Harga Tepung Beras Melonjak, UMKM Kue Tradisional Tertekan

Petikhasil.id, CIREBON — Bagi banyak pelaku usaha kue tradisional, tepung beras bukan sekadar bahan baku. Ia adalah fondasi utama yang menentukan rasa, tekstur, hingga keberlangsungan usaha. Namun dalam beberapa bulan terakhir, kenaikan harganya mulai membuat napas pelaku UMKM di Cirebon terasa kian berat.

Tekanan paling terasa datang dari sentra produksi di Kampung Kue Pekantingan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Di kawasan ini, para perajin kue mengaku harus beradaptasi cepat menghadapi lonjakan biaya produksi yang tidak kecil.

Baca Juga: Kenaikan Harga Pangan di Cirebon Tak Terbendung

Harga tepung beras yang terus naik memaksa mereka mengambil langkah bertahan. Mulai dari mengecilkan ukuran kue, mengurangi jumlah produksi, hingga mengganti jenis produk yang dijual.

Salah satu pelaku usaha, Wenny (39), menyebut harga tepung beras kemasan 500 gram kini mencapai Rp7.900 per bungkus. Kenaikan ini semakin terasa karena bahan baku lain seperti gula pasir juga ikut naik.

“Kami tidak berani menaikkan harga jual karena khawatir konsumen komplain. Jadi terpaksa ukuran kue diperkecil,” ungkapnya saat ditemui, Selasa (31/3/2026).

Produk seperti kue talam dan lapis yang sebelumnya dijual Rp1.600 per potong kini mengalami penyesuaian ukuran. Bagi pelaku usaha kecil, pilihan ini dinilai sebagai jalan tengah agar tetap bisa bertahan tanpa kehilangan pelanggan.

Strategi Bertahan di Tengah Tekanan Biaya

Tak hanya mengecilkan ukuran, sebagian pelaku usaha juga mulai mengubah strategi produksi. Wenny, misalnya, kini mencoba memproduksi kue lain yang tidak berbahan dasar tepung beras, seperti botok roti.

Langkah ini dilakukan untuk menekan biaya sekaligus menjaga arus usaha tetap berjalan.

Kondisi serupa dialami Diki (51), pelaku usaha yang telah puluhan tahun berjualan kue tradisional di kawasan yang sama. Ia menyebut harga tepung beras dalam kemasan karton kini mencapai Rp154.000 atau sekitar Rp15.400 per kilogram.

“Harga naiknya tidak kira-kira. Mau tidak mau ukuran kue juga diperkecil supaya tetap bisa jualan,” katanya.

Namun, tekanan tidak berhenti di situ. Diki mengaku produksi justru menurun, bahkan di tengah momen Ramadan yang biasanya menjadi puncak permintaan.

“Sekarang malah sepi. Saya sampai berhenti produksi sementara karena tidak ada orderan,” ujarnya.

Dampak Rantai Pasok dari Hulu ke Hilir

Kenaikan harga tepung beras ini tidak terjadi begitu saja. Di tingkat hulu, perubahan pasokan bahan baku menjadi pemicu utama.

Penghentian impor beras pecah untuk kebutuhan industri membuat produsen tepung beras beralih ke beras pecah lokal. Masalahnya, harga bahan baku lokal jauh lebih tinggi.

Saat ini, harga beras pecah lokal berada di kisaran Rp10.000 hingga Rp11.000 per kilogram. Angka ini hampir dua kali lipat dibandingkan beras pecah impor yang sebelumnya berada di kisaran Rp5.700 hingga Rp6.100 per kilogram.

Kenaikan di tingkat penggilingan tersebut kemudian merambat ke industri tepung beras, dan pada akhirnya sampai ke pelaku UMKM sebagai pengguna akhir.

Harapan pada Stabilitas Kebijakan

Di tengah kondisi ini, pelaku UMKM berharap adanya langkah konkret dari pemerintah untuk menjaga stabilitas harga bahan baku. Bagi mereka, kepastian harga menjadi kunci agar usaha kecil tetap bisa berjalan.

Selain itu, mereka juga menilai pentingnya kebijakan yang mampu menyeimbangkan kebutuhan industri dengan keberlangsungan usaha mikro.

Sebab bagi pelaku usaha kecil, kenaikan harga bukan sekadar angka. Ia adalah penentu apakah dapur produksi tetap menyala, atau justru terpaksa berhenti sementara.

Pada akhirnya, cerita dari Kampung Kue Pekantingan menjadi potret sederhana tentang bagaimana perubahan di hulu bisa berdampak langsung ke pelaku usaha kecil di hilir. Di tengah tekanan biaya, yang tersisa adalah upaya bertahan dengan segala penyesuaian yang harus dilakukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *