Petikhasil.id, TASIKMALAYA- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, sektor pertanian Kota Tasikmalaya memasuki momentum pemulihan yang signifikan pada 2025.
Perkiraan terbaru menunjukkan kenaikan tajam pada luas panen, produksi gabah, hingga produksi beras, yang menandai kembalinya stabilitas pasokan pangan di tengah tekanan iklim dan fluktuasi input produksi selama dua tahun terakhir.
Kepala BPS Kota Tasikmalaya, Agung Hartadi, menyampaikan peningkatan produksi terlihat merata pada semua komponen utama. Ia menjelaskan luas panen padi sepanjang 2025 diperkirakan mencapai 8.790 hektare.
Berita Lainya: RI Gelontorkan Rp10 Triliun untuk Cetak Sawah Baru | Pemerintah Indonesia Berencana Mencetak Sawah Baru di Indonesia Timur
Angka itu lebih besar 2.250 hektare atau 34,56% dibanding realisasi luas panen 2024 yang berada pada 6.530 ribu hektare. Lonjakan ini mencerminkan pembukaan kembali areal tanam dan pulihnya ritme musim tanam setelah gangguan cuaca pada periode sebelumnya.
“Kenaikan luas panen diikuti pertumbuhan produksi gabah. Produksi padi dalam bentuk gabah kering panen (GKP) diperkirakan mencapai 60.330 ton GKP pada 2025, lebih tinggi 17,15 ribu ton GKP atau 39,72% dibanding capaian 2024 yang sebesar 43.180 ton GKP,” kata Agung, Kamis (4/12/2025).
Menurut Agung, peningkatan ini tidak hanya disebabkan oleh bertambahnya lahan panen, tetapi juga mulai stabilnya produktivitas per hektare di sejumlah wilayah sentra.
Konversi produksi dari GKP ke Gabah Kering Giling (GKG) juga mencatatkan kenaikan seiring membaiknya kualitas panen. Agung menuturkan produksi GKG tahun ini diperkirakan mencapai 49.460 ton.
Angka tersebut meningkat 14.060 ton atau 39,72% dibanding 2024 yang sebesar 35.400 ton. “Stabilitas proses pascapanen dan tingkat kehilangan hasil yang menurun memberi kontribusi signifikan terhadap naiknya volume GKG,” ujarnya.
Peningkatan di hulu berlanjut hingga ke tahap akhir produksi. Produksi beras untuk konsumsi penduduk tercatat naik cukup besar. Pada 2025, Kota Tasikmalaya diperkirakan menghasilkan 28.560 ton beras, naik 8.120 ton atau 39,72% dari produksi 2024 yang berada pada 20.440 ton.
Tambahan produksi ini dinilai strategis karena dapat memperkuat posisi daerah sebagai penyumbang stok beras di wilayah Priangan Timur.
Berita Lainya: RI Gelontorkan Rp10 Triliun untuk Cetak Sawah Baru | Pemerintah Indonesia Berencana Mencetak Sawah Baru di Indonesia Timur
Agung menjelaskan lonjakan produksi beras tahun ini berpotensi memperbaiki stabilitas pasokan di tengah tingginya kebutuhan konsumsi. Dengan tren konsumsi beras yang masih mendominasi pola pangan masyarakat, peningkatan ketersediaan menjadi faktor krusial untuk menjaga tekanan harga di tingkat konsumen.
“Kenaikan suplai pada periode panen raya biasanya menekan harga gabah, namun pada sisi lain memberi ruang lebih besar bagi stabilisasi harga beras di pasar,” ucapnya.
Dia menambahkan struktur produksi yang kembali menguat memberikan peluang bagi pelaku distribusi dan mitra penggilingan untuk meningkatkan kapasitas operasional.
Pelaku usaha di sektor pangan dapat memanfaatkan momentum ini untuk mendorong integrasi pasar, termasuk pemenuhan kebutuhan antarwilayah yang kerap mengalami ketidakseimbangan stok.
Meski demikian, Agung menilai tantangan masih muncul pada aspek distribusi, khususnya saat panen melimpah. Penguatan sarana pengeringan, perluasan fasilitas penyimpanan, dan optimalisasi serapan oleh Bulog menjadi faktor penting agar petani tidak menghadapi tekanan harga berlebihan.***






