Petikhasil.id, JAKARTA — Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa kebijakan impor agrikultur, termasuk dari Amerika Serikat, akan tetap berpatokan pada kebutuhan dalam negeri. Hal itu disampaikannya usai mengikuti rapat terbatas (ratas) bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (20/11/2025).
Menanggapi proyeksi impor agrikultur dari AS yang disebut bisa menembus US$4,5 miliar akibat masuknya jagung AS secara bebas melalui mekanisme resiprokal, Amran menekankan bahwa keputusan tetap berada pada kepentingan nasional.
“Satu kata, tergantung kebutuhan Indonesia. Kalau kita butuh, kita impor sesuai kebutuhan kita,” ujar Amran. Lebih lanjut, dia menyampaikan bahwa kondisi produksi jagung dan beras nasional saat ini menunjukkan tren positif.
Berita Lainya: Pertanian Garut Jadi Lumbung Jagung Tapi Nilai Tambah Nihil | Garut Jadi Lumbung Jagung Jawa Barat
“Tapi sekarang ini produksi jagung, produksi beras. Alhamdulillah baik, kita stop impor untuk beras. Dan mudah-mudahan jagung menyusul tahun ini. Kita kurangi tahun depan,” katanya. Amran optimistis bahwa Indonesia akan dapat menghentikan impor jagung sepenuhnya dalam waktu dekat, seiring peningkatan produksi dalam negeri.
“Mudah-mudahan tidak ada impor lagi untuk jagung. Tapi beras kita akan pertahankan bila perlu tingkatkan. Dan mudah-mudahan ke depan bisa ekspor,” tandas Amran. Pemerintah akan terus melakukan negosiasi tarif kendati pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menurunkan tarif impor resiprokal terhadap Indonesia dari 32% menjadi 19%.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menuturkan bahwa saat ini seluruh aspek legal drafting sedang berjalan secara cermat untuk memastikan bahwa seluruh klausul kesepakatan sesuai dengan regulasi nasional, komitmen internasional, dan dapat diimplementasikan dengan baik.
Sebagai langkah lanjutan terkait kebijakan tarif tersebut, pemerintah Indonesia akan melanjutkan proses negosiasi setelah penyelenggaraan KTT APEC pada akhir bulan November 2025.
“Pemerintah berkomitmen agar setiap kesepakatan ekonomi yang ditandatangani membawa manfaat langsung bagi masyarakat, memperkuat struktur industri nasional, dan menjaga posisi Indonesia sebagai mitra strategis yang mandiri dan netral di tengah dinamika geopolitik global,” ungkap Haryo, dikutip Selasa (4/11/2025).
Haryo cukup yakin bahwa pemerintah AS akan memberikan relaksasi terhadap barang atau komoditas yang tidak diproduksi oleh negeri Paman Sam tersebut. Dia bahkan mengemukakan kalau kelapa sawit, kakao, dan karet, bisa mendapatkan tarif sebesar nol persen.
Selain itu, pemerintah juga meminta perlakuan khusus bagi komoditas tertentu yang menjadi bagian dari rantai pasok industri kesehatan, serta pembahasan non-tarif.
Dalam proses perundingan dan negosiasi tersebut, pemerintah Indonesia akan terus mengedepankan kepentingan nasional, dengan tetap mendorong penguatan hubungan bilateral dengan AS.
Penawaran yang disampaikan kepada pemerintah AS dirancang untuk mencapai perdagangan yang adil dan berimbang (fair and square trade), sejalan dengan prinsip kesetaraan dan keseimbangan yang menjadi prioritas dalam setiap tahapan negosiasi.
“Sebagai negara yang berdaulat, Indonesia menjalankan diplomasi ekonomi yang bebas dan aktif. Pendekatan ini memastikan setiap langkah kebijakan dan negosiasi perdagangan dilakukan untuk melindungi kepentingan nasional, memperkuat kedaulatan ekonomi, dan memberikan manfaat nyata bagi pertumbuhan ekonomi serta kesejahteraan rakyat,” pungkas Haryo. ***






