Kuningan Perkuat Jagung Lewat Kemitraan Petani

Petikhasil.id, KUNINGAN — Pemerintah Kabupaten Kuningan mengembangkan kemitraan jagung Kuningan melalui skema kemitraan terintegrasi dari produksi hingga pemasaran, dengan komoditas jagung sebagai fokus utama. Langkah ini menjadi bagian dari strategi memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi petani.

Pemerintah menargetkan pengembangan lahan jagung hingga 2.500 hektare melalui kolaborasi antara perusahaan agribisnis dan kelompok tani lokal. Dalam skema ini, pelaku usaha tidak hanya mendorong peningkatan produksi, tetapi juga menjamin penyerapan hasil panen melalui peran offtaker.

Baca Juga: Garut Selatan Butuh Percepatan Ekonomi, Jagung Jadi Komoditas Andalan

Direktur utama perusahaan mitra, Bahtiar, menyatakan pihaknya telah mengembangkan lahan jagung seluas 435 hektare di Kuningan. Ia menegaskan perusahaan akan terus memperluas area tanam untuk mengejar target yang telah ditetapkan.

Menurut Bahtiar, jagung memiliki nilai strategis yang luas karena tidak hanya berfungsi sebagai bahan pangan, tetapi juga sebagai bahan baku energi alternatif seperti bioetanol. Potensi ini mendorong pengembangan jagung sebagai komoditas unggulan berbasis industri.

“Pengembangan jagung tidak hanya memenuhi kebutuhan konsumsi, tetapi juga membuka peluang industri energi terbarukan,” ujarnya.

Integrasi Hulu-Hilir dan Kepastian Pasar

Pemerintah dan mitra usaha merancang skema kemitraan ini untuk mengurangi risiko usaha tani. Mereka menyediakan akses permodalan, menyalurkan benih dan pupuk, serta memastikan hasil panen langsung terserap pasar.

Bahtiar menegaskan perusahaan mengambil peran aktif dalam menjaga stabilitas usaha petani dengan menyerap hasil panen secara langsung. Dengan skema ini, petani tidak lagi menghadapi ketidakpastian harga maupun kendala distribusi pascapanen.

“Petani bisa fokus meningkatkan produksi karena kami memastikan hasil panen terserap dan perputaran keuangan tetap berjalan,” katanya.

Strategi Penguatan Ketahanan Pangan Daerah

Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar, menilai kemitraan ini sebagai langkah strategis dalam membangun sistem pangan daerah yang berkelanjutan. Ia menegaskan pemerintah harus mengelola sektor pertanian secara menyeluruh dari hulu hingga hilir.

Menurutnya, pemerintah tidak hanya mengejar peningkatan produksi, tetapi juga memperkuat stabilitas ekonomi daerah melalui sistem pangan yang terintegrasi. Oleh karena itu, kebijakan yang diambil harus mencakup pengolahan, distribusi, hingga pemasaran.

Ia juga mendorong petani untuk beradaptasi dengan sistem pertanian modern. Pemerintah menilai peningkatan profesionalisme dan penguatan kelembagaan kelompok tani menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing.

“Pertanian harus naik kelas. Petani tidak hanya memproduksi, tetapi juga harus menciptakan nilai tambah,” ujarnya.

Peran Offtaker dan Akses Pasar

Dalam skema ini, perusahaan mitra berperan sebagai offtaker yang menyerap hasil panen sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas. Perusahaan menghubungkan petani dengan kebutuhan industri, sehingga rantai distribusi menjadi lebih efisien.

Dengan keterlibatan sektor swasta, pemerintah mendorong terbentuknya ekosistem pertanian yang lebih kuat. Model ini tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga memperkuat posisi petani dalam rantai nilai.

Momentum Transformasi Pertanian

Program pengembangan jagung di Kuningan mencerminkan upaya transformasi sektor pertanian menuju sistem yang lebih modern dan terintegrasi. Pemerintah memanfaatkan kemitraan sebagai instrumen untuk mempercepat pertumbuhan sektor pangan sekaligus menjaga ketahanan ekonomi daerah.

Dalam konteks yang lebih luas, penguatan sektor pertanian berbasis kemitraan menjadi langkah strategis untuk menghadapi tantangan pangan global. Dengan pendekatan ini, petani tidak hanya menjadi produsen, tetapi juga bagian dari ekosistem ekonomi yang berkelanjutan. (PtrA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *