Infrastruktur Pascapanen Bulog Senilai Rp5 Triliun

Petikhasil.id, JAKARTA — Perum Bulog mempercepat persiapan pembangunan 100 titik infrastruktur pascapanen dengan nilai investasi mencapai Rp5 triliun. Namun, perseroan masih menunggu hasil studi kelayakan serta persetujuan akhir dari Kementerian Koordinator Bidang Pangan sebelum merealisasikan proyek tersebut.

Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menyatakan pihaknya langsung menindaklanjuti penugasan pemerintah dengan menyusun studi kelayakan secara komprehensif. Bulog melibatkan perguruan tinggi dan lembaga riset untuk mengkaji aspek teknis dan finansial secara mendalam.

Baca Juga:Bulog Indramayu Salurkan Bantuan Pangan untuk 314.129 Penerima, Total 6.282 Ton Beras

Selain itu, Bulog berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian Republik Indonesia untuk menentukan standar teknis pembangunan gudang dan infrastruktur pascapanen. Pemerintah menyesuaikan desain fasilitas dengan karakteristik wilayah agar proyek berjalan optimal.

“Bulog membangun gudang dan infrastruktur pascapanen berdasarkan pertimbangan teknis dari Kementerian Pertanian sesuai tipologi wilayah,” ujar Ahmad Rizal.

Penentuan Lokasi dan Standar Teknis

Bulog menetapkan sejumlah parameter dalam menentukan lokasi pembangunan. Perseroan menguji kondisi tanah melalui studi kelayakan, memastikan kemiringan lahan maksimal 3–5 derajat, serta memilih lokasi dengan akses jalan memadai untuk kendaraan logistik berkapasitas besar.

Bulog menargetkan pembangunan gudang dengan kapasitas antara 1.000 hingga 3.500 ton. Perseroan menerapkan pendekatan berbeda antara wilayah sentra produksi dan daerah terluar untuk memastikan efektivitas distribusi pangan.

Fokus Wilayah Produksi dan Daerah Terluar

Di wilayah terdepan seperti Natuna dan Rote, Bulog memprioritaskan pembangunan gudang penyimpanan guna menjaga ketersediaan pangan di tengah tantangan distribusi akibat cuaca ekstrem.

Sementara itu, di sentra produksi seperti Lampung, Jawa, dan Sulawesi Selatan, Bulog melengkapi fasilitas dengan infrastruktur tambahan. Perseroan membangun pengering (dryer), rice milling unit, serta silo untuk meningkatkan efisiensi pascapanen dan kualitas hasil produksi.

Secara keseluruhan, Bulog merancang pembangunan 94 unit gudang, 6 unit silo gabah, dan 8 unit silo jagung, lengkap dengan fasilitas pendukung seperti unit penggilingan dan sentra pengolahan beras.

Dorongan Modernisasi dan Efisiensi

Bulog juga mendorong penerapan mekanisasi dan otomatisasi dalam proyek ini. Perseroan menargetkan fasilitas yang dibangun mampu mendekati standar industri modern untuk meningkatkan efisiensi operasional.

“Bulog ingin memastikan fasilitas negara mampu bersaing dengan sektor swasta,” kata Ahmad Rizal.

Dari total anggaran Rp5 triliun, Bulog mengalokasikan sekitar Rp4,4 triliun untuk pembangunan infrastruktur utama. Sementara itu, sekitar Rp560 miliar digunakan untuk mekanisasi, otomatisasi, serta pengembangan sistem teknologi informasi.

Menunggu Persetujuan Final

Pemerintah menugaskan BUMN Karya untuk melaksanakan pembangunan di 92 kabupaten. Namun, Bulog masih menunggu evaluasi dari Kementerian Badan Usaha Milik Negara terkait kelayakan finansial serta rekomendasi penggunaan dana investasi pemerintah nonpermanen.

Setelah seluruh tahapan selesai, Bulog akan melaporkan hasilnya kepada Kementerian Koordinator Bidang Pangan untuk memperoleh persetujuan akhir.

Momentum Penguatan Sistem Pangan

Proyek pembangunan infrastruktur pascapanen ini menjadi bagian penting dalam memperkuat sistem logistik pangan nasional. Dengan dukungan fasilitas modern, pemerintah mendorong peningkatan efisiensi distribusi sekaligus menjaga stabilitas pasokan.

Dalam jangka panjang, penguatan infrastruktur pascapanen diharapkan mampu mengurangi kehilangan hasil panen, meningkatkan kualitas produksi, serta memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah dinamika global. (PtrA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *