Petikhasil.id, JAKARTA — Pengamat menilai harga beras di tahun depan akan dipengaruhi oleh kondisi infrastruktur pertanian dan manajemen hama yang masih menjadi tantangan bagi stabilitas produksi.
Pengamat Pertanian dari Center of Reform on Economic (Core) Indonesia Eliza Mardian mengatakan stabilitas harga beras akan sangat tergantung pada kesiapan dan kebijakan pemerintah, termasuk menangani hama.
“Jika pemerintah bisa antisipasi perubahan cuaca dan kebijakannya memberikan kepastian pasar dan harga, maka produksi beras bisa stabil tinggi,” kata Eliza, dikutip Sabtu (13/12/2025).
Namun demikian, Eliza menyebut sejumlah kendala yang dapat memengaruhi pasokan beras pada 2026 mendatang. Menurutnya, kondisi infrastruktur seperti irigasi masih menjadi pekerjaan rumah, karena banyak saluran yang rusak dan pendangkalan waduk menyulitkan penampungan air.
Baca Lainya: Produksi Beras Baru Penuhi 22% Kebutuhan, Lahan Sawah Belum Optimal | Gerakan Sunyi Menghidupkan Kembali Sawah Cirebon
Dia menyebut saat hujan deras, air yang meluap bisa menggenangi sawah, merusak padi, dan menurunkan kualitasnya. Selain itu, serangan hama dan penyakit juga semakin memperparah kondisi tanaman sehingga berpotensi mengurangi produksi.
“Manajemen hama penyakit yang responsif, tepat sasaran, dan efektif juga harus dimaksimalkan. Ini perlu kerja sama petani, penyuluh, dinas terkait, serta akademisi agar penangannya tepat sehingga tidak membuat produksi terganggu,” ujarnya.
Eliza menilai jaringan irigasi yang rusak saat musim kemarau membuat distribusi air tidak merata. Alhasil, beberapa lahan mengalami kesulitan air sehingga produksi tidak berjalan optimal.
Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya memperkirakan potensi produksi beras akan mencapai 34,79 juta ton sepanjang Januari-Desember 2025. Kenaikan potensi produksi beras ini terutama ditopang subround I (Januari–April 2025) yang melonjak 26,54%.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini mengatakan produksi beras sepanjang Januari—Desember 2025 diperkirakan naik 4,17 juta ton atau 13,60% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Hal ini juga sejalan dengan potensi luas panen padi sepanjang Januari-Desember 2025 yang diperkirakan akan mencapai 11,36 juta hektare. BPS memperkirakan, luas panen padi naik 1,31 juta hektare atau 13,03% dibandingkan dengan periode yang sama 2024.
“Peningkatan potensi luas panen Januari-Desember 2025 ini utamanya disumbang oleh peningkatan luas panen pada subround I, yaitu Januari-April 2025 yang meningkat sebesar 25,82%,” kata Pudji dalam Rilis BPS, Senin (1/12/2025).
Namun, angka potensi ini masih dapat berubah tergantung pada kondisi pertanaman padi sepanjang November 2025–Januari 2026, mulai dari serangan hama, banjir, kekeringan, maupun pelaksanaan panen yang dilakukan oleh para petani.
Baca Lainya: Produksi Beras Baru Penuhi 22% Kebutuhan, Lahan Sawah Belum Optimal | Gerakan Sunyi Menghidupkan Kembali Sawah Cirebon
Lebih lanjut, potensi produksi padi sepanjang 2025 juga diperkirakan naik 7,23 juta ton gabah kering giling (GKG) menjadi 60,37 juta ton GKG. Ini artinya, ada potensi mengalami peningkatan sebesar 13,61% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 53,14 juta ton GKG.
Peningkatan potensi produksi padi Januari-Desember 2025 utamanya disumbang oleh peningkatan pada subround I, yaitu Januari-April 2025 yang meningkat sebesar 26,57%.***






