkan konsep dasar pertanian secara menyenangkan dari benih hingga panen.
Game yang Menyamar Sebagai Kebun Digital
Alih-alih sekadar bermain demi skor, Grow a Garden mengajarkan siklus hidup tanaman dengan cara interaktif. Anak-anak belajar bahwa setiap tanaman butuh waktu tumbuh, air, sinar matahari, dan perawatan rutin. Hal sederhana seperti itu, bagi anak usia 6–12 tahun, bisa jadi pondasi logika berpikir ilmiah dan empati terhadap makhluk hidup.
Berita Lainya: Edukasi Pertanian untuk Anak: Cara Nabila Farm Melahirkan Generasi Petani Muda | Jadi Petani Itu Keren: Peluang Kaya Raya yang Dilupakan Anak Muda
Menurut pengamat pendidikan anak dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), pembelajaran berbasis simulasi seperti Grow a Garden bisa menjadi pintu masuk mengenalkan profesi pertanian dengan cara yang relevan.
“Generasi digital perlu pendekatan baru. Kalau dulu anak belajar bercocok tanam di sekolah, sekarang bisa lewat game. Prinsipnya sama: memahami proses tumbuh dan hasil,” ujar seorang dosen pendidikan anak usia dini saat dihubungi Petik Hasil.
Nilai Edukatif di Balik Pixel
Secara psikologis, Grow a Garden menumbuhkan sense of ownership rasa memiliki terhadap hasil kerja sendiri. Anak yang rajin menyiram dan menunggu hasil panen di dunia virtual, belajar bahwa proses membutuhkan waktu dan ketekunan. Nilai-nilai itu sejalan dengan karakter petani sejati di dunia nyata: sabar, tekun, dan menghargai proses alam.
Banyak orang tua melaporkan bahwa anak mereka mulai penasaran dengan pertanian setelah bermain Grow a Garden. “Awalnya cuma main game. Tapi sekarang tiap sore dia minta siram tanaman di halaman. Katanya biar kayak di Roblox,” cerita Rani, orang tua asal Bandung yang anaknya berusia 9 tahun.
Peluang Baru: Edufarm lewat Dunia Digital
Fenomena ini bisa jadi peluang bagi lembaga pendidikan dan pegiat pertanian. Program edufarm digital bisa dikembangkan dengan memadukan simulasi seperti Grow a Garden dengan kegiatan nyata menanam di sekolah atau rumah. Beberapa sekolah dasar di Bandung bahkan mulai mengintegrasikan game edukatif pertanian ke dalam kurikulum tematik Project Based Learning (PBL) menggabungkan teknologi dan alam.
Dengan cara ini, anak tidak hanya bermain, tapi juga belajar konsep keberlanjutan, pangan lokal, dan ekosistem. Bahkan, beberapa guru melaporkan bahwa anak-anak yang bermain Grow a Garden cenderung lebih antusias saat praktik menanam di kebun sekolah.
Benih Digital, Panen di Dunia Nyata
Dalam jangka panjang, game seperti Grow a Garden bisa menjadi media efektif memperkenalkan pertanian modern pada generasi alpha. Pertanian tidak lagi dianggap “pekerjaan berat di sawah”, tapi bisa terlihat sebagai sistem yang menarik, terencana, bahkan bisa dipadukan dengan teknologi dan game.
Di saat banyak profesi pertanian kekurangan regenerasi, mungkin inilah cara paling sederhana untuk menanamkan benih kecintaan sejak dini bukan dengan paksaan, tapi lewat keseruan digital.
Seperti halnya tanaman di kebun virtual Roblox, ketertarikan anak terhadap dunia pertanian pun perlu dirawat dengan sabar dan kasih. Siapa tahu, dari layar kecil itulah lahir petani masa depan Indonesia.***






