Petikhasil.id, CIREBON- Kota Cirebon mencatat inflasi sebesar 2,90% secara tahunan (year on year/y-o-y) pada Oktober 2025, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) berada di angka 107,64. Kenaikan ini menandai tekanan harga yang masih terasa terutama pada kelompok kebutuhan pangan, pendidikan, dan kesehatan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Cirebon, Ujang Mauludin, mengatakan sebagian besar kelompok pengeluaran mencatat kenaikan indeks.
“Inflasi di Kota Cirebon masih terkendali, tetapi tekanan terbesar tetap datang dari bahan pangan, terutama cabai merah, bawang merah, serta telur dan daging ayam ras,” ujarnya dalam keterangan resmi dikutip, Jumat (7/11/2025).
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi dengan kenaikan 5,28%. Sementara kelompok kesehatan melonjak 5,65% akibat naiknya tarif dokter spesialis dan biaya perawatan.
Kenaikan harga pada kelompok pendidikan juga signifikan, mencapai 4,84%, terutama dari biaya akademi atau perguruan tinggi.
Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya meningkat 3,35%, diikuti penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 3,20%, serta transportasi dan perlengkapan rumah tangga masing-masing naik 0,96%.
Kelompok pakaian dan alas kaki tumbuh 1,68%, sementara perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga hanya naik tipis 0,24%.
“Secara umum, tekanan inflasi masih didorong oleh permintaan masyarakat yang cukup tinggi terhadap komoditas pangan strategis menjelang akhir tahun,” kata Ujang.
Berita Lainya: Harga Cabai Fluktuatif dan Harapan Cold Storage bagi Petani | Harga Telur di Cirebon Tembus Rp31.500 Dampak Program Makan Bergizi Gratis
Sementara itu, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya mengalami penurunan indeks sebesar -1,24%, menjadi satu-satunya kelompok dengan deflasi. Adapun kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan tidak mengalami perubahan harga atau tetap di 0,00%.
Berdasarkan pantauan BPS, 15 komoditas memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan di Kota Cirebon.
Komoditas tersebut antara lain cabai merah, bawang merah, telur ayam ras, daging ayam ras, sigaret kretek mesin (SKM), beras, akademi/perguruan tinggi, minyak goreng, sigaret kretek tangan (SKT), pemeliharaan/service, tarif dokter spesialis, bakso siap santap, upah asisten rumah tangga, nasi dengan lauk, dan pepaya.
Sebaliknya, terdapat pula komoditas yang menahan laju inflasi atau memberikan andil deflasi, seperti pisang, cabai rawit, bawang putih, pengharum cucian/pelembut, sabun detergen bubuk, buku pelajaran SMA dan SMP, buncis, minuman ringan, udang basah, tarif kereta api, vitamin, kemiri, kacang panjang, serta daging sapi.
“Pergerakan harga di Kota Cirebon relatif dinamis. Beberapa komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang sangat dipengaruhi oleh faktor cuaca dan distribusi,” jelas Ujang.
Secara bulanan (month to month/m-to-m), inflasi Kota Cirebon pada Oktober 2025 tercatat sebesar 0,32%. Adapun inflasi kumulatif (year to date/y-to-d) sejak Januari hingga Oktober 2025 mencapai 2,27%.
Menurut Ujang, angka tersebut menunjukkan tren inflasi yang masih dalam kisaran aman. “Kinerja harga secara keseluruhan masih terkendali. Namun tetap perlu diwaspadai potensi kenaikan harga bahan pangan menjelang Natal dan tahun baru,” ujarnya.
BPS mencatat, ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas harga menjelang akhir tahun. Pemerintah daerah diharapkan memperkuat koordinasi pengendalian inflasi bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) untuk memastikan pasokan pangan tetap terjaga.
“Dengan koordinasi yang baik dan pemantauan harga rutin, kita bisa menjaga inflasi Kota Cirebon tetap stabil di bawah target tahunan,” tutup Ujang.***






