Petikhasil.id, CIREBON – Harga telur ayam ras di Kota Cirebon, Jawa Barat, menunjukkan volatilitas tinggi sepanjang 2022 hingga 2025 dan menjadi salah satu komoditas pangan yang konsisten memberi tekanan terhadap inflasi daerah.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Cirebon mencatat inflasi bulanan telur ayam ras mencapai puncaknya pada Maret 2024 sebesar 12,11%, dengan andil inflasi 0,17%, tertinggi dalam 4 tahun terakhir.
Plt Kepala BPS Kota Cirebon Ujang Mauludin mengatakan, lonjakan tersebut menandakan peran telur ayam ras sebagai komoditas sensitif yang cepat merespons perubahan pasokan dan permintaan.
Baca Lainya: Harga Telur di Cirebon Tembus Rp31.500 Dampak Program Makan Bergizi Gratis | Dukung Swasembada Telur-Daging Ayam, Peternak Pastikan Stok Aman
“Telur ayam ras termasuk komoditas pangan strategis. Pergerakan harganya fluktuatif dan pada periode tertentu memberikan kontribusi cukup besar terhadap inflasi Kota Cirebon,” kata Ujang Mauludin, dikutip, Selasa (20/1/2026). Berdasarkan data BPS, sepanjang periode 2022–2025, pergerakan harga telur ayam ras cenderung berayun tajam, baik ke arah inflasi maupun deflasi.
Tekanan inflasi tidak hanya muncul secara sporadis, tetapi juga berulang dalam beberapa bulan, terutama pada momentum meningkatnya konsumsi rumah tangga. Sebaliknya, tekanan deflasi yang dalam juga sempat terjadi, mencerminkan ketidakseimbangan pasokan di pasar.
Deflasi terdalam tercatat pada September 2023, ketika harga telur ayam ras turun 10,84% (month-to-month/mtm) dengan andil deflasi sebesar 0,13%. Penurunan tajam ini menjadi indikasi adanya kelebihan pasokan atau melemahnya permintaan dalam periode tersebut.
Ujang menjelaskan bahwa dinamika harga telur tidak dapat dilepaskan dari pola produksi peternak ayam petelur serta kondisi distribusi.
“Ketika pasokan meningkat signifikan sementara permintaan tidak tumbuh seimbang, harga cenderung terkoreksi cukup dalam,” ucap Ujang.
Harga Telur Ayam Alami Inflasi
Memasuki 2025, data BPS menunjukkan tren yang berbeda. Selama 12 bulan terakhir pada tahun tersebut, harga telur ayam ras lebih sering mengalami inflasi dibanding deflasi. Kondisi ini mengindikasikan adanya tekanan berkelanjutan dari sisi permintaan maupun biaya produksi, meskipun besaran inflasinya relatif lebih moderat dibanding lonjakan ekstrem pada Maret 2024.
Ujang menilai, pola ini perlu dicermati karena telur ayam ras merupakan bahan pangan dengan tingkat konsumsi tinggi di masyarakat. Kenaikan harga yang berulang, meskipun kecil, tetap berpotensi menggerus daya beli rumah tangga, khususnya kelompok berpendapatan rendah.
“Kontribusi andilnya mungkin terlihat kecil, tetapi karena telur dikonsumsi luas, dampaknya terhadap inflasi dan pengeluaran rumah tangga cukup nyata,” ujarnya.
Dari sisi struktur inflasi, pergerakan telur ayam ras mencerminkan masih rapuhnya stabilisasi harga pangan di tingkat daerah.
Baca Lainya: Harga Telur di Cirebon Tembus Rp31.500 Dampak Program Makan Bergizi Gratis | Dukung Swasembada Telur-Daging Ayam, Peternak Pastikan Stok Aman
Fluktuasi yang tajam menunjukkan mekanisme penyesuaian pasokan belum sepenuhnya berjalan optimal. Ketergantungan pada faktor musiman, biaya pakan, serta distribusi antardaerah menjadi variabel yang kerap memicu gejolak harga.
BPS menegaskan, data ini diharapkan menjadi bahan evaluasi bagi pemangku kebijakan daerah dalam merumuskan langkah pengendalian inflasi pangan. Ujang menyebut, koordinasi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) menjadi kunci untuk meredam volatilitas harga.
“Data statistik ini memberikan sinyal awal. Tantangannya adalah bagaimana respons kebijakan mampu menahan gejolak agar tidak berulang terlalu ekstrem,” katanya.






