Petikhasil.id, — Setiap 31 Desember, ada satu tanaman yang diam-diam menunggu waktunya sendiri. Bukan cabai, bukan daging, apalagi kembang api. Jagung. Di banyak kampung dan kota, jagung seolah punya jam biologis yang sama menjelang malam tahun baru, ia berpindah dari karung petani ke bara arang, dari kebun ke tusuk bambu, dari hasil tani menjadi ritual kebersamaan.
Di sentra jagung Jawa Barat, petani sudah hafal polanya. Dua sampai tiga hari sebelum pergantian tahun, telepon mulai ramai. Pedagang dadakan, pengepul kecil, hingga warung bakar menghubungi. Mereka tidak bertanya panjang yang dicari hanya satu jagung siap bakar, manis, pipilnya penuh, tidak terlalu tua. Waktunya sempit, permintaannya padat.
“Kalau buat malam tahun baru, biasanya minta jagung yang masih muda, jangan terlalu keras. Orang bakarnya juga buru-buru,” kata Asep, petani jagung di Cirebon Timur, kepada Petik Hasil. Ia mengaku panen sering dimajukan satu minggu lebih cepat demi mengejar momen tersebut. “Bukan soal untung besar, tapi jagungnya cepat habis.”
Berita Lainya: Pertanian Garut Jadi Lumbung Jagung Tapi Nilai Tambah Nihil | Bapanas Sebut Bulog Telah Serap Jagung 16.000Ton dalam Sebulan
Fenomena ini bukan kebetulan. Jagung bakar sudah lama menjadi ikon perayaan akhir tahun di Indonesia. Murah, mudah diolah, dan bisa dimakan bersama-sama tanpa sekat. Di halaman rumah, pinggir jalan, sampai lapangan kampung, jagung menyatukan orang-orang yang mungkin sepanjang tahun jarang duduk bersama. Dari sudut pandang pertanian, inilah momen langka ketika satu komoditas segar mengalami lonjakan permintaan yang ekstrem, tapi sangat singkat.
Kebutuhan Besar Jagung
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan produksi jagung nasional masih didominasi untuk pakan ternak. Pada 2023, lebih dari 60 persen jagung digunakan untuk industri pakan, sementara konsumsi rumah tangga relatif kecil. Namun di momen tertentu seperti tahun baru, porsi konsumsi segar melonjak tajam secara lokal. Pasar tradisional, lapak pinggir jalan, hingga pedagang musiman tiba-tiba membutuhkan jagung dalam jumlah besar dan cepat.
Di sinilah posisi petani sering kali unik. Harga di tingkat konsumen bisa naik dua kali lipat pada malam tahun baru. Jagung bakar yang biasanya dijual Rp5.000 bisa melesat jadi Rp10.000–Rp15.000 per tongkol. Namun di tingkat petani, kenaikannya tidak selalu terasa signifikan. Banyak transaksi terjadi dadakan, dengan harga borongan, dan posisi tawar petani sering kalah oleh waktu.
“Kalau sudah H-1, mau nggak mau kita lepas. Jagung nggak bisa disimpan lama,” ujar Ujang, petani di Subang. Ia menyebut kenaikan harga biasanya lebih dinikmati pedagang bakar. “Tapi saya nggak iri. Yang penting panen terserap, nggak busuk di kebun.”
Meski begitu, malam tahun baru tetap menjadi momen penting bagi ekonomi rakyat. Di satu tusuk jagung, ada rantai panjang yang bekerja. Petani menanam dan memanen. Pengepul mengangkut. Pedagang arang, tusuk bambu, mentega, dan saus ikut kebagian rezeki. Bahkan anak muda kampung yang biasanya menganggur, mendadak buka lapak dadakan semalam suntuk.
“Setahun sekali ini, Mas,” kata Rina, pedagang jagung bakar musiman di Bandung. Ia mengaku modalnya kecil, tapi perputaran cepat. “Jagung saya ambil dari petani Lembang. Malam itu saja bisa habis ratusan tongkol.”
Yang menarik, jagung dipilih bukan tanpa alasan. Dibanding singkong atau ubi, jagung lebih praktis. Waktu bakar singkat, rasanya konsisten, dan bisa dibagi rata. Dari sisi budaya, jagung bakar tidak menuntut kemewahan. Ia justru menguatkan pesan kebersamaan berdiri di dekat bara, menunggu giliran matang, saling mencicipi.
Bagi petani, momen ini juga menjadi pengingat bahwa pertanian tidak selalu bicara panen besar atau kontrak industri. Ada saat-saat tertentu di mana satu malam bisa menentukan arus kas. Beberapa petani bahkan mulai menyiasati pola tanam agar sebagian lahannya panen menjelang akhir tahun. Bukan untuk spekulasi besar, tapi untuk memastikan jagungnya masuk ke pasar konsumsi segar, bukan terserap murah ke pakan.
“Kalau bisa atur, kita senang. Tapi cuaca kan nggak bisa bohong,” ujar Asep sambil tertawa. Hujan yang terlalu deras di Desember sering membuat jagung rentan busuk atau pipilnya rusak. Risiko tetap ada, dan tidak semua petani berani mengambilnya.
Berita Lainya: Pertanian Garut Jadi Lumbung Jagung Tapi Nilai Tambah Nihil | Bapanas Sebut Bulog Telah Serap Jagung 16.000Ton dalam Sebulan
Di balik gemerlap kembang api, jarang ada yang memikirkan dari mana jagung itu berasal. Padahal, di kebun-kebun sederhana, ada kerja panjang berbulan-bulan yang berujung pada satu malam. Jagung yang dibakar habis dalam lima menit adalah hasil kesabaran petani yang menunggu hujan, mengatur pupuk, dan berjaga dari hama.
Malam tahun baru memang hanya sehari. Tapi bagi jagung, ia adalah panggung kecil yang membuktikan satu hal pertanian selalu punya cara sendiri untuk hadir di tengah kehidupan. Tidak selalu lewat headline besar atau angka ekspor, melainkan lewat asap tipis dari bara arang dan tawa orang-orang yang menyambut tahun baru dengan tangan hangat memegang jagung bakar.
Dan ketika jam menunjukkan lewat tengah malam, pesta usai, lapak ditutup, bara padam. Jagung kembali menjadi tanaman biasa. Tapi bagi petani, kenangan itu tinggal sebagai pengingat bahwa di satu malam paling bising dalam setahun, hasil kebun mereka pernah menjadi pusat perhatian meski hanya sebentar, namun penuh makna. (Vry)






