Petikhasil.id, GARUT — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut mengakui adanya ketimpangan pembangunan antara wilayah selatan dan kawasan lain di daerah tersebut. Wilayah Garut Selatan dinilai masih tertinggal dari sisi sosial-ekonomi dan membutuhkan percepatan pembangunan.
Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, menyatakan sejumlah indikator menunjukkan kesenjangan yang cukup lebar, mulai dari kemiskinan ekstrem, angka putus sekolah, hingga tingginya angka kematian ibu dan anak.
“Wilayah selatan dinilai belum menikmati dampak pembangunan secara optimal dibandingkan kawasan perkotaan dan wilayah utara yang relatif lebih berkembang dari sisi infrastruktur dan aktivitas ekonomi,” ujar Syakur, Selasa (24/2/2026).
Baca Lainya: Lonjakan Harga Jagung Ternak Jelang Ramadan Timbulkan Dampak Berantai | Pertanian Garut Jadi Lumbung Jagung Tapi Nilai Tambah Nihil
Syakur menilai percepatan pembangunan tidak dapat dilakukan tanpa dukungan anggaran yang memadai serta perubahan pendekatan kebijakan. Ia menekankan pentingnya penciptaan lapangan kerja sebagai langkah strategis untuk mengatasi kemiskinan struktural.
Sektor industri disebut sebagai salah satu solusi, meskipun tidak selalu berbentuk pabrik manufaktur berskala besar. Menurutnya, sektor pariwisata, restoran, dan perhotelan juga memiliki potensi menyerap tenaga kerja dalam jumlah signifikan apabila dikelola secara sistematis.
Namun, penguatan sektor jasa dinilai belum cukup. Pemerintah daerah juga menyoroti lemahnya hilirisasi sektor pertanian dan peternakan di Garut Selatan. Selama ini, komoditas lokal lebih banyak dipasarkan dalam bentuk mentah tanpa proses pengolahan lanjutan yang mampu memberikan nilai tambah.
“Akibatnya, margin keuntungan lebih banyak dinikmati wilayah lain yang memiliki fasilitas pengolahan,” kata Syakur.
Dalam konteks tersebut, jagung diidentifikasi sebagai komoditas strategis yang berpotensi menjadi pengungkit ekonomi baru. Selain sebagai hasil pertanian, jagung merupakan bahan baku utama pakan ternak yang dibutuhkan untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis dari pemerintah pusat.
Permintaan pakan ternak yang tinggi dinilai membuka peluang terbentuknya rantai industri terintegrasi di wilayah selatan.
Syakur mencontohkan model ekosistem terintegrasi yang diterapkan di Blitar, di mana produksi jagung, pabrik pakan, dan sentra peternakan berada dalam satu kawasan. Integrasi tersebut membuat ongkos produksi lebih efisien sehingga harga telur di daerah itu relatif lebih kompetitif.
“Skema serupa dinilai dapat diterapkan di Garut Selatan untuk menekan biaya distribusi sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal,” tuturnya.
Meski demikian, hingga saat ini pemerintah daerah belum memaparkan secara rinci skema pendanaan, tahapan implementasi, maupun target waktu realisasi pembangunan ekosistem industri terintegrasi tersebut.
Baca Lainya: Lonjakan Harga Jagung Ternak Jelang Ramadan Timbulkan Dampak Berantai | Pertanian Garut Jadi Lumbung Jagung Tapi Nilai Tambah Nihil
Syakur menyebut pengakuan atas ketimpangan ini menjadi momentum penting bagi arah kebijakan ekonomi daerah. Tanpa intervensi terstruktur, Garut Selatan berpotensi terus tertinggal akibat keterbatasan infrastruktur industri dan akses pasar.
“Integrasi sektor pertanian dan peternakan memang menjanjikan, tetapi membutuhkan kepastian investasi, dukungan regulasi, serta koordinasi lintas sektor,” pungkasnya.






