Petikhasil.id, PANGALENGAN – Usaha budidaya jamur sering dianggap menjanjikan karena siklus panennya relatif cepat dan permintaan pasar yang stabil. Namun di balik itu, tidak sedikit petani jamur yang harus menghadapi kegagalan, kerugian besar, bahkan nyaris gulung tikar. Hal itulah yang pernah dialami Dadan Gunawan, petani jamur asal Kampung Cilaki, Desa Sukaluyu, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung.
Tahun 2022 menjadi titik terberat dalam perjalanan usahanya. Modal hampir Rp200 juta yang ditanamkan habis tanpa hasil maksimal. Kontaminasi media tanam, serangan hama, hingga kurangnya pemahaman soal bibit membuat produksi jamur menurun drastis. Namun dari kegagalan itulah, Dadan menemukan solusi penting yang justru mengantarkannya bangkit dan berkembang hingga sekarang, yaitu inovasi daur ulang baglog.
Awal Mula Terjun ke Budidaya Jamur
Pangalengan dikenal sebagai kawasan pertanian dan peternakan. Bagi Dadan, membuka usaha di sektor pertanian sudah menjadi pilihan logis. Ia memilih budidaya jamur karena dinilai tidak terlalu panas, tidak kotor, dan bisa dilakukan secara berkelanjutan.
Awalnya, Dadan tidak langsung memproduksi baglog sendiri. Ia memilih membeli baglog dari pihak lain sambil belajar perawatan jamur. Menurutnya, budidaya jamur bukan usaha yang bisa dianggap sepele.
“Jamur itu kelihatannya gampang, tapi sebenarnya susah-susah gampang. Kalau salah perawatan sedikit saja, bisa gagal,” ujarnya.
Setelah memahami dasar perawatan dan proses panen, barulah ia memberanikan diri memproduksi baglog sendiri dan membangun kumbung jamur secara bertahap.
Fokus Tiga Jenis Jamur yang Paling Diminati Pasar
Dalam perjalanannya, Dadan memutuskan fokus pada tiga jenis jamur utama, yaitu:
- Jamur tiram putih
- Jamur tiram coklat
- Jamur kuping
Jamur tiram putih dan coklat memiliki masa panen relatif singkat, sekitar 35–40 hari sejak inokulasi. Sementara jamur kuping membutuhkan waktu lebih lama, sekitar dua bulan hingga panen.
Meski perawatannya hampir sama, jamur tiram coklat lebih rentan terhadap penyakit dan kontaminasi. Inilah yang menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga kualitas produksi.
Media Tanam dari Limbah Serbuk Kayu
Media tanam jamur yang digunakan berasal dari serbuk gergaji kayu yang dicampur dengan bekatul dan kapur. Campuran ini kemudian melalui proses:
- Mixing bahan
- Pengemasan (packing)
- Sterilisasi selama 4–6 jam pada suhu ±110 derajat
- Inokulasi bibit
- Inkubasi selama ±3 minggu
- Pemindahan ke kumbung produksi
Jika miselium sudah tumbuh sekitar 80–90 persen, baglog siap masuk ke kumbung dan menunggu masa panen dengan perawatan rutin berupa penyiraman dan pengaturan kelembaban.
Tahun 2022: Hampir Gulung Tikar
Masalah besar datang pada tahun 2022. Pergantian mesin, bibit yang kurang berkualitas, serta serangan hama seperti lalat dan nyamuk menyebabkan tingkat kontaminasi tinggi. Banyak baglog rusak dan tidak bisa digunakan.
Pada saat itu, baglog yang terkontaminasi belum berani didaur ulang. Akibatnya, kerugian semakin besar hingga hampir membuat usaha jamur tersebut berhenti total.
“Modal sudah keluar banyak, tapi hasilnya tidak sebanding. Stres pasti, karena rasanya usaha mau berhenti,” kenang Dadan.
Baca lainnya: Teknologi Closed House Bantu Tingkatkan Produksi Ayam, Ini Rahasia Ken Farm Cirebon
Titik Balik: Berani Daur Ulang Baglog
Di tengah tekanan tersebut, Dadan memberanikan diri mencoba daur ulang baglog yang sebelumnya dianggap tidak layak pakai. Dari proses trial and error, ia menemukan bahwa baglog terkontaminasi masih bisa dimanfaatkan, khususnya untuk budidaya jamur kuping.
Hasilnya di luar dugaan. Tingkat keberhasilan mencapai sekitar 95 persen. Sejak saat itu, jamur kuping menjadi salah satu penopang utama usahanya.
Inovasi ini tidak hanya menekan biaya produksi, tetapi juga mengurangi limbah dan meningkatkan efisiensi usaha.
Inovasi Bahan Baku di Tengah Kelangkaan
Masalah lain yang muncul adalah kelangkaan serbuk kayu akibat tingginya kebutuhan industri. Dadan kembali berinovasi dengan:
- Membuat mesin penghancur kayu sendiri
- Memanfaatkan sekam kopi sebagai campuran media tanam
Hasilnya, kualitas jamur tetap terjaga dan tidak kalah dengan media serbuk kayu murni. Inovasi ini menjadi solusi penting agar produksi tetap berjalan meski bahan baku sulit didapat.
Produksi, Panen, dan Omset
Saat ini, Dadan mengelola sekitar 80 ribu baglog dari beberapa kumbung. Rata-rata hasil panen per hari antara lain:
- Jamur tiram putih: 100–200 kg
- Jamur tiram coklat: 10–50 kg
- Jamur kuping: panen serempak hingga 300 kg per periode
Dalam kondisi panen optimal, pendapatan harian bisa mencapai Rp4–5 juta. Sementara omset bulanan berkisar Rp50–70 juta (kotor).
Permintaan pasar lokal Pangalengan bahkan masih lebih tinggi dibandingkan kapasitas produksi yang ada.
Kunci Sukses Budidaya Jamur
Dari pengalaman pahit hingga bangkit kembali, Dadan menyimpulkan ada tiga kunci utama dalam budidaya jamur:
- Konsistensi dalam perawatan
- Sterilisasi media yang terjaga
- Pemilihan bibit berkualitas
Selain itu, disiplin waktu dan manajemen ala Jepang yang pernah ia jalani turut diterapkan dalam usahanya saat ini.
Baca lainnya: Daun Sirsak dalam Pengobatan Tradisional: Antara Mitos dan Fakta
Dari Gengsi ke Konsisten
Dadan mengakui, pada awalnya ia sempat merasa gengsi karena harus berjualan jamur secara eceran. Namun seiring waktu, gengsi itu ditinggalkan demi keberlanjutan usaha.
Kini, selain fokus produksi, ia juga membuka peluang kemitraan bagi masyarakat yang ingin belajar atau membeli baglog untuk dibudidayakan sendiri di rumah.
Kisah Dadan Gunawan menjadi bukti bahwa kegagalan bukan akhir segalanya. Dengan inovasi, konsistensi, dan keberanian mencoba hal baru, usaha yang hampir gulung tikar pun bisa bangkit dan berkembang lebih kuat.






