Petikhasil.id, BANDUNG BARAT – Di balik tenangnya permukaan air Waduk Saguling, ada denyut ekonomi yang terus bergerak tanpa henti. Ribuan jaring terapung di atas waduk ini menjadi saksi hidup perjuangan para pembudidaya ikan yang setiap harinya menggantungkan hidup dari dua komoditas utama: ikan mas dan nila.
Bagi masyarakat sekitar, kedua jenis ikan ini bukan sekadar hasil panen tapi simbol ketahanan ekonomi, keberlanjutan warisan keluarga, dan bukti bahwa potensi perairan buatan bisa menjadi tumpuan kehidupan yang luar biasa.
Salah satu pelaku budidaya yang sudah puluhan tahun menggeluti dunia perikanan di Waduk Saguling adalah Dian (40), generasi kedua pembudidaya yang meneruskan usaha orang tuanya. “Dari dulu sampai sekarang, ikan mas dan nila tetap jadi andalan. Permintaannya stabil, harganya juga paling menguntungkan dibanding jenis lain,” ujarnya saat ditemui di area KJA (keramba jaring apung) miliknya di wilayah Desa Bongas, Kabupaten Bandung Barat.
Primadona Waduk Saguling
Ikan mas dan nila sudah lama dikenal sebagai dua komoditas unggulan di Jawa Barat. Keduanya mudah dibudidayakan, memiliki siklus pertumbuhan cepat, serta disukai pasar baik pasar lokal maupun luar daerah.
“Ikan mas dari Saguling ini punya ciri khas, dagingnya padat dan rasanya gurih. Banyak rumah makan di Bandung dan Jakarta yang khusus pesan dari sini,” tutur Dian.
Dalam satu siklus pemeliharaan sekitar 4 hingga 5 bulan, setiap KJA berukuran 3×4 meter bisa menghasilkan 250–300 kilogram ikan mas atau nila. Dengan total 64 petak yang dikelola bersama keluarganya, Dian bisa memanen hampir 20 ton ikan per siklus, tergantung kondisi cuaca dan tingkat kematian ikan.
“Kalau lagi bagus, ikan bisa tumbuh cepat dan panen banyak. Tapi kalau air mulai kotor atau cuaca ekstrem, hasil bisa turun sampai 30 persen,” katanya.
Baca lainnya: Menguak Mitos dan Fakta Durian: Benarkah Tidak Boleh Dimakan dengan Kopi dan Susu?
Stabilnya Permintaan di Tengah Fluktuasi Harga
Kelebihan utama budidaya ikan mas dan nila di Waduk Saguling adalah stabilnya permintaan pasar. Baik pedagang besar maupun pengepul kecil rutin datang ke lokasi setiap kali panen.
Harga ikan mas biasanya berada di kisaran Rp30.000 hingga Rp35.000 per kilogram, sementara nila bisa mencapai Rp28.000 hingga Rp32.000 per kilogram tergantung ukuran dan kualitas.
Namun, di balik harga yang relatif menguntungkan, para pembudidaya juga menghadapi tantangan berat dari sisi biaya pakan. Dalam beberapa tahun terakhir, harga pakan ikan melonjak hingga dua kali lipat, membuat margin keuntungan semakin tipis.
“Kalau dulu satu karung pakan bisa Rp250 ribu, sekarang sudah di atas Rp400 ribu. Sementara harga jual ikan nggak banyak berubah,” ungkap Dian.
Kenaikan biaya operasional ini memaksa pembudidaya lebih cermat dalam mengatur siklus panen dan penggunaan pakan. Banyak yang beralih ke pakan alternatif atau menggabungkan pakan pabrikan dengan racikan sendiri untuk menekan biaya produksi.
Kualitas Air Menentukan Kualitas Ikan
Waduk Saguling yang membentang di tiga kabupaten Bandung Barat, Cianjur, dan Bandung memiliki potensi perikanan yang luar biasa besar. Namun, kondisi air yang fluktuatif sering menjadi faktor penentu keberhasilan panen.
Pada musim kemarau, volume air waduk menurun drastis dan suhu air meningkat, mengakibatkan ikan stres dan rentan terserang penyakit. Sementara saat musim hujan tiba, fenomena upwelling atau pembalikan massa air kerap menyebabkan kematian ikan secara massal.
“Kalau sudah upwelling, ikan bisa mati ribuan ekor dalam semalam. Itu yang paling ditakuti semua pembudidaya,” kata Dian dengan nada serius.
Untuk mengantisipasi hal itu, para petani ikan kini mulai menerapkan sistem rotasi kolam, pengaturan kedalaman jaring, dan penggunaan probiotik alami agar kondisi air tetap stabil.
Baca lainnya: Dari Empat Kolam ke Enam Puluh Empat KJA: Kisah Perjuangan Pembudidaya Ikan di Waduk Saguling
Peluang Pasar yang Masih Terbuka Lebar
Meskipun tantangan selalu ada, potensi ekonomi dari ikan mas dan nila Saguling masih sangat besar. Data Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Barat menunjukkan, permintaan ikan konsumsi di wilayah Bandung Raya terus meningkat setiap tahun, sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan meningkatnya kesadaran gizi masyarakat.
Selain untuk pasar lokal, sebagian hasil panen juga dikirim ke Jakarta, Bekasi, dan Karawang, di mana restoran dan hotel besar mulai mencari pasokan ikan segar berkualitas dari perairan alami.
“Permintaan kadang lebih banyak dari kapasitas produksi kami. Makanya kami terus berusaha menambah KJA dan memperbaiki manajemen budidaya,” ujar Dian.
Selain menjual ikan konsumsi, beberapa pembudidaya juga mulai menjual benih ikan mas dan nila ke daerah lain sebagai sumber pendapatan tambahan. Langkah ini dinilai strategis karena bisa menekan risiko kerugian saat harga ikan konsumsi sedang turun.
Ancaman Regulasi dan Daya Dukung Waduk
Meski begitu, masa depan budidaya ikan di Saguling belum sepenuhnya aman. Pemerintah tengah meninjau ulang kebijakan pembatasan jumlah KJA di beberapa waduk besar untuk menjaga kualitas air dan daya dukung lingkungan.
Bagi pembudidaya seperti Dian, kebijakan itu menjadi dilema. “Kami paham soal kelestarian waduk, tapi jangan sampai kami yang sudah puluhan tahun di sini malah jadi korban kebijakan. Harus ada solusi yang adil,” ujarnya.
Dian berharap, pemerintah bisa mendorong program penataan KJA berkelanjutan yang tidak sekadar membatasi, tapi juga memberi pelatihan teknologi, bantuan pakan, dan sistem pemasaran digital agar pembudidaya bisa naik kelas.
Warisan yang Terus Diteruskan
Bagi keluarga Dian, budidaya ikan bukan hanya soal ekonomi, tapi juga warisan dan kebanggaan. Ayahnya memulai usaha ini sejak awal 1990-an, saat Waduk Saguling baru beroperasi. Kini, generasi kedua dan ketiga keluarganya ikut membantu dalam proses pakan, panen, hingga penjualan.
“Anak saya sudah mulai ikut bantu. Harapan saya, dia bisa melanjutkan, tapi dengan cara yang lebih modern pakai data, teknologi, dan pemasaran online,” tutur Dian sambil tersenyum.
Semangat itu menunjukkan bahwa budidaya ikan di Waduk Saguling bukan sekadar usaha lokal, tapi potret ketahanan ekonomi rakyat yang bertahan di tengah perubahan zaman.






