Generasi Kedua Pembudidaya Ikan Saguling, Bertahan di Tengah Cuaca dan Regulasi yang Tak Menentu

Petikhasil.id, BANDUNG BARAT – Di tengah tenangnya permukaan Waduk Saguling, tersimpan kisah ketangguhan para pembudidaya ikan yang bergulat dengan alam, harga pakan yang terus melambung, hingga kebijakan pemerintah yang bisa sewaktu-waktu mengubah nasib mereka. Salah satunya adalah Dian Prayoga, pembudidaya ikan generasi kedua yang melanjutkan usaha keluarganya sejak tahun 2019.

Bagi Dian, budidaya ikan di Waduk Saguling bukan sekadar pekerjaan, tapi warisan keluarga yang harus dijaga. “Orang tua saya sudah mulai dari zaman awal-awal Saguling berdiri, sekitar tahun 1985. Dulu cuma punya empat kolam kecil. Sekarang alhamdulillah sudah berkembang jadi puluhan keramba,” ujarnya saat ditemui di lokasi budidayanya di kawasan Saguling, Kabupaten Bandung Barat.

Dari Empat Kolam ke Puluhan Keramba

Awal mula budidaya di Waduk Saguling bermula ketika lahan pertanian di sekitar waduk mulai tergenang air akibat pembangunan PLTA Indonesia Power. Warga yang kehilangan lahan pertanian kemudian diberi pelatihan dan izin untuk melakukan budidaya ikan dengan sistem keramba jaring apung (KJA).

“Awalnya orang tua cuma coba-coba. Tapi ternyata hasilnya lumayan. Lama-lama tambah banyak, tiap tahun nambah, sampai akhirnya bisa punya puluhan keramba,” tutur Dian.

Kini, di bawah pengelolaan Dian, usaha tersebut berkembang pesat. Ia memiliki sekitar 64 unit keramba jaring apung, dengan komoditas utama ikan mas dan ikan nila, dua jenis ikan yang menjadi andalan pembudidaya Saguling.

“Kalau di Saguling itu yang paling banyak ikan mas sama nila. Patin dan lele ada, tapi enggak sebanyak dua itu. Gurame juga ada, tapi permintaannya kecil,” jelasnya.

Murah di Modal, Tinggi di Risiko

Bagi banyak pembudidaya, sistem KJA di Waduk Saguling dianggap lebih efisien karena tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk infrastruktur darat. “Kalau di darat kan kita harus siapkan kolam, sistem air, dan perawatan khusus. Kalau di waduk tinggal bikin jaring, beli bibit sama pakan, sudah bisa jalan,” kata Dian.

Namun, keuntungan tersebut datang dengan risiko tinggi. Karena budidaya dilakukan di alam terbuka, pembudidaya tidak bisa mengontrol kondisi air sepenuhnya. Salah satu ancaman terbesar adalah fenomena upwelling, yaitu naiknya lapisan air dingin dari dasar waduk ke permukaan yang membawa gas beracun dan menurunkan kadar oksigen dalam air.

“Kalau sudah kena upwelling, kita enggak bisa apa-apa. Ikan bisa mati massal dalam semalam. Itu yang paling ditakuti pembudidaya,” ujar Dian.

Ia menambahkan, faktor cuaca kini semakin sulit diprediksi akibat perubahan iklim. “Biasanya musim hujan datangnya sudah bisa ditebak, tapi sekarang kadang kemarau panjang banget, air surut, tiba-tiba hujan besar berhari-hari. Itu bisa memicu upwelling juga,” jelasnya.


Baca lainnya: Menguak Mitos dan Fakta Durian: Benarkah Tidak Boleh Dimakan dengan Kopi dan Susu?


Harga Pakan Naik, Keuntungan Menyusut

Selain masalah cuaca, harga pakan ikan juga menjadi tantangan besar. Saat ini harga pakan pabrikan berkisar antara Rp10.000 hingga Rp11.000 per kilogram, dan hampir tidak pernah turun.

“Kalau dulu satu keramba bisa hasilin dua ton ikan, sekarang paling satu ton. Tapi harga pakan terus naik. Jadi keuntungannya makin tipis,” kata Dian.

Untuk menekan biaya, para pembudidaya mulai menggunakan pakan alternatif seperti sisa roti, mie, keju, dan bahan makanan BS (barang sisa pabrik makanan). “Biasanya kita campur aja sama pakan pabrikan. Lumayan bisa ngirit,” tambahnya.

Meski begitu, pakan alternatif tidak selalu mudah didapat dan kualitasnya tidak stabil. “Kalau kebetulan dapat dari pabrik lumayan, tapi enggak tiap hari ada,” katanya.

Tenaga Lokal Jadi Tulang Punggung

Usaha budidaya yang dikelola Dian melibatkan sekitar 15 orang pekerja lokal, mulai dari penjaga tambak, pengangkut pakan, hingga sopir pengiriman ikan. “Kebanyakan warga sekitar yang bantu. Jadi selain buat saya sendiri, usaha ini juga membuka lapangan kerja buat mereka,” katanya.

Dalam sebulan, usaha ini bisa memanen ikan mas hampir setiap dua atau tiga hari sekali, dengan produksi mencapai satu ton ikan mas atau lima kuintal ikan nila per panen.

“Biasanya ikan mas kita jual ke pemancingan di Ciwiday, Pengalengan, sampai Majalaya. Kalau nila ke pasar induk dan pasar tradisional,” ujarnya.

Proses panen biasanya dilakukan malam hari untuk menjaga kualitas ikan. “Kita panen malam, sekitar habis Maghrib atau Isya. Dingin, jadi ikan lebih tenang. Kita pakai oksigen buat balon pengiriman,” jelas Dian.

Serangan Tikus di Tengah Waduk

Selain faktor alam, ancaman lain yang tak disangka datang dari tikus. Meski berada di tengah waduk, tikus-tikus justru banyak bersarang di bawah saung dan keramba.

“Awalnya enggak nyangka bisa ada tikus di tengah air. Tapi ternyata banyak banget. Mereka ngambil bangkai ikan, ngelobangin jaring. Racun enggak mempan karena mereka langsung minum air,” keluhnya.

Masalah itu membuat pembudidaya harus lebih sering memperbaiki jaring, yang biayanya tidak sedikit. “Kemarin saya bikin enam kotak jaring baru habis sekitar Rp50 juta, belum termasuk bibit dan pakan,” ungkapnya.

Terjepit Regulasi dan Wacana ‘Zero KJA’

Belakangan, muncul wacana pemerintah untuk mengurangi bahkan meniadakan keramba jaring apung (Zero KJA) di sejumlah waduk besar, termasuk Saguling. Kebijakan ini dikhawatirkan akan memukul ekonomi masyarakat yang menggantungkan hidup di sektor budidaya ikan.

“Saya pribadi tidak setuju kalau benar-benar dihapus. Karena kalau semua keramba diangkat, ribuan orang bisa kehilangan mata pencaharian,” tegas Dian.

Menurutnya, pemerintah seharusnya melakukan penataan dan pendataan yang jelas, bukan pelarangan total. “Sekarang saja data pembudidaya belum jelas. Siapa yang aktif, siapa yang cuma punya tapi enggak jalan, itu harus dibedain,” katanya.

Dian juga menilai tudingan bahwa keramba menjadi penyebab utama pencemaran air waduk perlu dikaji lebih dalam. “Katanya limbah pakan bikin air kotor. Tapi berapa sih dibanding limbah pabrik? Kami juga butuh air yang bersih, karena kalau air jelek, ikan kami juga mati,” ujarnya.


Baca lainnya: Ini Daerah Penghasil Durian Terbaik di Indonesia Beserta Ciri Khas Rasanya


Harapan: Penertiban, Bukan Penghapusan

Meski menghadapi banyak tantangan, Dian tetap optimistis. Ia berharap pemerintah bisa mencari solusi yang berpihak pada keberlanjutan ekosistem sekaligus menjaga keberlangsungan ekonomi warga.

“Kalau mau ditertibkan enggak apa-apa, asal jelas dan adil. Jangan dipukul rata semua dilarang. Kami cuma pengen tetap bisa cari makan dengan cara yang benar,” katanya.

Ia juga berharap adanya dukungan teknologi dan pelatihan bagi para pembudidaya agar bisa beradaptasi dengan perubahan lingkungan. “Sekarang banyak teknologi yang bisa bantu deteksi kualitas air atau penyakit ikan. Tapi di lapangan masih jarang yang dapat akses,” ujarnya.

Dian menutup pembicaraan dengan pesan sederhana, “Budidaya ikan ini bukan cuma soal bisnis, tapi juga soal warisan dan penghidupan. Selama masih bisa bernafas, saya akan terus jaga keramba ini.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *