Petikhasil.id, BANDUNG – Jalan menuju lokasi ini tidak memberi isyarat apa pun tentang kuliner. Aspal menanjak di wilayah Cilengkrang, udara terasa lebih dingin, dan rumah warga berdiri berdampingan dengan aktivitas ternak. Tidak ada papan besar atau baliho mencolok. Begitu kendaraan berhenti, suara domba lebih dulu terdengar, baru kemudian aroma bumbu dari dapur sederhana menyusul. Di titik inilah pengalaman makan yang tidak biasa itu dimulai, menyantap sate dan sop domba langsung di area peternakan.
ABA Farm menempatkan ruang makannya tidak jauh dari kandang. Konsep ini mereka sebut warung kandang, sebuah ruang makan yang sengaja didekatkan ke sumber bahan baku. Menu yang disajikan pun tidak jauh dari olahan domba yang lazim dikenal, seperti sate, gulai, sop, hingga steak. Lokasinya berada di kawasan Nagrog Telok Dengklok, Ciporeat, Kecamatan Cilengkrang, Kota Bandung, dan dikenal lewat cerita dari mulut ke mulut serta media sosial.
Baca Lainya: Rayyan Farm: Strategi Breeding Domba Garut dan Dorper yang Beri Harapan Baru Petani. | Kisah perjalanan Syaiful dari pegawai swasta hingga sukses membangun Rayyan Farm.
Pengalaman yang ditawarkan bukan sekadar rasa. Di kota, banyak orang menikmati sate atau sop tanpa pernah melihat bagaimana ternak dirawat. Di tempat ini, jarak itu dipotong. Pengunjung datang, melihat kandang, pakan, dan aktivitas ternak, lalu duduk untuk makan. Ada sensasi yakin yang coba dibangun, bahwa daging yang tersaji berasal dari proses yang bisa disaksikan secara kasat mata.
Pengelola ABA Farm menyebut mereka sengaja menahan diri untuk tidak terburu-buru mengejar pasar. Di era digital, promosi bisa menyebar cepat, tetapi menurutnya itu justru berisiko jika produk belum benar-benar siap. Prinsip yang mereka pegang sederhana, produk harus kuat dulu, proses harus rapi, baru cerita disebarkan. Ketika orang datang karena cerita, pengalaman di lapangan tidak boleh mengecewakan.
Pendekatan itu terasa di warung kandang. Menu memang penting, tetapi yang dijual sebenarnya adalah transparansi. Pertanyaan yang paling sering muncul dari pengunjung bukan soal harga, melainkan soal kenyamanan, terutama bau kandang. Kekhawatiran itu wajar, karena kandang identik dengan aroma yang menyengat.
Menariknya, pengelola justru bercerita bahwa protes yang pernah mereka terima bukan soal bau. Pada 2022, sempat ada keluhan warga sekitar, tetapi karena suara domba yang berisik saat waktu makan. Ia mengingat bunyi domba yang serempak mengembik ketika pakan datang. Soal bau, menurutnya relatif aman karena penanganan kandang diperhatikan dan lingkungan Nagrog memang tidak asing dengan aktivitas peternakan.
Di titik ini, klaim tersebut tidak berdiri sendiri. Bau kandang umumnya berkaitan dengan pengelolaan kotoran dan urin, sirkulasi udara, serta kebersihan yang konsisten. Pengelola menyebut sumber utama bau berasal dari urin di bagian bawah kandang. Dua hal yang mereka jaga ketat adalah penanganan kotoran dan pengaturan pakan. Pakan yang baik, menurutnya, berpengaruh langsung pada pencernaan ternak dan karakter kotorannya.
Menjual Pengalaman dari Kandang ke Meja
Narasi makan di kandang juga terlihat jelas di media sosial ABA Farm. Beberapa unggahan menampilkan pengunjung yang makan dengan latar kandang, memberi kesan bahwa pengalaman ini memang dirancang, bukan kebetulan. Kandang tetap kandang, tetapi area makan ditata agar cukup nyaman. Batas itu penting, karena jika pengalaman dibiarkan liar, orang tidak akan betah.
Dari sisi menu, warung kandang ini mengandalkan olahan domba yang biasanya identik dengan acara tertentu, seperti hajatan atau momen besar. Di sini, menu itu dihadirkan sebagai santapan santai. Sejumlah pengunjung menyebut menunya lengkap, dari sate, gulai, sop, hingga steak, dengan daging yang empuk dan tidak berbau prengus. Pihak pengelola sendiri menegaskan bahan baku berasal dari peternakan mereka.
Pengelola juga menjelaskan bahwa mereka tidak langsung menyembelih domba yang datang dari luar, baik dari peternak lain maupun pasar hewan. Domba tersebut harus melalui proses penggemukan di kandang mereka. Alasannya bukan semata mengejar bobot, tetapi untuk mengontrol pakan dan kondisi ternak. Dengan cara itu, mereka merasa lebih yakin terhadap kualitas daging yang dihasilkan.
Baca Lainya: Rayyan Farm: Strategi Breeding Domba Garut dan Dorper yang Beri Harapan Baru Petani. | Kisah perjalanan Syaiful dari pegawai swasta hingga sukses membangun Rayyan Farm.
Di sini, dapur ditempatkan di ujung rantai yang sengaja dipendekkan. Pengunjung memang tidak melihat proses penyembelihan, yang tetap harus dilakukan secara higienis dan terpisah, tetapi mereka melihat ekosistemnya. Mereka melihat pakan, kandang, dan cara ternak dirawat. Bagi sebagian orang, itu sudah cukup untuk membuat pengalaman makan terasa berbeda dari rumah makan biasa.
Ada detail kecil yang memperlihatkan bagaimana pengelola memosisikan produknya. Ia bercerita pernah berjualan sate di pasar kaget Pasir Jati dan melihat praktik umum di lapangan, tusuk sate dimasukkan ke pepaya agar daging cepat empuk. Ia mengakui hasilnya empuk, tetapi memilih tidak memakai cara itu. Menurutnya, keempukan seharusnya lahir dari proses penggemukan dan pakan yang terkontrol, bukan dari jalan pintas di dapur. Dari situ muncul klaim tanpa pengempuk yang mereka pegang hingga kini.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi sebenarnya menunjukkan positioning usaha. Banyak orang masih takut pada rasa prengus dan tekstur alot ketika makan domba atau kambing. Warung kandang mencoba membalik ketakutan itu menjadi rasa aman, dengan menempatkan sumber keempukan pada proses budidaya, bukan pada trik olahan.
Hubungan dengan lingkungan sekitar juga menjadi perhatian. Pengelola menyebut sebagian keuntungan disisihkan untuk kegiatan sosial, sekitar 10 persen, yang digunakan untuk berbagi dengan warga, termasuk kegiatan Jumat berkah. Ia tidak menyebutnya sebagai strategi promosi, melainkan kebiasaan agar usaha tidak berdiri sendiri. Dalam usaha peternakan yang berdampingan dengan pemukiman, hubungan sosial sering kali menjadi penentu keberlanjutan.
Bagi Petikhasil.id, yang menarik dari warung kandang bukan hanya sensasi makan dekat domba. Yang lebih penting adalah pergeseran cara peternak membaca usaha. Peternak tidak lagi hanya menjual ternak sebagai komoditas hidup atau daging mentah, tetapi juga menjual pengalaman, kedekatan, dan cerita proses. Di era digital, cerita seperti ini mudah menyebar, cukup lewat satu video singkat yang memancing rasa penasaran.
ABA Farm sendiri membuka diri terhadap kunjungan kandang dan mengizinkan orang memilih domba secara langsung. Sikap ini sejalan dengan prinsip mereka, menyiapkan produk dan proses terlebih dahulu, lalu membiarkan digital mempertemukan mereka dengan pasar. Namun, konsep ini juga mengandung risiko. Jika kebersihan lengah, bau akan menjadi isu. Jika arus pengunjung tidak diatur, kenyamanan warga bisa terganggu. Pengalaman makan di kandang menuntut disiplin yang lebih tinggi.
Saat pengunjung menyeruput sop hangat dan menggigit sate, suara domba menjadi latar. Bagi sebagian orang, itu mungkin mengganggu. Bagi yang lain, justru itulah inti pengalaman, makan di tempat asalnya, bukan di ruang yang sepenuhnya steril. Warung kandang meminjam kenyataan peternakan, lalu merapikannya agar bisa dinikmati.
Jika konsep seperti ini terus berkembang, ia bisa membuka jalan baru bagi peternakan rakyat. Hilirisasi tidak selalu harus berupa pabrik besar. Kadang, nilai tambah lahir dari meja makan yang diletakkan lebih dekat ke kandang, lalu dijaga dengan disiplin dan kejujuran proses.






