Harga Pakan Naik, Permintaan Stagnan: Begini Cara Petani Ikan Saguling Bertahan Hidup

Petikhasil.id, BANDUNG BARAT – Naiknya harga pakan ikan yang tidak kunjung turun menjadi tantangan berat bagi pembudidaya ikan di Waduk Saguling. Di tengah permintaan pasar yang stagnan, para petani ikan seperti Dian (40), pembudidaya generasi kedua dari kawasan Bandung Barat, harus memutar otak agar tetap bisa bertahan.

Dengan harga pakan yang kini mencapai Rp10.000 hingga Rp11.000 per kilogram, keuntungan dari setiap panen semakin tipis. Sementara harga jual ikan mas dan nila nyaris tidak berubah selama satu tahun terakhir, masing-masing di kisaran Rp29.000 dan Rp22.000 per kilogram.

Tekanan Biaya Produksi yang Tak Kunjung Reda

Dalam budidaya sistem keramba jaring apung (KJA), biaya terbesar memang berasal dari pakan, yang bisa mencapai 60–70 persen dari total biaya operasional.

“Satu unit keramba berisi sekitar satu kuintal bibit bisa menghabiskan pakan satu setengah ton sampai panen. Kalau harga pakan naik seribu rupiah saja, dampaknya besar,” ujar Dian.

Ia menjelaskan, untuk enam unit keramba saja, biaya yang harus dikeluarkan mencapai sekitar Rp50 juta hanya untuk jaring dan instalasi, belum termasuk bibit dan pakan.

“Kalau ikannya mati karena cuaca atau penyakit, ya sudah rugi total. Tapi kalau pun panen bagus, marginnya makin kecil karena pakan mahal,” tambahnya.

Harga Ikan Tak Bergerak, Pasar Lesu

Sementara biaya terus naik, harga jual ikan justru stagnan. Sejak tahun 2024, harga ikan mas dan nila di tingkat pembudidaya tidak pernah naik signifikan.

“Permintaan pasar stagnan. Setiap hari kami bisa panen satu ton ikan mas dan sekitar lima kuintal nila, tapi harga tetap segitu-segitu aja,” kata Dian.

Menurutnya, sebagian besar hasil panen dijual ke pemancingan dan pasar tradisional di wilayah Bandung Barat, seperti Ciwiday, Pengalengan, Gunung Halu, dan Majalaya.

“Yang paling banyak ke pemancingan. Tapi kalau harga di pasar nggak naik, kami juga nggak bisa berharap banyak,” ujarnya.

Kondisi ini membuat para pembudidaya harus lebih efisien dan kreatif dalam mengelola biaya operasional agar tidak merugi.


Baca lainnya: Menguak Mitos dan Fakta Durian: Benarkah Tidak Boleh Dimakan dengan Kopi dan Susu?


Trik Bertahan: Pakan Alternatif dari Sisa Makanan

Salah satu strategi yang dilakukan Dian dan pembudidaya lain di Saguling adalah menggunakan pakan alternatif untuk menekan biaya.

“Kami campur pakan pabrikan dengan sisa makanan seperti mie, roti BS (barang sisa), keju, atau sosis yang sudah tidak layak jual tapi masih bisa diolah untuk ikan,” jelasnya.

Pakan alternatif ini biasanya didapat dari kerja sama dengan pabrik makanan atau pedagang besar yang memiliki stok produk gagal. Setelah dicampur dengan pakan pabrikan dalam perbandingan tertentu, hasilnya cukup efektif untuk menjaga pertumbuhan ikan.

“Selama campurannya pas, pertumbuhan ikan tetap bagus dan biaya bisa hemat sampai 20 persen,” kata Dian.

Namun, penggunaan pakan alternatif juga punya risiko. Jika kualitas bahan kurang baik atau terlalu banyak kadar lemaknya, air bisa cepat tercemar dan menyebabkan penyakit pada ikan.

“Maka dari itu, harus tetap hati-hati. Kita nggak asal kasih pakan,” tambahnya.

Mengandalkan Gotong Royong dan Tenaga Lokal

Dalam usahanya, Dian tidak bekerja sendirian. Ia mempekerjakan sekitar 15 orang yang terdiri dari warga sekitar waduk, mulai dari sopir, tenaga panggul, penjaga gudang, hingga pekerja tambak.

