Kolang Kaling Mendadak Mahal Saat Ramadan Siapa yang Paling Untung di Balik Manisnya Takjil

Petikhasil.id, — Setiap Ramadan, kolang kaling tiba tiba naik panggung. Ia muncul di kolak, es buah, hingga manisan berwarna merah muda yang menggoda di meja takjil. Permintaannya melonjak tajam hanya dalam hitungan minggu. Harga pun ikut bergerak. Namun di balik manis dan kenyalnya kolang kaling, ada rantai panjang yang jarang dibicarakan.

Kolang kaling bukan buah biasa. Ia berasal dari biji pohon aren yang harus diproses panjang sebelum bisa dikonsumsi. Buah aren yang masih keras direbus berjam jam, lalu dikupas dan direndam hingga teksturnya berubah kenyal. Proses ini tidak mudah dan tidak cepat. Banyak petani dan pengolah bekerja jauh sebelum Ramadan tiba.

Di beberapa sentra aren di Jawa Barat dan Sumatera, pengolah kolang kaling mulai meningkatkan produksi sejak dua hingga tiga bulan sebelum bulan puasa. Mereka tahu, begitu Ramadan datang, permintaan bisa berlipat. Pedagang besar dari kota mulai berdatangan mencari stok.

Baca Lainya: Unik! Pohon Aren Bunar Tak Bisa Ditaman, Tapi Gulanya Jadi Andalan Kopi | Menjelang Ramadan, Wilayah Indonesia Timur Hadapi Disparitas Harga Pangan Tertinggi

Seorang pengolah kolang kaling di wilayah Tasikmalaya mengungkapkan kepada Petik Hasil bahwa harga di tingkat pengolah bisa naik signifikan menjelang Ramadan. Jika di luar musim puasa harga relatif stabil, saat Ramadan permintaan melonjak dan harga ikut terdorong. Namun kenaikan ini tidak selalu dinikmati secara merata.

Rantai panjang dari pohon aren ke lapak takjil

Di tingkat petani aren, situasinya berbeda. Tidak semua petani menjual dalam bentuk kolang kaling siap konsumsi. Banyak yang hanya menjual buah mentah atau setengah proses. Nilai tambah terbesar justru terjadi di tangan pengolah dan pedagang perantara.

Dalam investigasi lapangan, Petik Hasil menemukan bahwa selisih harga antara tingkat petani dan pasar kota bisa cukup lebar. Di desa, kolang kaling dijual per kilogram dengan harga yang relatif rendah. Namun ketika tiba di pasar kota menjelang Ramadan, harganya bisa meningkat beberapa kali lipat.

Kenaikan harga ini dipengaruhi banyak faktor. Permintaan tinggi dalam waktu singkat, biaya transportasi, serta risiko pembusukan karena kolang kaling termasuk bahan yang mudah rusak. Pedagang berdalih harga naik karena biaya distribusi dan penyimpanan meningkat.

Namun ada pertanyaan yang sering muncul. Apakah kenaikan harga ini benar benar memperbaiki kesejahteraan petani aren. Jawabannya tidak selalu iya. Petani yang menjual dalam bentuk mentah sering tidak merasakan lonjakan harga sebesar yang terlihat di kota.

Sementara itu, pelaku usaha takjil di perkotaan menghadapi dilema lain. Mereka harus menjaga harga jual tetap terjangkau agar pembeli tidak lari. Akibatnya, margin keuntungan ditekan. Kolang kaling menjadi komoditas yang sensitif terhadap harga.

Ramadan sebagai musim ekonomi musiman

Fenomena kolang kaling menunjukkan bagaimana Ramadan menciptakan ekonomi musiman yang sangat kuat. Dalam satu bulan, permintaan bisa melonjak drastis lalu kembali turun setelah Idul Fitri. Siklus ini membuat produksi dan distribusi bergerak cepat dalam waktu singkat.

Beberapa pengolah mengaku harus bekerja lebih lama menjelang puasa. Proses perebusan yang memakan waktu panjang membutuhkan kayu bakar atau gas dalam jumlah besar. Biaya energi menjadi komponen penting yang ikut memengaruhi harga akhir.

Di sisi lain, belum banyak inovasi pengolahan pascapanen yang mampu memperpanjang umur simpan kolang kaling tanpa mengubah rasa. Produk ini masih sangat bergantung pada distribusi cepat dan penjualan segar. Ketika pasokan melimpah tanpa manajemen yang baik, harga bisa jatuh setelah Ramadan usai.

Bagi Petikhasil.id, kisah kolang kaling adalah potret kecil dari dinamika pangan musiman Indonesia. Ia memperlihatkan bagaimana tradisi mendorong lonjakan ekonomi, tetapi juga membuka celah ketimpangan dalam rantai nilai.

Baca Lainya: Unik! Pohon Aren Bunar Tak Bisa Ditaman, Tapi Gulanya Jadi Andalan Kopi | Menjelang Ramadan, Wilayah Indonesia Timur Hadapi Disparitas Harga Pangan Tertinggi

Setiap kali kita menyendok kolang kaling ke dalam mangkuk kolak, ada kerja keras panjang di belakangnya. Dari pohon aren yang tumbuh bertahun tahun, proses perebusan yang melelahkan, hingga distribusi yang berpacu dengan waktu. Ramadan mungkin hanya sebulan, tetapi bagi petani dan pengolah aren, musim ini menentukan banyak hal.

Pertanyaannya kini bukan hanya soal harga naik atau turun. Melainkan bagaimana agar lonjakan permintaan Ramadan benar benar memberi dampak yang adil bagi mereka yang bekerja paling awal dalam rantai produksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *