Petikhasil.id, JAKARTA — Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengungkap kekhawatiran terhadap meningkatnya pencemaran mikroplastik yang kini telah ditemukan di air hujan di Jakarta.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan ketika plastik terurai menjadi partikel mikroplastik akan berpotensi larut hingga ke laut. Nantinya, partikel tersebut berpotensi masuk ke tubuh manusia melalui konsumsi ikan dan hasil laut.
Kekhawatiran ini muncul seiring hasil penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap air hujan di Jakarta sudah mengandung mikroplastik.
“Artinya plastik ini kalau dia larut ke laut, dari darat larut ke laut, dia akan menjadi mikroplastik dimakan oleh ikan dan kemudian berbahaya buat manusia,” kata Trenggono dikutip, Rabu (29/10/2025).
Menurut Trenggono, fenomena mikroplastik yang kini mencemari air hujan menunjukkan betapa seriusnya permasalahan limbah plastik di Indonesia.
Berita Lainya: PAD Perikanan Cirebon Diproyeksikan Tembus Rp1,2 Triliun | Pemerintah Pastikan Temuan Radioaktif Tak Ganggu Ekspor Indonesia
Sebelumnya, hasil penelitian BRIN mengungkap air hujan di Jakarta mengandung partikel mikroplastik berbahaya yang berasal dari aktivitas manusia di perkotaan.
Peneliti BRIN Muhammad Reza Cordova mengungkap, penelitian yang dilakukan sejak 2022 menunjukkan adanya mikroplastik dalam setiap sampel air hujan di Jakarta. Adapun, partikel-partikel plastik mikroskopis tersebut terbentuk dari degradasi limbah plastik yang melayang di udara akibat aktivitas manusia.
“Mikroplastik ini berasal dari serat sintetis pakaian, debu kendaraan dan ban, sisa pembakaran sampah plastik, serta degradasi plastik di ruang terbuka,” ujar Reza melalui keterangan resmi dikutip Sabtu (18/10/2025).
Reza menuturkan, mikroplastik yang ditemukan umumnya berbentuk serat sintetis dan fragmen kecil plastik, terutama polimer seperti poliester, nilon, polietilena, polipropilena, hingga polibutadiena dari ban kendaraan. Secara rata-rata, peneliti menemukan sekitar 15 partikel mikroplastik per meter persegi per hari pada sampel hujan di kawasan pesisir Jakarta.
Alhasil, temuan ini menimbulkan kekhawatiran karena partikel mikroplastik berukuran sangat kecil, bahkan lebih halus dari debu biasa, sehingga dapat terhirup manusia atau masuk ke tubuh melalui air dan makanan.
Selain itu, plastik juga mengandung bahan aditif beracun seperti ftalat, bisfenol A (BPA), dan logam berat yang dapat lepas ke lingkungan ketika terurai menjadi partikel mikro atau nano.
Di udara, sambung dia, partikel ini juga bisa mengikat polutan lain seperti hidrokarbon aromatik dari asap kendaraan. “Yang beracun bukan air hujannya, tetapi partikel mikroplastik di dalamnya karena mengandung bahan kimia aditif atau menyerap polutan lain,” pungkasnya.***