“Dari dulu kami memang memberdayakan masyarakat sekitar. Semua kerja di sini, jadi bisa sama-sama hidup,” ucapnya.

Sistem kerja pun dibuat bagi hasil. Dari 64 keramba yang dikelolanya, setiap tiga orang bertanggung jawab atas enam belas keramba. Pembagian ini membuat sistem kerja lebih efisien dan rasa tanggung jawab lebih tinggi.

“Kalau kerja sendiri nggak mungkin. Jadi sistemnya dibagi kelompok kecil biar lebih terkontrol,” ujarnya.

Teknologi Masih Terbatas, Tapi Mulai Diterapkan

Meski menghadapi berbagai kendala, sebagian pembudidaya Saguling mulai mencoba teknologi sederhana untuk efisiensi.

Dian, misalnya, sudah mulai menggunakan alat pengukur pH dan oksigen terlarut untuk memantau kondisi air. “Sekarang nggak bisa pakai cara lama. Harus pakai data. Kalau air mulai nggak stabil, kita bisa tahu dari alat itu,” katanya.

Selain itu, ia juga menggunakan aerator bertenaga listrik dan vitamin ikan untuk meningkatkan daya tahan ikan, meski penggunaannya terbatas karena biaya listrik dan obat-obatan yang tidak murah.

“Memang masih belum bisa menghindari semua masalah, tapi setidaknya bisa mengurangi risiko kematian ikan massal,” tambahnya.


Baca lainnya: Ini Daerah Penghasil Durian Terbaik di Indonesia Beserta Ciri Khas Rasanya


Bandar dan Pembudidaya Saling Bergantung

Dalam rantai pasok perikanan di Saguling, peran bandar masih sangat penting. Dian sendiri kadang menjual langsung ke konsumen, tapi sebagian besar hasil panennya tetap disalurkan melalui bandar.

“Kalau langsung jual ke pemancingan, kita bisa dapat harga sedikit lebih tinggi. Tapi kalau jumlah panen besar, tetap lewat bandar biar cepat habis,” ujarnya.

Bandar biasanya datang langsung ke tambak pada malam hari untuk mengambil ikan. “Panen biasanya malam, antara habis Magrib sampai sebelum Subuh. Suhu air dingin, ikan lebih kuat di oksigen,” jelasnya.

Ikan-ikan kemudian dibungkus dalam plastik berisi oksigen dan langsung dikirim ke pasar atau lokasi pemancingan tanpa transit.

Krisis yang Diam-Diam Mengancam

Meski aktivitas budidaya di Saguling masih ramai, para pembudidaya kini mulai khawatir dengan isu pembatasan jumlah keramba yang digulirkan pemerintah.

“Kami juga dengar isu pemerintah mau nolkan (hapus) budidaya di Saguling karena dianggap penyebab pencemaran. Kalau itu terjadi, ya habislah kami,” kata Dian tegas.

Menurutnya, jika pemerintah benar-benar menutup budidaya, maka ribuan orang akan kehilangan mata pencaharian dan pasokan ikan untuk wilayah Bandung Barat akan terganggu.

“Saguling itu menyuplai lima sampai sepuluh ton ikan per hari. Kalau dihapus, bisa kolaps pasokan ikan lokal,” tambahnya.

Ia berharap pemerintah tidak melarang total, tetapi melakukan penertiban administratif dan zonasi budidaya agar lebih teratur.

Adaptasi dan Harapan

Meski dihantam kenaikan harga pakan, stagnasi pasar, dan ancaman kebijakan pembatasan, Dian memilih tetap optimistis.

“Kami sudah jatuh bangun di sini. Tapi selama masih ada air dan ikan, kami akan terus bertahan,” katanya.

Ia juga mengajak pembudidaya lain untuk berinovasi, misalnya dengan memanfaatkan media sosial untuk promosi langsung ke konsumen, atau mengembangkan produk olahan seperti ikan fillet dan bakso ikan.

“Kalau kita cuma jual mentahan terus, margin tipis. Tapi kalau diolah, bisa lebih untung,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *