PetikHasil.id, SUKABUMI — Dulu, banyak orang beranggapan kurma hanya bisa tumbuh di tanah tandus Timur Tengah. Tapi di Desa Mekarsakti, Kecamatan Ciemas, Sukabumi, seorang petani muda bernama Alwi Rahmatullah (34) berhasil mematahkan keyakinan itu. Di lahan tropis yang dikelilingi bukit dan sawah, Alwi mengelola Kebun Kurma Ciletuh, perkebunan kurma tropis pertama di Jawa Barat yang kini jadi rujukan banyak petani muda Indonesia.
“Awalnya cuma iseng menyemai biji kurma dari sisa buah, ternyata tumbuh. Dari situ saya mulai belajar serius,” tutur Alwi saat ditemui Petik Hasil di sela-sela panen percobaan pertamanya.
Dari Eksperimen Pekarangan ke Lahan Tujuh Hektare
Perjalanan Alwi bermula pada 2013. Terinspirasi dari kisah sukses petani di Thailand yang berhasil membudidayakan date palm di iklim lembap, ia mulai mempelajari teknik penyerbukan dan adaptasi varietas tropis. Selama hampir sepuluh tahun, ia mengikuti pelatihan hortikultura, belajar langsung ke Malaysia dan Thailand, serta berkonsultasi dengan peneliti dari Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika (Balitbu Tropika) di Solok, Sumatera Barat.
Hasil riset Balitbu (2021) menunjukkan bahwa kurma jenis Phoenix dactylifera L. dapat tumbuh di Indonesia dengan beberapa penyesuaian: kebutuhan cahaya matahari penuh, drainase tanah baik, dan suhu ideal 22–32°C.
Kondisi geografis Ciemas yang berbukit dengan curah hujan sedang ternyata cocok untuk percobaan ini. “Awalnya saya pikir kurma butuh pasir. Ternyata yang penting bukan tanahnya, tapi pola drainasenya,” ujar Alwi.
Kini, Kebun Kurma Ciletuh berdiri di atas lahan tujuh hektare, menampung lebih dari 600 pohon kurma dari berbagai varietas, seperti Barhee, Ajwa, dan Khalas. Sebagian bibit diimpor langsung dari Inggris dan Irak yang telah disertifikasi bebas hama.
Pada tahun kelima, pohon-pohon itu mulai berbunga dan menghasilkan buah pertama. Hasil panen perdana 2022 mencapai 1,2 ton, sebagian besar dijual sebagai buah segar dan bibit unggul.
Meniru Langkah Thailand dan Malaysia
Keberhasilan Alwi tidak datang seketika. Ia mengaku banyak belajar dari pengalaman negara tetangga. Thailand, misalnya, melalui proyek Tropical Date Palm Development sejak 2009 telah membuktikan bahwa kurma bisa tumbuh subur di wilayah Chiang Mai dengan sistem irigasi tetes dan pemangkasan teratur.
Sementara Malaysia memiliki Pusat Penyelidikan Kurma Tropika di Kedah yang meneliti varietas Barhee dan Sukary yang paling adaptif terhadap iklim lembap.
“Saya belajar dari sana bahwa kuncinya ada di disiplin dan teknologi,” ujar Alwi. “Kalau suhu dan kelembapan dijaga, serta penyerbukan dilakukan tepat waktu, kurma di Indonesia bisa sama manisnya.”
Menurut data Kementerian Pertanian (Kementan, 2023), permintaan bibit kurma tropis meningkat 30% dalam tiga tahun terakhir, terutama di Jawa Barat dan Sumatera Selatan.
Tren ini menunjukkan adanya minat baru di kalangan petani muda untuk mengembangkan tanaman alternatif berdaya jual tinggi di tengah perubahan iklim dan fluktuasi harga hortikultura konvensional.
Adaptasi Kurma di Tanah Tropis
Salah satu tantangan utama membudidayakan kurma di Indonesia adalah perbedaan panjang hari dan kelembapan udara. Di Timur Tengah, kurma tumbuh optimal pada kelembapan 20–30%, sementara di Jawa bisa mencapai 70–80%.
Untuk mengatasi itu, Alwi menerapkan sistem parit mikro dan atap UV agar lahan tidak terlalu lembap. Ia juga memanfaatkan drip irrigation dan pupuk hayati lokal untuk menjaga kestabilan nutrisi.
Riset BRIN (2023) mendukung praktik tersebut. Menurut laporan lembaga itu, varietas Barhee dan Sukary mampu berbuah di suhu tropis jika dikelola dengan irigasi tetes dan pemangkasan daun secara rutin. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa produktivitas bisa mencapai 5–8 kg per pohon per musim pada usia tanam 5 tahun angka yang kini mulai dikejar Alwi di kebunnya.
Dukungan Riset dan Potensi Ekonomi
Data BPS 2024 mencatat Indonesia masih mengimpor lebih dari 60 ribu ton kurma kering per tahun, mayoritas dari Mesir, Tunisia, dan Arab Saudi. Nilai impor ini mencapai Rp1,3 triliun, padahal sebagian besar kebutuhan pasar dapat digantikan oleh varietas tropis lokal jika produksi nasional ditingkatkan.
Melihat potensi itu, Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian kini mulai memasukkan kurma tropis ke dalam program diversifikasi tanaman buah 2025–2030. Dalam laporan seminar Tropical Fruit Future yang diselenggarakan Kementerian Pertanian bersama BRIN pada 2024, disebutkan bahwa kurma berpeluang menjadi komoditas strategis baru karena permintaannya stabil dan bernilai tinggi di pasar domestik maupun ekspor.
Lembaga tersebut menilai, riset dan pendampingan teknologi perlu diperluas agar budidaya kurma tropis dapat dikembangkan secara berkelanjutan di Indonesia.
Bagi Alwi, peluang ini bukan sekadar bisnis. Ia ingin menjadikan kurma tropis sebagai simbol inovasi anak muda desa. “Kalau dulu orang pikir petani identik dengan lumpur, sekarang kita bisa buktikan petani juga bisa jadi peneliti,” ujarnya.
Petani Muda dan Regenerasi Desa
Perjuangan Alwi mencerminkan wajah baru regenerasi petani di Indonesia. Menurut BPS 2023, persentase petani berusia di bawah 35 tahun naik dari 8,6% menjadi 10,2% dalam lima tahun terakhir. Mereka bukan hanya menanam, tapi juga belajar teknologi, manajemen, dan pemasaran digital.
Di Kebun Kurma Ciletuh, Alwi melibatkan lebih dari 20 tenaga muda lokal dalam perawatan dan panen. Ia juga membuka pelatihan bagi pelajar SMK Pertanian dan mahasiswa yang ingin belajar agribisnis modern.
“Kalau petani muda nggak turun ke lahan, siapa yang terusin nanti?” katanya. “Saya cuma pengin buktikan kalau dari desa pun kita bisa bikin riset sendiri.”
Selain menjual buah segar, Alwi mulai mengembangkan produk turunan seperti sirup kurma dan bibit kultur jaringan bekerja sama dengan startup agritech lokal. Tahun ini, ia menargetkan produksi 3 ton kurma segar, sebagian untuk pasar dalam negeri dan sebagian untuk wisata edukasi di kawasan Geopark Ciletuh.
Tantangan dan Harapan
Menanam kurma di tanah tropis tentu bukan tanpa hambatan. Kelembapan tinggi kerap memicu serangan jamur pada akar dan daun. Selain itu, belum semua varietas mampu beradaptasi dengan baik terhadap curah hujan ekstrem.
Untuk itu, Alwi terus berkoordinasi dengan tim peneliti BRIN dan Kementan dalam uji varietas baru yang lebih tahan terhadap iklim basah.
Dukungan pemerintah daerah juga mulai terlihat. DPRD Sukabumi kini menjadikan kebunnya sebagai lokasi percontohan kurma tropis. Wakil Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Sukabumi, Andri Hidayana bahkan menyebut proyek Alwi sebagai “terobosan penting untuk pertanian masa depan Jawa Barat.”
Komoditas buah tropis bernilai tinggi
Keberhasilan Alwi Rahmatullah membuka jalan baru bagi komoditas buah tropis bernilai tinggi. Jika dikembangkan secara masif, kurma tropis dapat mengurangi ketergantungan impor dan memperluas lapangan kerja di daerah.
Berita Lainya: Kurma Tumbuh di Tepi Samudra Jawa: Kebun 7 Hektare di Sukabumi Siap Jadi Wisata Edukasi | Mitos atau Fakta: Kurma Muda Bikin Perkasa?
Dengan rata-rata harga pasar Rp120.000–150.000 per kilogram untuk kurma segar premium, potensi ekonomi per hektare bisa menembus Rp200 juta per musim. Lebih dari itu, kisah Alwi menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus datang dari laboratorium. Ia bisa lahir dari semangat petani muda yang berani mencoba hal baru di tanah sendiri.
Dari gurun Timur Tengah hingga kaki Ciletuh di Sukabumi, kurma membuktikan bahwa keajaiban tumbuh bukan hanya karena iklim, tapi karena ketekunan. Di tangan petani muda seperti Alwi Rahmatullah, kurma tak lagi sekadar buah Ramadan, melainkan simbol harapan baru bahwa masa depan pertanian Indonesia bisa semanis buahnya sendiri. (Vry)






